Hari Pangan Sedunia: Sudahkah Indonesia Berdaulat Pangan?

Oleh : Filki Ardiansyah, mahasiswa Untirta Jurusan Teknologi Pangan

Serang (11/10/2019) SatuBanten. News – Hari Pangan Sedunia atau World Food Day diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Tema hari pangan sedunia tahun 2019 ini mengangkat “Teknologi Industri Pertanian dan Pangan Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045” atau “Our action are our future, healthy diets #zerohungerworld”. Tema tersebut diambil dari fakta bahwa Indonesia ini dikenal dengan sebutan negara agraris di mana negara Indonesia dikenal dengan kekayaan alam yang melimpah.

Sebutan seperti itu sudah umum dikenal masyarakat sejak pendidikan dasar di mata pelajaran sosial tingkat awal. Banyak kisah sejarah yang menuliskan sebutan itu, mereka bilang dimulai sejak masa prasejarah, atau sejak awal zaman kerajaan Hindu Budha, atau sebagainya, sehingga membuat khalayak menerimanya. Tetapi, apakah sebutan negara agraris masih relevan hingga saat ini dan apakah Indonesia mampu menuju lumbung pangan dunia pada tahun 2045? Namun nyatanya pada hari ini Indonesia masih dihadapkan dengan permasalah-permasalah pangan yang sangat kompleks dan memprihatinkan, masyarakat Indonesia masih banyak sekali yang mengalami kelaparan karena mereka sulit untuk mendapatkan pangan yang baik, aman, baik, dan bergizi.

Ketersediaan bahan pangan di Indonesia khususnya di daerah-daerah terpencil sangatlah memprihatinkan jauh sekali dari kata cukup. Padahal berdasarkan UU No. 18 tahun 2012 pasal 1 ayat 7, ketersediaan pangan adalah kondisi tersedianya pangan dari hasil produksi di dalam negeri dan cadangan pangan nasional serta impor apabila kedua sumber utama tidak dapat memenuhi kebutuhan. Peningkatan pangan di Indonesia tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk. Menurut Rusmawan Heriawan selaku Wakil Mentri Pertanian Indonesia mengatakan produksi pangan di Indonesia saat tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang ada sehingga perlu dicarikan trobosan jika menginginkan kebutuha pangan dipenuhi sendiri. Ia juga mengatakan pertumbuhan “jumlah penduduk di Indonesia mencapai kurang lebih 252 juta jiwa dan untuk pertumbuhannya mencapai 1,4 persen per tahun. Jadi setiap tahunnya ada manusia baru sebanyak 3,5 juta jiwa”.

Terlepas dari tahun-tahun pertumbuhan ekonomi yang wajar, 19,4 juta orang Indonesia masih tidak dapat memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari mereka. Indeks Ketahanan Pangan Global tahun 2017 menempatkan Indonesia di urutan ke-69 dari 113 negara, dan skor keseluruhannya (yang tidak bergantung pada peringkat negara relatif) hampir tidak meningkat selama lima tahun terakhir. Kesinambungan dan keparahan masalah ini menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi ketidakamanan pangan kronis.

Salah satu harapan tinggi masyarakat Indonesia adalah swasembada dan kedaulatan pangan. Berdaulat pangan tentunya berarti kita tidak lagi menggantungkan kebutuhan pangan kita pada negara lain. Berdaulat pangan juga berarti negeri ini bebas dari pihak-pihak tertentu yang memonopoli rantai pasok pangan kita. Kedaulatan pangan dianggap sebagian pihak sebagai persoalan yang mudah. Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa. Tapi fakta menyebutkan bahwa pada tahun 2014, tercatat beras sebagai komoditas pangan paling strategis, diimpor sebanyak 844 ribu ton. Sementara impor untuk jagung sebanyak 3,2 juta ton dan  bawang merah sebanyak 74,9 ribu ton.

Fakta ini tentunya menggambarkan bahwa cita-cita Indonesia untuk menggapai kedaulatan pangan bukanlah sesuatu yang mudah diraih. Pemerintah di semua era diyakini sudah bekerja untuk meraih itu. Tapi nyatanya kerja saja tidak lah cukup. Kita butuh sesuatu yang lebih kuat untuk dapat berdikari di sektor pangan. Salah satu persoalan yang membayangi sektor pertanian sejak lama adalah konversi lahan pertanian. Di sejumlah sentra produksi pertanian, lahan produktif beralih fungsi menjadi lahan perumahan maupun industri. Tapi kondisi ini tak sepantasnya membuat kita berpangku tangan dan berdiam begitu saja. Kementrian Pertanian (Kementan) saat ini  menjalankan program Perluasan Areal Tanam Baru (PATB). Untuk meningkatkan luas areal tanam baru, Kementan tidak lagi terpaku pada lahan irigasi, tapi justru memanfaatkan lahan suboptimal, seperti lahan rawa.

Tantangan pengembangannya memang tergolong besar mengingat kondisi lahan rawa yang memiliki tingkat kesuburan rendah, infrastruktur belum berfungsi optimal, indeks pertanaman dan panen masih rata-rata 1 kali setahun, serangan hama dan penyakit tanaman masih tinggi. Secara langsung permasalahan di sector pertanian sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan pangan (kedaulatan pangan) di Indonesia dikarenakan lahan pertanian yang sudah dialihfungsikan menjadi perumahan, pabrik-pabrik industry, dan lain sebagainya. Untuk itu, pemanfaatan teknologi dan sinergi berbagai pihak ditingkatkan sehingga rawa dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produksi pangan. Kementerian Pertanian memberikan dukungan mekanisasi pertanian seperti eskavator dan melakukan pembangunan irigasi.

Penggunaan varietas adaptif lahan rawa juga dipercaya akan mendorong keberhasilan budidaya tanaman di lahan rawa. Selain itu, pemanfaatan lahan rawa dilakukan dengan menjalin kerja sama antara pemerintah pusat, TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat. Keberhasilan kita mengekspor sejumlah komoditas strategis tentunya menumbuhkan harapan bahwa Indonesia bisa menjadi lumbung pangan dunia. Harapan kita semua adalah Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia pada masa yang akan datang. Dengan kerja keras dan optimisme dari semua kelompok masyarakat, Indonesia tidak hanya akan swasembada dan berdaulat pangan, tapi menjadi negara yang menjadi lumbung pangan bagi negara-negara lainnya.

Dengan melihat kondisi seperti itu di mana lahan pertanian di Indonesia sudah dialihfungsikan sedangkan pertumbuhan penduduk semakin hari semakin meningkat, ini menjadi pertanyaan besar kita semua sanggupkah negara Indonesia menjadi negara lumbung pangan dunia di tahun 2045? Melihat kondisi pertanian di Indonesia yang semakin hari semakin memprihatinkan. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...