Indepedensi Pengelolaan Pulau Merak Kecil

Pengembangan wisata untuk kesejahteraan masyarakat adalah tanggung jawab pemerintah sebagaimana diamanatkan Undang-undang. Minimnya peran pemerintah tidak menjadi penghalang masyarakat untuk mengembangkan potensi wisata di daerahnya.

Cilegon merupakan salah satu Kota yang memiliki potensi besar di Provinsi Banten. Kota ini dikenal dengan sebutan “Kota Baja” karena menjadi salah satu penghasil baja terbesar di Asia Tenggara.

Namun siapa yang mengira di balik julukannya sebagai “Kota Baja”, Cilegon juga memiliki wisata alam yang tidak kalah indah dibandingkan destinasi wisata lainnya di Indonesia. Pariwisata di ujung barat laut pulau Jawa, dan di tepi Selat Sunda ini bukan hanya kawasan Pantai Anyer saja, melainkan juga Pulau Merak Kecil yang berada di lingkungan Sukajadi, Kelurahan Mekarsari Kecamatan Pulo Merak, kota Cilegon.

Kini Pulau Merak Kecil mulai ramai dikunjungi wisatawan terutama pada akhir pekan. Untuk dapat berkunjung kesana, wisatawan tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Hanya dengan uang Rp 15.000,00 saja wisatawan akan diantar dan dijemput kembali dengan perahu-perahu nelayan milik warga setempat.

Setibanya di Pulau Merak Kecil, wisatawan akan disuguhi deburan ombak  air laut yang jernih berwarna biru dan pasir putih yang bercampur dengan karang. Di sana juga disediakan tempat santai yang dilengkapi dengan ayunan tidur gantung (hammock). Selain itu tersedia juga spot forografi dan snorkling.

Wisatawan tidak perlu takut kelaparan atau kehabisan stok makanan dan minuman saat berada di Pulau Merak Kecil, karena sudah tersedia beberapa warung yang menjual makanan dan minuman. Bahkan wisatawan dapat melihat keindahan pulau sambil menikmati hangatnya jagung bakar di tepi pulau.

Melihat kondisi Pulau Merak Kecil yang mulai ramai dua tahun terakhir, tentunya tidak lepas dari peran beberapa anak muda pecinta pulau yang tergabung dalam komunitas “Anak Pulo”. Dalam mengembangkan Pulau Merak Kecil, komunitas “Anak Pulo” tidak lepas dari hambatan, salah satunya yaitu keterbatasan fasilitas yang mereka miliki. Hingga saat ini mereka baru bisa mempromosikan destinasi wisata melalui media sosial instagram mereka yaitu @anakpulo.

Sejauh ini mereka mengaku tidak menerima bantuan dari pemerintah, hal ini dikarenakan kekhawatiran akan adanya oknum-okum yang tidak bertanggung jawab. Namun bukan berarti pemerintah bisa lepas tangan begitu saja, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang 1945 No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

Dalam pasal 17 disebutkan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mengembangkan dan melindungi usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi dalam bidang usaha pariwisata dengan cara: (1) Membuat kebijakan pencadangan usaha pariwisata untuk usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi. (2) Menfasilitasi kemitraan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi dengan usaha skala besar.

Pemerintah dalam hal ini tentu dapat membantu dari beberapa segi. Misalnya dari segi fasilitas dan promosi yang masih menjadi hambatan bagi mereka dalam mengembangkan Pulau Merak Kecil. Dengan bantuan tersebut diharapkan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Dengan promosi yang massif, tentunya pengunjung yang datang akan semakin banyak. Hal ini akan berdampak pada peningkatan penghasilan masyarakat setempat, mengingat sebagian besar masyarakat setempat sangat bergantung pada Pulau Merak Kecil. Sebagaimana tujuan awal pariwisata yakni untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menghapus kemiskinan, dan mengatasi pengangguran.

Tidak adanya bantuan bukan berarti menjadi hambatan untuk mengembangkan potensi sumber daya alam yang ada. Masyarakat terbukti mampu mandiri ketika mereka mempunyai keinginan yang dilakukan bersama-sama. Masyarakat terbukti mampu mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam dengan menjadikannya sebagai destinasi wisata.

Lewat Komunitas “Anak Pulo” inilah Pulau Merak Kecil dapat berkembang meskipun tidak menerima bantuan pemerintah. Ini bisa menjadi inspirasi bagi warga-warga di sekitar pulau lain yang belum mengangkat potensi yang dimilikinya untuk menjadi suatu destinasi wisata sehingga dapat bersaing dengan destinasi wisata lain yang popular di Indonesia.

 

Ronaldo Krisna dan Risnarulitakeduanya adalah mahasiswa semester 5 Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta)

*(IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...