Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

KAMMIPALA Jelajahi Alam dan Bhakti Angkatan dalam Ekspedisi Baduy Dalam

Indonesia terkenal dengan kentalnya adat istiadat yang masih dilestarikan oleh suku-suku yang ada, di antaranya yakni Suku Baduy. Suku ini terletak di sebelah barat pulau Jawa tepatnya di Lebak, Banten.  Suku Baduy juga disebut urang Kanekes.

Ada segudang pertanyaan yang masih menjadi misteri di masyarakat luar. Hal inilah yang mendorong AVARIMBA KAMMIPALA (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Pecinta Alam) 06 melakukan Bakti Angkatan dengan mengadakan Ekspedisi Baduy  Dalam dan bakti sosial bersama seluruh pecinta alam di Indonesia, 24 – 26 Januari 2020.

Desa Kanekes atau Baduy Dalam terdiri dari tiga kampung yakni kampung Cikeusik, Cikertawarna dan Cibeo. Dalam Ekspedisi tersebut, tim berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Aceh, Medan, Padang, Palembang, JABODETABEK hingga Malang ikut dalam ekspedisi ini. Tentu orang asli Banten pun ikut hadir ikut membersamai dalam ekspedisi ini.

Ekspedisi dimulai pada Sabtu, 25 Januari 2020. Seluruh Tim Ekspedisi bertemu di Stasiun Rangkasbitung. Tim inti ini berjumlah 15 orang, 13 orang berangkat terlebih dahulu ke Baduy Dalam melalui jalur Ciboleger dengan dipandu oleh Mang Juli penduduk asli Baduy Dalam. Tim ini berangkat pada pukul 14.00 WIB dari Ciboleger, sedangkan 2 orang menyusul melalui jalur Cijahe. Jalur Ciboleger dipilih karena konon treknya cukup kompleks dan paling cocok untuk menjelajah Baduy lebih dalam.

Sepanjang perjalanan menuju Baduy Dalam, seluruh awak tim dipaksa berhadapan dengan medan yang diguyur hujan. Hal ini menyebabkan jalanan menjadi lebih menantang untuk dilalui, jalanan tanah menjadi becek berlumpur, tanjakan menjadi lebih sulit didaki dan jalan batuan menjadi lebih licin. Akibatnya, perjalanan memakan waktu yang lebih panjang dari biasanya.

Dengan medan yang lebih ekstrim tersebut, seluruh awak tim Ekspedisi akhirnya sampai di Pemukiman Baduy Dalam sekitar pukul 20.30 WIB. Sesampainya di penginapan, Tim langsung ke sungai untuk membersihkan diri, melaksanakan sholat dan makan. Setelah itu, seluruh awak Tim bercengkrama dengan tuan rumah dan warga sekitar sambil menanyakan beberapa hal terkait kearifan lokal di Baduy khususnya Baduy Dalam.

Banyak pelajaran  yang bisa diambil dari kearifan lokal masyarakat Baduy khususnya Baduy Dalam. Seperti misalnya konsistensi masyarakat Baduy dalam menjaga kelestarian alam, dengan taat melaksanakan hukum adat. Contoh tindakan nyata yang konsisten dilakukan yakni tidak  membuang sampah sembarangan dan tidak menggunakan deterjen di sungai. Hal ini membuat sungai dan hutan tetap terjaga dan masih sangat asri.

Sungai di Baduy merupakan hulu sungai dari sungai Ciujung. Dalam tatanan masyarakat Baduy, sungai menjadi elemen penting kehidupan. Hal ini tercermin dari posisi Kampung yang dikelilingi oleh sungai.

Menjelang pagi, seluruh awak Tim Ekspedisi bersiap dan menelusuri tepian sungai, memperhatikan bangunan leuit atau lumbung padi, melihat balai adat dan rumah Pu’un atau pimpinan dari suku adat di kampung Cibeo. Namun sayang tim tak berhasil menemuinya dikarenakan Pu’un sedang pergi ke ladang dan hanya orang-orang tertentu saja yang dapat bertemu dengan Pu’un.

Tim juga menyusuri hulu sungai Ciujung namun ketika belum terlalu lama ada warga lokal yang menyarankan kami untuk kembali. Hal ini dikarenakan akses jalan yang masih dipenuhi semak-semak sehingga dikhawatirkan bisa tersesat.

Usai menjelajah sudut-sudut perkampungan Baduy Dalam, Awak Tim Ekspedisi mencoba menggali informasi lain tentang Baduy Dalam melalui Pulawari Jaro, yakni Ayah Ardi yang tak lain adalah ayah dari mang Juli. Salah satu yang menjadi topik yang digali oleh awak Tim Ekspedisi yakni peraturan tanah adat yang menjadi permasalahan suku Baduy Dalam.

Menurut penuturan Ayah Ardi, permasalahan tanah adat ini sudah dikomunikasikan oleh Jaro Baduy dalam ke pemerintah setempat hingga ke kementrian terkait di pusat sejak 2 tahun yang lalu. Namun, masyarakat Baduy Dalam belum mendapatkan respon yang pasti terkait hal tersebut. “Kami berharap pemerintah memberikan solusi terhadap masalah tanah adat ini, karena sudah 2 tahun kami menunggu jawaban dari pemerintah pusat maupun setempat,” ujar Ayah Ardi.

Pada akhir perbincangan, Ayah Ardi kembali berpesan pada para pengunjung Baduy Dalam agar senantiasa mematuhi hukum adat yang berlaku. Seperi misalnya, pengunjung tidak boleh mengambil foto, video dan sebagainya karena jika melanggar akan ada sanksi adat.

Puas bercengkerama dan menggali informasi, seluruh Awak Tim Ekspedisi akhirnya harus pulang, karena waktu kunjungan di Baduy Dalam juga dibatasi hanya sehari semalam saja. Seluruh awak tim Ekspedisi memeulai perjalanan pulang melalui jalur Cijahe. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam dan tiba di Cijahe pukul 15.30 WIB. Keesokan harinya, Awak Tim Ekpedisi melakukan Bakti Sosial sebagai bentuk kepedulian dan konsistensi sikap pengabdian AVARIMBA KAMMIPALA.

Ekspedisi AVARIMBA KAMMIPALA didukung oleh berbagai organisasi seperti Rumah KAMMI Peduli, KAMMI Pusat, KAMMI Daerah Cilegon, Lebak, Sukabumi, Mamuju Raya dan KAMMI Komisariat Adigama serta para donatur yang telah memberikan donasi terbaiknya untuk berjalannya kegiatan ini. Oleh karena itu, Ketua Umum KAMMI Pusat, Elevan Yusmanto, yang ikut dalam Ekpedisi merasa bersyukur dan berharap para peserta dapat terdidik jiwa sosial dan kearifannya.

“Alhamdulillah kami bersama KAMMIPALA  telah menyelesaikan Ekspedisi Baduy Dalam dan mempelajari untuk merawat alam sekitar mereka dan ini sebagai contoh yang baik untuk kita sebagai umat manusia untuk selalu melestarikan alam khususnya kader-kader KAMMIPALA,” tuturnya usai perjalanan Ekspedisi Baduy Dalam. (IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...