Hukum Menangisi Dan Mengiringi Jenazah

Oleh : Nur Alif Setiawan

OPINI satubanten.com – Sebagai makhluk yang diciptakan secara sempurna, tentunya kita memiliki nyawa yang akan dicabut kapan saja sesuai kehendak Allah SWT. Ketika sanak saudara kita meninggal dunia, pasti ada rasa sedih yang mendalam bahkan sampai menangis. Tapi rasa sedih seperti apa yang di perbolehkan agar tidak menggangu atau menambah siksa si mayit di alam akhirat. Disini akan dibahas bagaimana hukum menangisi dan mengiring jenazah. Diharamkan bagi siapa pun untuk menangisi jenazah dengan suara yang kencang ataupun dengan teriakan. Adapun mengucurkan air mata tanpa suara isak tangisan sama sekali, maka seluruh ulama sepakat bahwa hal itu diperbolehkan. Mengiringi jenazah hukumnya sunnah, Dianjurkan pula agar para pengiring jenazah mengiringinya dengan berjalan kaki.

Pendahuluan
Pembahasan mengenai ilmu fiqih itu sangatlah luas. Sebab satu masalah dalam fiqih bisa bercabang hingga menjadi banyak. Salah satunya yaitu tentang mengurusi jenazah dan materi yang bercabang yaitu hukum menangisi dan mengiringi jenazah. Dengan adanya artikel ini, dimaksudkan agar pembaca lebih memahami ajaran Islam yang lazim ditemui di lingkungan sekitar yaitu mengurus jenazah. Pengantar jenazah adalah pemberi syafaat, oleh karena itu dianjurkan bagi mereka untuk berada di bagian depan jenazah, baik dengan cara berjalan kaki ataupun berkendara.

Mengiring Jenazah
Menurut para ulama, mengiringi jenazah hukumnya sunnah. Pengantar jenazah adalah pemberi syafaat, oleh karena itu dianjurkan bagi mereka untuk berada di bagian depan jenazah, baik dengan cara berjalan kaki ataupun berkendara.

Dianjurkan pula agar jarak antara pengiring jenazah dengan jenazahnya tidak terlampau jauh. Namun madzhab Maliki tidak setuju,Karena menurut mereka hal itu tidak termasuk yang dianjurkan dalam mengiringi jenazah.

Dianjurkan pula agar pengiring jenazah berjalan agak cepat, yakni sedikit lebih cepat dari cara berjalan biasa namun sedikit lebih lambat dari jalan cepat.

Dimakruhkan bagi wanita untuk ikut mengiringi jenazah, apalagi jika keikut sertaannya dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah, jika demikian maka ia diharamkan untuk mengiring jenazah.

Dimakruhkan pula bagi para pengiring jenazah atau siapa pun untuk membawa tempat pembakaran kayu gaharu (untuk wewangian) ataupun lilin di sepanjang perjalanan, karena sebuah riwayat menyebutkan,

ولا تَتَّبِعُوا الجنازةَ بصوتٍ ولا نارٍ
“Janganlah kalian mengiringi jenazah dengan bersuara ataupun dengan membawa api.”
Apabila ada keluarga jenazah terdapat kemungkarary misalnya mengiringi jenazah dengan musik atau juga berlebihan dalam meratap,Maka bagi para pengiring lainnya untuk berusaha keras melarang dan menghentikan perbuatan orang tersebut.

Jika ada jenazah yang akan dibawa ke pemakamary maka paling afdhal bagi pengiring untuk mengantarkannya sampai ke pemakaman dan menunggu hingga proses pemakaman selesai, namun tidak dimakruhkan sama sekali baginya untuk pulang sebelum itu, atau bahkan sebelum pelaksanaan shalat jenazah menurut madzhab Asy-Syaf i dan Hambali.

Disunnahkan agar pengiring tidak duduk terlebih dahulu sebelum jenazah dimasukkan ke dalam liang lahatnya.

Selain itu, apabila ada sekelompok orang sedang duduk lalu ada iring-iringan jenazah yang lewat di depan mereka, maka dimakruhkan bagi mereka untuk berdiri. Ini menurut tiga madzhab selain madzhab Asy-Syaf i, sedangkan menurut pendapat yang diunggulkan dalam madzhab Asy-Syaf i, dianjurkan bagi sekelompok orang itu untuk berdiri ketika melihat ada iringan jenazah yang lewat di dekat mereka.

Menangisi Jenazah
Menurut madzhab Maliki dan Hanafi, diharamkan bagi siapa pun untuk menangisi jenazah dengan suara yang kencang ataupun dengan teriakan. Namun menurut madzhab Asy-Syafi’i dan Hambali hal itu boleh-boleh saja dilakukan.

Menyebut-nyebut kebaikan jenazah atau sifat yang baik darinya sambil menangis maka hukumnya tidak diperbolehkan, Misalnya dengan mengatakan, “Ah, dia itu adalah tulang punggung keluarga,” ataru” Ah, dia itu sangat dermawan orangnya,” atau semacam itu.

Tidak diperbolehkan juga meratapi kepergian jenazah dengan menampar-nampar pipi dan merobek-robek kerah baju, atau semacamnya, Karena dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi bersabda,” Agama islam tidak mengajarkan sama sekali berduka dengan menampar pipi sendiri, Merobek pakaian, dan berperilaku seperti kaum jahiliyah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Selain itu, pada dasarnya jenazah tidak akan disiksa dengan tangisan keluarga yang ditinggalkan olehnya, namun jika dia berwasiat agar keluarganya menangisi kepergiannya, itulah yang menyebabkan dirinya akan tersiksa nanti, atau jika dia merasa yakin bahwa keluarganya akan menangisi kepergiannya dan yakin pula jika dia berwasiat agar mereka tidak menangis maka mereka akan mematuhi permintaannya dan melaksanakan wasiat itu, jika demikian maka dia diwajibkan untuk berwasiat kepada keluarganya untuk tidak menangis, apabila dia tidak berwasiat seperti itu maka dia juga akan tersiksa dengan tangisan keluarganya ketika dia meninggal dunia.

KESIMPULAN
Menangisi jenazah secara berlebihan seperti teriak dengan keras dan juga menampar-nampar pipi itu tidak diperbolehkan karena islam tidak mengajarkan sama sekali berduka seperti itu.
Tradisi mengiring jenazah dengan berdzikir dengan keras telah dalam pandangan syariat adalah makruh. Hukum makruh tersebut telah disepakati oleh madzhab Al arba’ah. Sebagian ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa untuk zaman sekarang ini hukumnya adalah sunnah, sebab hal itu telah menjadi syiar bagi mayit, jika ditinggalkan tentunya akan mempermalukan mayit tersebut, dan lagi dengan berdzikir justru lebih menjauhkan dari ucapan-ucapan yang tidak berfaedah saat mengiring mayit (jenazah).

UCAPAN TERIMA KASIH
Tiada kata yang pantas terucap selain rasa syukur kehadirat Allah SWT. Berkat limpahan rahmat dan kasih sayangnya penyusun mampu menyelesaikan artikel yang berjudul “Hukum Menangisi dan Mengiring Jenazah” dengan baik.
Penyusun menyadari masih banyak kekurangan pada karya ilmiah ini. Namun berkat berkah Allah SWT dan bantuan dari berbagai pihak sehingga pembuatan artikel ini berjalan dengan baik.

Catatan : Tulisan beserta foto diatas merupakan tanggungjawab penulis, bila ada plagiat atau copy paste.

You might also like
Comments
Loading...