Jokowi Dinilai Tidak Sungguh-Sungguh: Mahasiswa Geruduk Jalanan Kota Serang

Serang (11/10/2019) SatuBanten.com- Sekumpulan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Front Perjuangan Rakyat (FPR) Banten yang terdiri dari Front Mahasiswa Nasional (FMN), Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI), Serikat Demokratik Mahasiswa Nasional (SDMN), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) dan Pemuda Baru Indonesia (PEMBARU) menggelar aksi unjuk rasa pada Jum’at (11/10/2019) sore di depan kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Pakupatan, Serang.

Dalam aksi tersebut Rizal selaku massa aksi sekaligus orator mengawali orasinya dengan kekecewaan terhadap kebijakan presiden Joko Widodo yang tidak pro rakyat.

“Hari demi hari rakyat semakin gerah dan muak atas kebijakan dan tindakan pemerintah Jokowi yang semakin jauh dari kepentingan rakyat. Gelombang protes dan aksi massa terus membesar dan meluas menuntut pertanggung jawaban Jokowi atas kebakaran hutan dan korban asap, penghentian kekerasan dan adu domba Negara atas Rakyat Papua dan penolakan atas peraturan dan perundang-undangan yang semakin menindas”, tegasnya.

Mereka mengatakan bahwa sesungguhnya kebakaran hutan dan asap yang ditimbulkan bersumber pada monopoli tanah dalam sistem pertanian terbelakang yang melegalkan cara-cara murah dalam membuka lahan, dengan cara membakar. Pelaku utamanya adalah perusahaan-perusahaan perkebunan besar yang menerima Hak Guna Usaha (HGU) jutaan hektar dan dilindungi oleh pemerintahan Jokowi, Jokowi justru menangkap petani dan peladang kecil, namun bertekuk lutut dihadapan perusahaan besar pembakar hutan dan lahan.

“Di Papua, konflik yang ditimbulkan oleh pemerintah karena tindak kekerasan dan diskriminasi terhadap rakyat Papua terus memanas. Politik pecah belah terus dilakukan oleh pemerintah dengan mempertentangkan antara masyarakat asli Papua dengan pendatang. Sungguh politik yang picik dan keji dalam bingkai untuk melanggengkan konflik rasisme. Tindasan rezim terhadap rakyat Papua kembali merenggut jiwa, setidaknya ada 32 orang di Wamena yang diketahui menjadi korban kekerasan dan adu domba negara. Sementara itu, rakyat Papua terus direndahkan, didiskriminasi, dan dirampok kekayaan alamnya”, lanjut Rizal dengan lantang.

Disisi lain, demi memuluskan seluruh skema neoliberal dan pelayanan prima bagi imperialis, rezim Jokowi terus berupaya mengeluarkan rentetan aturan perundangan baru yang fasis. Rakyat digempur dengan rencana pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan baru, seperti RUU Pertanahan, Revisi UU Ketenagakerjaan, RKUHP, pengesahan UU KPK dan lain sebagainya.

Sebagai Koordinator Lapangan, Roy mengatakan bagaimana hari ini rakyat ingin perubahan dan muak dengan ketidakbecusan pemerintah yang membuat rakyat terus diperas dengan kenaikan harga, iuran BPJS yang naik, dan pajak yang terus memberatkan disaat rakyat tidak ditolong penghidupannya dan ditindas dengan undang-undang baru yang ditunggangi oleh kapitalis monopoli asing pimpinan Amerika Serikat dan kaki tangannya di Indonesia.

Lebih jauh lagi, pemerintah seperti biasa selalu menggunakan kekerasan dan intimidasi dalam merespon demonstrasi. Pemukulan, penangkapan, hingga penembakan menjadi cara yang digunakan pemerintah untuk meredam amarah dan ketidakpercayaan rakyat. Korbannya adalah ratusan mahasiswa berbagai kampus, menjadi korban dari kekerasan, penangkapan serta intimidasi. Bahkan dua mahasiswa (Randi dan Yusuf) Universitas Haluoleo Kendari meninggal dunia karena tembakan peluru tajam dari apparat kepolisian.

Kemudian Roy menjelaskan dengan runut tuntutan aksi unjuk rasa yang mereka lakukan sore itu dengan 10 poin penting

“Atas situasi yang terjadi belakangan ini, kami dari Front Perjuangan Rakyat Banten, menyatakan dukungan secara penuh bagi perjuangan dan tuntutan rakyat terhadap pemerintah Jokowi, dengan menyampaikan sikap dan tuntutan; pertama, padamkan api dan selamatkan korban asap, berikan perawatan gratis dan layak terhadap korban asap, serta bangun pusat rehabilitasi dan penanganan penyakit korban asap. Kedua, cabut segera izin HGU pemilik perusahaan pembakar lahan perkebunan serta tangkap dan adili. Ketiga, hentikan izin HGU baru bagi perkebunan besar! Keempat, batalkan segera RUU Pertanahan, RUU Ketenagakerjaan, RKUHP, UU KPK tanpa syarat serta laksanakan segera tuntutan rakyat yang menolak seluruh aturan dan perundangan yang semakin menindas dan merampas hak demokratis rakyat. Kelima, Jokowi harus bertanggungjawab atas meninggalnya 2 mahasiswa Universitas Haluoleo, Kendari. Keenam, pecat Menkopolhukam, Kapolri, Kapolda, dan Kapolres setempat yang bertanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa. Ketujuh, Jokowi harus segera menghentikan kekerasan negara dan pecah-belah terhadap rakyat di Papua! Tarik pasukan TNI-POLRI dari tanah Papua sebagai sumber kekerasan dan jatuhnya korban jiwa. Kedelapan, Jokowi harus penuhi tuntutan rakyat Papua tentang hak menentukan nasib sendiri sebagai jalan rakyat Papua menentukan masa depan secara mandiri sesuai aspirasinya. Kesembilan, Jokowi harus menghentikan kekerasan, intimidasi, pelarangan dan penangkapan terhadap rakyat dalam menyuarakan aspirasi hak demokratis rakyat. Kesepuluh, jalankan reforma agraria sejati dan pembangunan industri nasional”, tandas Roy.

Kemudian Roy mengajak kepada seluruh elemen bangsa agar saling bahu-membahu meringankan korban bencana asap dan menghimbau agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan.

“Bersama ini kami juga menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk membantu korban bencana asap sesuai kebutuhan, serta memperkuat persatuan rakyat dan membangun kekuatan yang terus membesar dan meluas”, lanjutnya. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...