Jadi Zona Merah, SBMI Sebut Pemerintah Banten Abai Pada Nasib TKI

Serang (20/06/2019), Satubanten.com – Banten menjadi zona merah pemberangkatan TKI ilegal. Hal ini diungkapkan oleh Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Maftuh Hafi Salim mengacu pada data Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI.

“Mengacu data yang ada provinsi banten masuk zona merah. Dan dalam perlindungan TKI pemrov dinilai abai tidak pernah mau tahu nasib warganya yang bekerja di Timur Tengah menjadi korban perbudakan dan penjualan orang,” kata Maftuh.

Dia bahkan menyoroti beberapa wilayah di Serang yang disebut kampung TKI, salah satunya yakni Desa Lontar, Tirtayasa, Kabupaten Serang. Bahkan menurut Maftuh, setidaknya ada 400 buruh migran asal Banten masih terjebak di luar negeri.

“Kalau TKI yang belum dipulangkan, dari data SBMI itu sekitar 400 orang. Tersebar di Timur Tengah dan Malaysia,” imbuhnya.

Menurut Maftuh, TKI yang gagal dipulangkan tersebut karena berbagai sebab diantara yakni tidak memiliki biaya karena gaji tidak dibayar atau tidak memiliki dokumen karena berangkat secara ilegal. Beberapa perempuan asal Pandeglang juga tidak bisa pulang karena menjadi korban pengantin pesanan di Tiongkok.

Sementara TKI yang bisa dipulangkan seperti dilamsie dari Merdeka.com, ada 250 orang selama tahun 2018-2019. Dari jumlah tersebut sebanyak 17 orang di antaranya dalam kondisi mengalami luka akibat disiksa dan kekerasan seksual, hingga meninggal dunia karena dibunuh dan bunuh diri. Oleh karena itu dirinya merasa kesulitan mengatasi hal tersebut karena minimnya bantuan dari pemerintah.

“Selama ini pemerintah daerah tidak peduli baik pemerintah Kabupaten Serang maupun Provinsi Banten. Kami beberapa kali melayangkan surat audiensi ke Gubernur sampai detik ini tidak ada tanggapan,” pungkasnya. (IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...