Hukum Berjualan Siang Hari di Bulan Puasa

Serang (02/06/2018) SatuBanten News – Puasa adalah ibadah milik Allah SWT. Padanya terhadap pahala yang sangat besar.
Puasa juga dapat melatih setiap muslim untuk lebih bersabar dalam memikul hal-hal yang berat. Menjaga lisan, pandangan dan segala perbuatan dari hal-hal negatif yang akan membatalkan puasa.

Hukum puasa di bulan Ramadhan ini wajib bagi setiap muslim. Hal itu ditegakkan dalam al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah SWT. Berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 185 yang artinya: “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusaia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda antara yang haq dengan bathil. Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu maka hendaklah berpuasa.”

Namun, dibalik banyaknya berkah dan pahala di Bulan puasa. Ada juga masalah yang kerap terjadi terkait para penjual makanan di siang hari disaat umat muslim sedang menjalankan ibadah puasa, bahkan tak jarang ada oknum-oknum tak resmi yang merazia para penjual di pinggir jalan seperti warteg.

Menurut penjelasan dari Ustadz Muhammad Raudhoh terkait hukum para penjual makanan di siang hari saat Bulan puasa, Keterangan “Dari setiap tindakan yang berakibat kearah maksiat”. Seperti menjual tunggangan pada orang yang akan membebaninya diluar batas kemampuannya, menjual sahaya wanita untuk menyanyi yang diharamkan, menjual kayu pada orang yang akan memakainya untuk alat malaahi, dan seperti orang muslim dewasa yang memberi makanan pada orang kafir dewasa disiang hari ramadhan, begitu juga menjual makanan bila yakin atau menduga kuat ia akan memakannya disiang hari ramadhan. [ I’aanah at-Thoolibiin III/24 ].

“Jual makanan boleh kalau yang beli orang kafir anak2 kecil dan wanita haid, sehingga mempermudah mereka untuk memenuhi kebutuhan makanan”. Jelasnya

Semoga Ramadhan ini membuat kita lebih teliti dan arif dalam melihat segala sesuatu, termasuk hukum yang masih dalam perbedaan di kalangan ulama. Agar tidak menyebabkan perpecahan antara ummat beragama. Dan kita tetap bisa saling menghormati. Wallahu a’lam bisshowab. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...