Hari Kopi Internasional dan Kisah Kopi Banten

Serang (01/10/2019), SatuBanten – Pada hari ini, 1 Oktober, dirayakan sebagai Hari Kopi Sedunia sesuai kesepakatan Organisasi Kopi Internasional pada 2014 lalu, 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kopi Dunia.

Di balik kenikmatan secangkir kopi, ada cerita perjalanan panjang yang layak kita ketahui. Indonesia memang dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik dunia, tapi tahukah Anda, bagaimana sejarah serta awal mulanya kopi hadir di Indonesia.

Sejarah kopi berawal dari para pengembala kambing di dataran Ethiopia, melihat bagaimana kambing – kambingnya memakan beberapa biji buah menyerupai berry di pepohonan dan melihat mereka tetap aktif serta terjaga berkat buah tersebut.

Berawal dari situlah, para pengembala mencoba untuk mengolah biji kopi tersebut dan memakannya dan akhirnya mendapatkan manfaat yang sama seperti yang dirasakan oleh kambing – kambingnya tersebut. Itulah awalnya kopi dikenal sebagai makanan yang bermanfaat untuk menambah energi dan mengusir rasa kantuk.

Hingga akhirnya para pedahang VOC dan saudagar Spanyol serta Portugis menjadikan kopi sebagai salah satu komoditas barter dengan rempah-rempah di nusantara.

Namun demikian, ditengah semerbaknya kopi asal Banten, para petani kopi di Banten mengaku tak bisa berbuat banyak dalam menghadapi lesunya harga kopi mentah di pasaran.

Samsul (44), salah satu petani kopi di Ciomas Kabupaten Serang mengatakan bantuan pemerintah dalam akses pasar dan pengadaan pupuk sangat diharapkan dan bisa mengurai permasalahan harga tersebut.

“Harga kopi di saat ini di tingkat petani di kisaran Rp15.000 sampai Rp18.000 per kilogram, agak berat kalau mengandalkan kopi saja dari lahan pertanian,” ungkap Samsul saat dihubungi SatuBanten, Selasa (01/10/2019).

Samsul mengemukakan harga kopi bisa melampaui Rp. 25.000 per kg ketika didukung kondisi global dan dukungan pemerintah.

“Kami petani kopi inginnya harga tinggi, tapi kalau kondisi begini, kami hanya bisa menerima saja untung atau rugi,” sambung Samsul.

Dari segi produksi, Samsul memperkirakan pasokan kopi di daerahnya cenderung tak jauh berbeda dibanding tahun lalu. Namun ia mengharapkan ada bantuan pupuk mengingat harga rendah kopi turut mempengaruhi pendapatan petani dan kemampuan dalam memperolehnya.

“Untungnya pohon kopi kami tumpang sari dengan tanaman lain seperti melinjo dan pohon lainnya sehingga tidak terlalu tergantung pada kopi,” katanya.

Permasalahan di sisi hulu ini pun diamini oleh Ketua Departemen Specialty & Industri BPP Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Moelyono Soesilo. Ia berpendapat produktivitas kopi nasional perlu ditingkatkan agar petani tak banyak merugi.

Moelyono mengemukakan produktivitas kopi Indonesia terbilang rendah. Untuk kopi robusta, produktivitas bervariasi di kisaran 800 kg sampai 1 ton per hektare (ha).

Sementara untuk kopi jenis arabika, produktivitasnya baru di angka 600 sampai 700 kg per ha. Angka ini jauh di bawah Vietnam yang pada 2017 lalu memiliki tingkat produktivitas mencapai 2,4 ton per ha dengan luas areal produksi sebesar 662.200 ha.

“Yang perlu didorong sekarang adalah tingkat produktivitas supaya petani tidak merugi. Dari segi kualitas kita sudah bagus dan bahkan beberapa café kopi internasional justru memesan secara khusus kopi asal Indonesia,” katanya.

Turunnya harga kopi sempat disinggung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menghadiri forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada 25 September lalu. Ia mengusulkan para negara produsen kopi untuk melakukan pengendalian produksi agar harga kopi kembali terangkat.

Wapres menyebutkan harga kopi tercatat mengalami penurunan sampai 70% sejak 1982. Salah satu penyebabnya, adalah kelebihan pasokan produksi biji kopi dunia yang didominasi oleh Brasil, Vietnam, dan Kolombia serta menurunya konsentrasi para petani kopi Indonesia.

Sementara itu, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak, saat ini mulai mengembangkan perkebunan Kopi Arabika seluas 30 hektare bantuan dari APBD setempat.

“Bantuan pengembangan kopi itu di Kecamatan Muncang dan Sobang,” kata Kepala Distanbun Kabupaten Lebak Dede Supriatna di Lebak, beberapa waktu lalu kepada awak media.

Permintaan kopi arabika di pasaran cenderung meningkat dengan harga relatif baik dan menguntungkan petani. Pemerintah daerah mengembangkan kopi tersebut guna mendorong pertumbuhan ekonomi petani.

Saat ini, harga kopi arabika menembus Rp18.000 sampai Rp20.000/Kg bentuk berasan atau biji kopi.

“Kami optimistis pengembangan kopi di Kecamatan Muncang dan Sobang dapat mendongkrak pendapatan ekonomi juga mampu memutus mata rantai kemiskinan dan pengangguran,” katanya.

Menurut dia, saat ini, produktivitas kopi di Kabupaten Lebak cukup rendah yakni 944,88 Kg/hektare, karena kurang mendapat perawatan.

Pihaknya menargetkan produktivitas kopi sekitar 1,7 ton/hektare. Karena itu, pemerintah daerah akan mendorong peningkatan produktivitas kopi dengan pendampingan juga peningkatan sumber daya manusia (SDM) petani.

Saat ini, beberapa merk kopi asal Banten sudah mulai menasional seperti Kopi cap Kupu-kupu, Cap Opelet dan beberapa merk lainnya.

Ratusan tahun setelah masuknya kopi ke Indonesia, para pedagang Belanda memanen hasil kopi dari Indonesia dan salah satu lokasi kopi tersebut ada di Banten hingga dicatat oleh Max Havellar dalam nukilan judul buku Multatuli. (Budi/SBS)

You might also like
Comments
Loading...