Jujun, Lulusan STM Pembuat Helikopter dari Sukabumi

Sukabumi, (20/11/2019), SatuBanten – Nama Jujun Junaedi akhir-akhir ini semakin popular dikalangan tetangganya di Sukabumi. Jujun memulai proyeknya sejak Agustus 2018, yakni membuat helicopter secara otodidak. Ia merakit helikopter di halaman rumahnya di Kampung Cibubuay, Desa Damareja, Kecamatan Nagrak, Sukabumi Jawa Barat.

Sehari-hari Jujun adalah seorang pekerja bengkel di Sukabumi, Jawa Barat. Ide pembuatan helikopter tersebut muncul saat ia sering melihat kemacetan lalu lintas di Karangtengah, Kecamatan Cibadak, tepatnya di depan bengkel Jujun bekerja.

Menurut Jujun, jika hari libur dan hari sabtu-ahad jalur jalan Cibadak macet hingga mnegular puluhan kilometer. Saat itu tercetus untuk membuat helikopter dengan biaya murah sebagai solusi sarana transportasi bagi masyarakat. “Kalau sudah macet di Cibadak, supir dan kenek bisa makan bakso dan ngopi dulu sambil nunggu macet berjam-jam,” ungkap Jujun.

Sejak dikerjakan tahun lalu, pembuatan helicopter, saat ini Jujun hanya tinggal menyelesaikan baling-baling utama yang masih dalam tahap pengerjaan dan modifikasi.

Jujun Junaedi adalah lulusan STM tahun 1996. Untuk membuat helikopter, ia melakukan riset secara mandiri dan melihat video dari Youtube yang menayangkan cara pembuatan helikopter. Ia juga berkonsultasi dengan rekan rejawatnya yang berprofesi mekanik alat berat. “Kalau video di Youtube itu tidak ada penuntasan sampai ukuran yang diberikan. Makanya, saya harus mengolah sendiri dan mencari informasi lebih detail,” tutur ayah tiga anak tersebut.

Jujun mengungkapkan bahwa ia belum pernah melihat dari dekat helikopter buatan pabrik. Padahal, ia ingin memiliki akses agar bisa melihat detail bagian dalam helikopter. Bukan hanya itu. Jujun juga berharap ada ahli pesawat terbang yang bisa memberikan masukan untuk helikopter rancangannya. “Saya terbuka bila ada ahli teknik penerbangan yang mau membantu penyempurnaan pembuatan helikopter ini karena saya belum pernah lihat dari dekat dan naik helikopter,” ujar Jujun.

Dalam membuat helicopter, Jujun dibantu kerabat dan anak laki-lakinya. Ia menggarap proyeknya tersebut hanya saat hari Ahad atau libur. Setahun membuat helikopter, Jujun telah menghabiskan dana sekira Rp 30 juta. “Makanya, proses pembuatan helikopter ini lama karena untuk membeli barang yang dibutuhkan harus menunggu waktu, perlu menyisihkan uang. Karena kan saya tidak mau mengganggu uang dapur,” tutur Jujun.

Mesin helikopter hasil kerja kreatif Jujun menggunakan mesin penggerak genset berkapasitas besar 24 PK, 700 cc, dan dua silinder berbahan bakar premium. Rencananya, akhir 2019 atau awal 2020 ini helikopter yang diberi nama Gardes JN 77 GM itu akan menjalani uji terbang.

Tim dari Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) akhirnya melihat aktifitas pembuatan Helikopter Jujun Junaedi di Kampung Cibubuay, Desa Darmareja, Kecamatan Nagrak, Sukabumi, Jawa Barat.

Dalam pantauannya, Tim LAPAN menilai masih perlu penyempurnaan lebih lanjut sebelum helicopter uji terbang. “Secara fisik yang kami melihat perlu penyempurnaan lebih baik demi keamanan dan keselamatan,” ungkap Teuku M Ichwanul Hakim, saat berkunjung di lokasi pembuatan helikopter di Nagrak, Selasa (19/11/2019).

Lapan hingga saat ini mengapresiasi Jujun yang membuat helikopter di Sukabumi. Ichwanul menilai, sebagian besar komponen sebagai persyaratan untuk terbang sudah lengkap. “Kalau lihat fisik secara teknis uji terbang belum dapat dilaksanakan. Ini karena saat helikopter terbang, banyak kondisi yang harus dipenuhi. Di antaranya terkait kemananan. Juga masalah kekuatan struktur utama, termasuk struktur baling-baling,” ungkap Ichwanul.

Meski demikian, Jujun merasa bersyukur telah diperhatikan oleh LAPAN. “Saya senang sekali dapat berdiskusi dan mendengar banyak masukan, soalnya saya selama ini otodidak. Insha Allah saya akan memperbaiki dan melengkapi apa yang dibutuhkan sesuai syarat keselamatan,” ungkap Jujun.

Jujun berharap helicopter buatannya dapat terbang dengan selamat dan tanpa hambatan apapun. (Heri/SBS)

You might also like
Comments
Loading...