Indahnya Mudik Lebaran

Oleh : Komaruddin Hidayat, Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

MUDIK Lebaran itu mengasyikkan. Banyak penjelasan mengapa orang ramai-ramai pulang mudik untuk ber-Lebaran di kampung. Di antaranya ialah untuk berkumpul keluarga di hari yang istimewa itu. Terlebih bagi mereka yang masih punya orangtua, kerinduan untuk bertemu mereka menjadi dorongan utamanya.

Bernostalgia tapak tilas masa-masa remaja di desa itu serasa rekreasi emosional menembus waktu ke masa silam yang begitu terasa indah melankolis setelah lama berlalu. Begitu besarnya arus dan gelombang mudik, sampai-sampai pemerintah menaruh perhatian istimewa untuk memfasilitasi acara pesta budaya ini.

Sejak dari perbaikan jalan darat, laut, dan udara, semuanya disiapkan sebaik mungkin. Tidak ketinggalan polisi dikerahkan untuk turut menciptakan keamanan dan kenyamanan perjalanan mudik. Tentu saja yang paling heboh ialah penduduk Pulau Jawa, yakni mudik ini telah mentradisi kuat, yang sekarang tradisi ini menular sampai ke luar Jawa.

Ada ungkapan klasik, manusia itu Homo festivus, yakni makhluk yang senang festival. Begitu banyak ragam festival, termasuk festival yang bernuansa keagamaan. Ramai-ramai merayakan Lebaran Idul Fitri bisa juga tergolong festival. Pada setiap festival ada pola yang ajeg, yang dilakukan berulang-ulang secara masif pada momen-momen tertentu, beramai-ramai dalam suasana kegembiraan. Ada lagi yang mengatakan, manusia itu makhluk peziarah. Wanderer or traveler being, yakni senang melakukan perjalanan atau jalan-jalan. Setiap datang hari libur, agenda utamanya jalan-jalan, rekreasi.

Tanpa dirancang sebelumnya, secara serempak dan akumulatif masyarakat ramai-ramai merayakan Lebaran menjadi sebuah festival dengan beragam dimensinya. Secara religius pada malam sebelum Lebaran, suara takbir bergemuruh memenuhi langit Indonesia, terpancar dari masjid, jalan-jalan, televisi, dan radio. Menjelang Lebaran, prosesi kendaraan memenuhi jalan raya bagaikan semut, masing-masing punya tujuan berbeda. Namun, pada umumnya menuju kampung halaman masing-masing. Setelah ber-Lebaran di kampung, kembali lagi konvoi kendaraan memadati jalan menuju kota-kota besar untuk kembali bekerja. Itu sebuah peristiwa budaya yang dilakukan rakyat secara spontan, masif, bukan ciptaan negara.

Bagi para wakil rakyat dan pejabat tinggi negara, bertemu warga desa tentu sangat berarti kalau saja dijadikan sarana dengar pendapat, bicara dari hati ke hati. Tentu saja, warga desa tidak mau merusak suasana Lebaran dengan menyampaikan keluh kesah hidup mereka. Namun, politisi yang memiliki kapasitas sebagai pengamat dan peneliti sosial, kalau saja mau tentu akan sangat mudah membaca dan mengamati kondisi sosial rakyat. Sejak dari kondisi jalan, bangunan sekolah, pertanian, pertumbuhan penduduk, pusat-pusat ekonomi, pengangguran, dan berbagai aspek lain akan mudah ditelusuri datanya. Namun, lagi-lagi, kalau mereka memang memiliki kepekaan dan kepedulian rakyat.

Keselamatan sosial

Suasana psikologis setelah berpuasa sebulan dan saling memaafkan mendatangkan rasa lega. Berbagai ganjalan di hati terasa hilang atau berkurang. Paling tidak untuk sesaat. Namun, perlu diingat bahwa hubungan dengan Tuhan dan kekeluargaan serta perkawanan sifatnya lebih pribadi, tidak berarti menyelesaikan persoalan yang menyangkut utang atau urusan perdata serta pidana. Terlebih lagi, jika seseorang terlibat korupsi, tindakan dosa dan pidana di hadapan publik dan negara, tidak akan selesai urusannya dengan jalan saling memaafkan. Semoga saja dengan sebulan berpuasa hati dan pikirannya menjadi bersih jernih sehingga kalau dirinya merasa punya utang pada negara atau rakyat, tergerak untuk segera membayarnya. Kalau ada uang hasil korupsi segera dikembalikan pada kas negara agar puasanya sempurna dan diampuni dosa-dosanya.

Tak bisa dimungkiri banyak nilai dan sikap yang mulia berkat berpuasa dan ber-Lebaran. Namun, tujuan puasa ialah untuk meraih keselamatan pribadi, lalu merambah ke ranah keselamatan sosial. Keselamatan pribadi agar terhindar dosa dan siksa neraka. Adapun keselamatan sosial ialah dengan mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan kedamaian. Keselamatan sosial inilah yang mesti menjadi agenda semua orang beriman yang juga menjadi tugas serta tanggung jawab negara untuk mewujudkannya. Meski kita ramai-ramai berpuasa dan ber-Lebaran, kalau tidak sanggup mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan kedamaian, masyarakat akan tetap resah gelisah dan kacau. Itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan memperbanyak doa dan ritual.

Kita semua berharap bahwa perilaku santun, damai, dan mampu menahan diri dari berbagai godaan duniawi bukan sekadar interval sesaat, melainkan merupakan jati diri dan komitmen bersama sebagai modal tekad dan kekuatan untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang bersih. Sudah dapat diduga, setelah Lebaran, suasana akan kembali seperti sedia kala.

Wacana politik jelang pilkada serentak akan mengemuka. Berita korupsi belum juga lenyap meski rakyat sudah merasa bosan dan lelah. Namun, apa boleh dikata, kita jangan sampai lelah dan putus asa untuk mendukung setiap upaya untuk memberantas korupsi yang kian berani dan melebar ke mana-mana. Apa yang akan kita banggakan sebagai warisan pada anak cucu kalau ternyata mereka justru akan mendapatkan kondisi bangsa yang amburadul akibat korupsi yang dilakukan orangtuanya?

Sebuah imbauan, media publik jangan terlalu didominasi pemberitaan sensasional yang membuat emosi rakyat letih tanpa diimbangi penalaran kritis yang memberikan harapan dan bangkit ikut melawan korupsi serta memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Diharapkan jajaran intelektual juga ikut bicara menyampaikan kritik serta saran agar muncul optimisme yang beralasan melihat hari esok. Jangan biarkan politisi hanya sibuk mempersiapkan diri menghadapi pilkada yang akan datang sehingga lupa melaksanakan janji dan sumpahnya untuk memajukan bangsa, melayani rakyat.

Keselamatan akhirat

Ramadan dan Lebaran bukanlah momen untuk menghibur diri karena merasa dosanya sudah terputihkan. Salah satu pesan dan tujuan puasa ialah untuk memutihkan dosa pribadi dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan yang berdampak pada penguatan komitmen untuk membangun kefitrian sosial, yaitu kehidupan yang selalu berorientasi pada kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kedamaian. Puasa Ramadan menjadi cara serta latihan untuk mengukur seberapa besar pengendalian emosi, intelektual, dan spiritual manusia ketika memasuki kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang semakin plural dan bergerak cepat. Agama sangat menekankan pada pemeluknya untuk menciptakan keseimbangan hidup, kebaikan dunia, dan keselamatan akhirat fiddunnya hasanah wa fil akhirati hasanah. Kebaikan dunia antara lain berupa kehidupan yang damai, adil, sejahtera, dan produktif, serta bermakna bagi masyarakat luas. Selanjutnya, keselamatan akhirat merupakan buah dari amal salehnya selama hidup di dunia.

Acara ber-Lebaran dan halalbihalal di kantor-kantor tentu bagus untuk menjaga hubungan sosial yang hangat dan saling memaafkan. Namun, itu sama sekali bukan pemutihan dosa-dosa pejabat terhadap negara dan rakyatnya. Korupsi tak akan menjadi putih dan tutup buku dengan pulang mudik Lebaran serta halalbihalal.

Dalam ucapan Idul Fitri terkandung pesan moral, mari kita rayakan kemenangan kembali ke fitrah kita. Fitrah manusia itu selalu merindukan kebaikan, kebenaran, keindahan, kedamaian, dan kemerdekaan jiwa. Kelima nilai itu selalu kita dambakan, kita akan sedih dan nurani akan berontak ketika kelimanya terampas dari hidup kita.

You might also like
Comments
Loading...