Jazuli Juwaini : Jadikan Pancasila Sebagai Ideologi Pemersatu

Serang (11/9/2018) satubanten.com – Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini menjadi narasumber Seminar Nasional Kementerian Komunikasi dan Informatika RI dengan tema “Pancasila Sebagai Ideologi dan Pemersatu Bangsa” di Hotel Ledian Serang Banten (Minggu, 9/9). Narasumber lainnya Helmi Malik (Kemenkominfo) dan Muhammad Arif Kirdiyat (Ketua Yayasan Relawan Kampung Indonesia).

Di hadapan 200 an peserta dari kalangan tokoh masyarakat, ulama, dan pemuda itu, Jazuli menegaskan pentingnya penerapan Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa. Karena bangsa Indonesia menghadapi tantangan kebangsaan yang semakin kompleks ke depan, gesekan kerap terjadi di antara warga bangsa, yang jika tidak disikapi dengan bijak bisa menjadi benih-benih disharmoni bahkan disintegrasi.

“Pancasila adalah dasar negara kita yang menjadi identitas dan karakter bangsa Indonesia yang harus terus kita jiwai dan praktekkan dalam kehidupan bermasyarakat. Pancasila harus kita posisikan sebagai ideologi pemersatu, sebagai alat perekat persatuan, seluruh warga negara Indonesia,” kata Jazuli.

Anggota Komisi I ini menekankan pentingnya kembali menghayati dan menjiwai nilai-nilai Pancasila sebagai alat pemersatu karena demikianlah asal dan sejarah lahirnya Pancasila yang merupakan titik temu antara berbagai kepentingan wakil-wakil bangsa Indonesia.

“Banyak tantangan dan ancaman yang kita hadapi sebagai bangsa mulai dari dekadensi moral, budaya liberal tanpa batas, terorisme dan radikalisme, hoaks dan ujaran kebencian, gesekan sesama anak bangsa yang mengancam persatuan, dan lain sebagainya. Semua itu solusinya ada pada Pancasila jika kita mau kembali menghayati dan mengamalkannya secara konsekuen sebagai ideologi pemersatu,” kata Jazuli.

Anggota DPR Dapil Banten ini, mengajak hadirin untuk menjadikan Hari Pancasila ini sebagai momentum merekat persatuan, karena dengan bersatu kita dapat mengatasi atau menghadapi tantangan dan ancaman bangsa tersebut.

“Tidak mungkin kita dapat menghadapi ancaman kebangsaan tersebut jika ada yang merasa lebih hebat atau paling hebat dari warga negara lainnya. Termasuk merasa paling pancasilais sambil mendeskriditkan, mengalienasi, dan meminggirkan warga negara lain. Bangsa ini terlalu besar untuk dikelola sendirian, tapi harus dengan persatuan, musyawarah dan keadilan sesama warga bangsa,” pungkas Jazuli.

Jazuli menekankan, demikianlah para pendiri bangsa memberikan teladan bagi kita. Kerelaan berkorban demi bersatunya bangsa ini. Kerelaan untuk menerima perbedaan dan keberagaman bangsa ini. Tanpa itu, NKRI tidak akan pernah ada.

“Belajarlah dari tokoh-tokoh umat Islam dalam pembentukan UUD 1945, mereka rela menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi tetap bergabungnya saudara-saudara sebangsa dari indonesia timur,” tutupnya. (sbs028)

You might also like
Comments
Loading...