Hiruk Piruk Pandemi Covid-19 : Lingkungan Membaik Atau Justru Memburuk ?

Elsa Rachma Tiana
(Universitas Sultan Agent Tirtayasa)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Satubanten.com-  Sudah satu tahun lebih dunia menghadapi krisis yang belum juga berkesudahan. Krisis yang begitu berdampak pada berbagai sektor seperti pendidikan, ekonomi, pariwisata, maupun sosial dan politik ini disebabkan oleh wabah Corona virus Disease 2019 (Covid-19).

Covid-19 pertama kali diumumkan pada bulan Januari 2020 oleh WHO (World Health Organization) yang berasal dari pasar makanan laut, Hunan di Kota Wuhan, Cina. Covid-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh sindrom pernapasan akut parah (SARS-CoV-2). Penyakit ini dapat menular dari satu manusia ke manusia lain baik itu melalui kontak langsung maupun melalui cairan yang keluar dari orang yang terpapar, seperti bersin, batuk, maupun berbicara.

Gejala yang akan timbul ketika seseorang terpapar Covid-19 adalah demam tinggi, batuk, sakit tenggorokan, sesak nafas, lemas, dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Per tanggal 10 Maret 2021, kasus Covid-19 di seluruh dunia telah mencapai 118,125,509 (118 juta) kasus, dengan 2,620,424 meninggal dunia dan 93,815,130 pasien berhasil sembuh di 222 Negara terjngkit. Namun hingga saat ini, belum ditemukan vaksin yang benar-benar dapat membunuh Virus secara keseluruhan.

Baca juga : Perubahan Lingkungan Akibat Covid-19

Nampaknya, adanya pandemi Covid-19 yang terjadi telah membawa dampak yang begitu besar terhadap lingkungan. Sejak diumumkan oleh WHO sebagai keadaan darurat kesehatan, banyak negara langsung melakukan berbagai kebijakan guna mencegah penyebaran Covid-19 yang dimulai dari karantina wilayah, sehingga segala kegiatan seperti bekerja, belajar, dan beribadah harus dilakukan dari rumah.

Tentunya, hal ini akan membuat segala aktivitas seperti sekolah, perkantoran, perdagangan, dan lainnya tutup. Secara tidak langsung, dengan berkurangnya aktivitas-aktivitas tersebut telah membawa dampak lingkungan dunia menjadi lebih baik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh NASA, survei geologi AS (USGS), dan Badan Antariksa Eropa (ESA), sejak dimulainya pandemi, laju penggundulan hutan berkurang di berbagai daerah, tingkat polusi udara dan air menurun serta berkurangnya pencairan salju.

Hal tersebut tentu sangat berpengaruh terhadap perubahan lingkungan yang lebih baik dibandingkan sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Pandemi juga berdampak pada pemulihan ekologi yang disebabkan karena pengurangan aktivitas pariwisata, serta pemulihan kebisingan yang disebabkan oleh mesin, transportasi, dan industri.

Berkurangnya penggunaan kendaraan bermotor serta berbagai aktivitas pabrik telah mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), yang menyebabkan konsumsi bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara menjadi lebih sedikit. Hal tersebut nampaknya sangat membantu untuk melawan perubahan iklim secara global. Emisi gas rumah kaca (GRK) merupakan keadaan di mana suhu bumi meningkat karena panas matahari terjebak di dalam atmosfer bumi.

Sejatinya efek gas rumah kaca berfungsi untuk menjaga suhu bumi agar perbedaan suhu antara siang dan malam tidak terlalu signifikan, namun kelebihan gas rumah kaca akan menyebabkan pemanasan global di mana suhu bumi naik, yang mengakibatkan ekosistem rusak, es kutub mencair, air laut naik, dan perubahan iklim yang sangat ekstrim.

Emisi gas rumah kaca (GRK) sangat berpengaruh terhadap perubahan lingkungan yang terjadi, karena emisi NO2 dapat menyebabkan hujan asam ketika bereaksi dengan oksigen dan air. Pada tahun 2020, akibat adanya pandemi, emisi gas rumah kaca (GRK) dunia yang disebabkan oleh CO2 turun sebesar 4% dibandingkan tahun 2019.

Pandemi telah menyebabkan peningkatan penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) seperti masker, sarung tangan, penutup wajah, dan alat-alat medis seperti jarum suntik, oksigen, alat suntik, perban, serta alat-alat infus, justru menjadi beban bagi lingkungan karena menjadi akan menjadi limbah.

Penggunaan alat-alat ini semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kasus Covid-19, karena akan semakin banyak orang yang membutuhkan perawatan, pengambilan sampel Covid-19, diagnosis, serta untuk desinfektan.

Lalu, bagaimana limbah medis dan limbah rumah sakit tersebut dikelola? Banyaknya limbah yang muncul secara tiba-tiba dan pengelolaan yang kurang tepat, akan sangat berbahaya terhadap kesehatan. Terlebih, menurut penelitian, virus SARS-CoV-2 dapat bertahan selama sehari di karton, dan tiga hari di tempat yang berbahan plastik dan baja yang tahan karat. Sehingga limbah medis dan rumah sakit harus dikelola dengan baik untuk mencegah infeksi lain dan pencemaran lingkungan.

Sejak kemunculan Covid-19, penggunaan APD yang berbahan plastik meningkat pesat di seluruh dunia. Misalnya saja Cina, melaporkan produksi masker medis yang mencapai 14,8 juta pada Februari 2020. Namun peningkatan penggunaan ini tidak sejalan dengan pengetahuan yang dimiliki oleh sebagian banyak orang. Kurangnya pengetahuan tentang cara pengelolaan limbah infeksi virus, membuat mereka membuang sampah sembarangan di tempat-tempat terbuka maupun bercampur dengan limbah rumah tangga. Padahal, hal tersebut dapat menyumbat saluran air, memperburuk pencemaran lingkungan, serta meningkatkan risiko penularan penyakit dan paparan virus terhadap pekerja limbah.

Hal tersebut dapat terjadi karena bahan yang digunakan dalam pembuatan masker, sarung tangan, pakaian pelindung, serta pelindung wajah medis, dapat melepaskan dioksin dan elemen-elemen yang justru beracun terhadap lingkungan.

Sebagai respon terhadap dampak lingkungan jangka pendek akibat pandemi Covid-19, perlahan-lahan strategi harus mulai dilakukan untuk mengendalikan permasalahan lingkungan yang kompleks dan tidak berkesudahan ini.

Berbagai upaya yang mungkin dapat dilakukan diantaranya adalah penggunaan transportasi hijau dan umum untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK); pengolahan air limbah dan penggunaannya kembali; pengolahan limbah medis yang berpotensi menular dan berbahaya yang harus dilakukan sesuai standar WHO; restorasi ekologi dan ekowisata sebagai bentuk pelestarian terhadap lingkungan, keanekaragaman hayati dan pelestarian budaya; serta perubahan perilaku dari setiap manusia untuk mengurangi adanya jejak karbon.

Hal ini tentunya harus dilakukan secara bersama dalam lingkup internasional, sebagai bentuk perbaikan terhadap lingkungan secara global. Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kelestarian lingkungan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menyelamatkan bumi dari perubahan iklim yang ekstrim secara global. (SBS/009)

You might also like
Comments
Loading...