Kasepuhan Adat Sajira Harapkan Upacara Adat Ngembang Jadi Perhatian Pemerintah

Sajira, Satubanten.com – Salah satu upacara adat yang telah berlangsung sejak lama dan tetap terpelihara hingga saat ini yakni Ritual Adat Ngembang yang dilaksanakan oleh Kasepuhan Adat Sajira di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Pada tahun ini ritual Adat Ngembang telah berlangsung sejak awal bulan Juni lalu dan akan mencapai puncaknya pada hari Kamis (2/07) di  Desa Ciuyah, Kecamatan Sajira.

Ketua Kasepuhan Adat Sajira, Hasan Pasundan mengatakan bahwa prosesi Adat Ngembang di Kasepuhan Adat Sajira biasanya dilakukan di 8 Desa. Pada masing-masing Desa bisa terdapat 4 hingga 5 keramat yang bisa dikunjungi untuk pelaksanaan Upacara Adat Ngembang.

“Itu makanya cukup lama, sampai sebulan karena meliputi 8 Desa, tersebar di masing-masing desa bisa ada 4 sampai 5 kramat. Setelah semua upacara Adat Ngembang ini selesai, baru nanti ketua-ketua adat di masing-masing desa itu kita kumpulkan untuk membahas acara puncak,” kata Hasan kepada Satubanten.

Seusai upacara Adat Ngembang selesai, biasanya acara puncak berupa hiburan bagi masyarakat. Menurut Hasan, bentuknya bisa bermacam-macam, dari mulai Tabligh Akbar, Wayang Golek atau bahkan Jaipongan.

“Kalau yang besar itu, tapi karena kita biasanya dananya dari Swadaya masyarakat dan belum ada perhatian dari pemerintah maka kami seadanya saja,” tuturnya.

Hingga saat ini Upacara Adat Ngembang di Kasepuhan Sajira memang belum mendapatkan anggaran baik dari Pemerintah Kabupaten maupun dari Pemerintah Provinsi. Padahal menurut Hasan, Kasepuhan Sajira memiliki wilayah Upacara Adat yang lebih luas dibandingkan Kasepuhan lain seperti Kasepuhan Citorek, Cisungsang dan Cisitu.

“Padahal mah katanya sudah masuk dalam kalender wisata Kabupaten Lebak, malah katanya udah launching di Jakarta, tapi anggaran mah nggak ada yang turun sama sekali,” tuturnya.

BACA JUGA : Kasepuhan Adat Sajira Gelar Seren Taun

Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Pariwisata memang sempat membuat Calender Of Event (COE) Kabupaten Lebak sebagai salah satu trik pengembangan wisata. Acara Launching COE 2019 bahkan digelar meriah pada tahun 2018 lalu.

Dalam daftar COE 2019 Kabupaten Lebak memang tercantum Upacara Adat Ngembang sebagai salah satu acara bersama dengan acara Seren Taun di kasepuhan Citorek, Cisungsang dan Cisitu. Namun ketika merujuk COE 2020 di situs Dinas Pariwisata Provinsi, Ritual Adat Ngembang tak lagi ada dalam daftar tersebut.

Belum ada keterangan mengenai hal tersebut, baik dari Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten. Menurut Hasan, ada beberapa perwakilan yang datang saat upacara Adat Ngembang berlangsung, hanya saja pihak Dispar Lebak yang datang tersebut malah meminta Kasepuhan untuk membuat proposal pengajuan.

Ibu-ibu warga yang Ikut Dalam Melangsungkan Upacara Adat Ngembang Kasepuhan Sajira (Foto : SBS032)

“Kan jadi gimana, orang acaranya sudah masuk di kalender, waktunya juga sudah tahu tapi ini kita malah disuruh bikin proposal kan mulai dari nol lagi. Kalau harapan kami sebetulnya tidak muluk, hanya saja kalau memang sudah masuk di kalender di Dinas Pariwisata Kabupaten itu agar bisa dianggarkan berapa. Seperti Kasepuhan yang lain kan juga begitu,” tuturnya.

Meski hingga kini perhatian pemerintah belum terasa secara nyata, namun Hasan selaku kepala Adat Kasepuhan Sajira mengatakan bahwa pihaknya akan terus mempertahankan kelestarian adat Ngembang yang ada di Kasepuhan Sajira tersebut.

“Tapi meski belum ada bantuan dan perhatian dari pemerintah, kami akan terus melestarikan adat Ngembang ini karena memang warisan leluhur. Tapi alangkah lebih baik lagi jika pemerintah baik pemerintah Kabupaten Lebak maupun Pemerintah Provinsi Banten ikut serta turut andil dalam menjaga warisan adat dan budaya lokal yang merupakan identitas bagi Kabupaten Lebak sendiri maupun Provinsi Banten secara umum,” pungkasnya. (MIH/SBS)

You might also like
Comments
Loading...