Ini Dia Profil Dosen Indonesia Berprestasi di Jerman

Meski relatif baru mengajar di kampus Jerman, yakni kurang lebih tiga tahun, dirinya berhasil memperoleh predikat dosen terbaik. Selain menjadi dosen, Prof. Dr. -Ing. Hendro Wicaksono juga menjabat sebagai Head of Research Group for Intelligent Data Management for Industry 4.0 (INDEED) di Universitas Jacobs, Bremen, Jerman.

Sederet hasil riset Hendro juga diakui dan digunakan di banyak institusi di Jerman dan negara Eropa lainnya.

Hendro juga berbagi pengalaman saat mengajar di kampusnya di Bremen yang menurut pengakuannya sangat dinamis.

“Ada yang introver, ada yang kritis dan sering menyampaikan pendapat, ada yang lelet, ada yang nakal, suka bolos, atau datang sebentar lalu cabut,” demikian Hendro, yang tahun ini menyabet gelar dosen terbaik saat menceritakan ratusan mahasiswa yang diajarnya.

Mahasiswa-mahasiswa itu berasal dari lima benua, yang budayanya beda-beda. Mereka punya nilai-nilai dan informasi dari negara masing-masing yang bisa dibagi.

Sebagaimana mahasiswa di belahan dunia lainnya, ada saja mahasiswa internasionalnya pun yang nekat menyontek saat ujian. Mereka yang menyontek tentu langsung dinyatakan tidak lulus ujian.

“Mata kuliah saya itu terkenal agak susah isinya, karena di teknik industri kan biasanya orang-orangnya lebih generalis. Sedangkan latar belakang saya informatika, jadi mata kuliah yang saya ajar banyak hubungannya dengan matematika atau programming. Tapi, saya berusaha supaya mereka tertarik, dan ternyata saya dapat feedback positif. Umpan balik positif itu bukan berarti saya memberi nilainya gampang memberi nilai bagus, melainkan konten dan inspirasinya penting bagi mereka,“ tutur Hendro.

Inspirasi! Inilah salah satu kriteria, selain kualitas mengajar, yang membuatnya terpilih jadi dosen terbaik di universitas internasional di Bremen, berdasarkan umpan balik dari mahasiswa. Hendro dinilai sangat bagus dalam memotivasi dan memberikan inspirasi kepada mahasiswa supaya tertarik untuk belajar lebih dari yang disampaikan oleh dosen. Lebih jauh lagi, inspirasi tersebut membuat mahasiswa tertarik memilih jalur karier yang ada hubungannya dengan materi yang diajarkan.

Hendro merasa beruntung bisa mengajar di perguruan tinggi di Jerman yang menganut kebebasan bagi dosen untuk mengajar dan melakukan penelitian.

“Saya kadang-kadang mengoneksikan konten yang diajarkan dengan konteks Indonesia. Jadi misalnya saya mengajar smart city, itu saya koneksikan aplikasinya dengan konteks Indonesia. Mahasiswa dari Cina, dari India dari Eropa dapat juga saling berdiskusi, bagaimana perkembangan smart city di masing-masing negara. Jadi terjadi diskusi menarik di dalam kelas,“ papar Hendro.

Sejak tahun 2010 Hendro sudah aktif berkecimpung dalam kegiatan penelitian dengan bekerjasama dengan berbagai organisasi di Jerman, Uni Eropa, dan juga Indonesia. Tema penelitiannya berkisar pada manajemen data, manajemen pengetahuan dan kecerdasan buatan, beserta aplikasinya untuk tata kola penggunaan energi, optimasi proses di industri dan rantai pasok, termasuk juga smart city.

Penelitian yang dilakukannya mulai dari tingkat penelitian dan pengembangan, sampai tingkat inovasi.

“Hingga saat ini saya dan tim berhasil mendapatkan dana hibah penelitian dengan jumlah total sekital tiga juta euro,” ungkap Hendro yang merupakan lulusan S3 dari bidang informatika untuk teknologi mesin, di Karlsruher Institut für Technologie, Jerman, sebuah jurusan yang menurutnya belum ada di Indonesia.

Pada tahun 2013 ia mengembangkan sistem untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi berbasis artificial intelligence yang digunakan di beberapa apartemen di Jerman, di kompleks perumahan di Eindhoven Belanda, serta kompleks perkantoran di Sevilla dan Barcelona, Spanyol.

Tahun 2014 sistem tersebut dikembangkan lebih lanjut dengan fitur tambahan di telepon pintar dan penggunaan berbagai macam sensor. Hasilnya digunakan di beberapa kantor pemerintahan di beberapa kota di kawasan Nordbaden, negara bagian Baden-Württemberg Jerman. Riset sistem ini terus dikembangkan dan tahun 2015-2016 dan digunakan untuk sistem smart city di Cambridge, Inggris; Sevilla, Spanyol; dan Lizanello, Italia.

Selain mengajar dan mengambangkan riset di Jerman, Hendro Wicaksono juga tengah mengembangakan start up yang bergerak di bidang perlindungan lingkungan dan layanan kesehatan. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas kehidupan sosial dan lingkungan di Indonesia melalui pemanfaatan teknologi. Tidak hanya penguasaan teknologi yang menjadi fokus start up ini, tapi juga tata kelola organisasi dan bisnis yang menyertai teknologi tersebut supaya bermanfaat secara nyata.

“Menurut kami, mendirikan start up adalah salah satu jalan terbaik supaya pengalaman dari Jerman dan penguasaan teknologi dapat bermanfaat secara luas dan terukur di masyarakat. Jika start up tersebut sukses berarti masyarakat juga menerima ide dan teknologi yang kita usung,” ungkap Hendro.

Kiprah Hendro juga banyak diabdikan untuk kepentingan Indonesia. Hendro saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Pengurus Wilayah Khusus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jerman.

Selain itu, dia juga aktif sebagai ketua komisaris dan salah satu pendiri dua perusahaan rintisan teknologi di Indonesia, yang bergerak di bidang perlindungan lingkungan dan pelayanan kesehatan digital.

Dalam memperkuat kerja sama Indonesia-Jerman, Hendro saat ini menjadi penasihat komunitas startup gabungan Indonesia-Jerman, IndoHub.

Di organisasi Ikatan Ahli Sarjana Indonesia (IASI) Jerman, Hendro menjabat Koordinator Divisi Pendidikan. Tak hanya di bidang ilmiah, Hendro juga aktif di organisasi keagamaan.

Sejak 2019, Hendro menjabat anggota Dewan Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman dan aktif di Komunitas Muslim berbahasa Jerman di Karlsruhe (DMK).

(Dok.Berbagai Sumber)

You might also like
Comments
Loading...