Gara-gara Secangkir Kopi, Ponakan Bunuh Paman di Pandeglang

Pandeglang, Satubanten.com – Gara-gara masalah kopi hingga menimbulkan pertikaian, akibatnya nyawa Raiman warga Kampung Kadu Gadung, Desa Kadu Gadung, Kecamatan Cipeucang, Kabupaten Pandeglang, Banten melayang.

Korban ditusuk oleh pelaku berinisial HM yang tak lain keponakannya sendiri menggunakan pisau dapur di bagian dada korban. Padahal pelakunya masih tinggal serumah dengan korban.

Kasus itu itu berawal saat korban meminta dibuatkan kopi kepada istrinya, namun kompor miliknya tengah digunakan oleh pelaku yang tengah memasak air. Peristiwa itu terjadi pada Selasa (5/1/2021) sekitar pukul 12:30 WIB.

Kapolres Pandeglang menyebutkan, tindak pidana pembunuhan itu bermula sakit hati karena kompornya digunakan tersangka untuk merebus jamu saat korban untuk membuat kopi. Akhirnya cekcok hingga duel pun terjadi. Bahkan pelaku menusukkan pisau ke korban hingga akhirnya tewas.

“Kasus pembunuhan ini terungkap setelah pelaku tertangkap oleh warga dan diserahkan ke Polsek Cimanuk dan anggota Polsek Cimanuk langsung membawa ke Polres Pandeglang.” ungkap Kapolres Pandeglang, AKBP Hamam Wahyudi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (7/1/2021).

Hamam menceritakan kronologis kasus pembunuhan tersebut. Menurutnya peristiwa itu bermula saat korban yang baru saja pulang usai mengambil kayu bakar meminta kepada istrinya untuk dibuatkan kopi, lantaran sudah tak kuat ingin meminum kopi. Kemudian istrinya menjawab jika kompornya tengah dipakai oleh pelaku.

“Kemudian istrinya keluar rumah untuk menyeduhkan kopi dengan minta air ke rumah tetangganya yang berada di depan rumahnya,” ungkapnya.

Sedangkan di rumah tersebut hanya ada pelaku dan korban yang tengah adu mulut hingga cekcok. Hingga akhirnya korban yang tengah membereskan kayu bakar di belakang rumah menghampiri pelaku yang tengah berada di dapur.

“Korban yang sedang mengangkat dan membereskan kayu bakar sambil marah mendatangi pelaku yang berada ruang dapur, kemudian pelaku melihat korban dan korban sambil marah-marah berdiri di depan pintu dapur,” ujarnya.

Melihat korban menghampirinya, pelaku spontan mengambil pisau yang terselip di bilik bambu. Kendati begitu, adu mulut pun terus memanas bahkan pelaku sempat menyatakan ancaman jika hendak membunuh pelaku.

“Pada saat itu korban pun emosi, yang akhirnya, ada berbuatan pisik, sehingga pelaku sambil mendorong korban yang awalnya berada di depan pintu ruang dapur hingga keluar pintu dapur dan pelaku langsung menusukan pisau ke arah tubuh dada korban, sehingga korban tertusuk pisau dan pisau menancap di dada korban,” jelasnya.

Hamam melanjutkan, pisau yang menancap di tubuh korban di cabut kembali olehnya. Perkelahian tersebut tak cukup sampai di situ, korban kemudian mengambil sepotong kayu. Namun kayu yang cukup berukuran besar tersebut kembali dirampas oleh pelaku.

“Belum sempat korban memukul, pelaku merampas kayu tersebut dari tangan korban. Kemudian setelah kayu tersebut di pegang oleh pelaku, pelaku langsung memukul ke arah tubuh korban menggunakan kayu tersebut sehingga mengenai badan, serta kaki bagian paha korban dan korban langsung terjatuh ketanah,” bebernya.

Dalam keadaan tidak berdaya dan bersimbah darah, akhir perkelahian tersebut dilerai oleh Eti warga lainnya. Sambil berteriak meminta tolong kepada warga lain. Sedangkan kondisi korban bersimbah darah dan langsung jatuh pingsan. Namun setelah dibawa ke Puskesmas nyawa korban tak bisa tertolong.

“Pada saat itu korban masih bernapas dan seketika korban pun lemas dan pingsan, tidak berdaya, kemudian saksi terus teriak minta tolong, kemudian baru pihak warga kampung menghampiri tempat kejadian perkara (TKP),” pungkasnya. (RLS/SBS)

You might also like
Comments
Loading...