Faktor Internal Dominasi Sebab Gagalnya Advokasi Kasus Pelecehan Seksual

Serang (09/12/2018), Satubanten.com – Kasus pelecehan seksual pada perempuan dan anak-anak bagaikan gunung es di laut. Nampak hanya sedikit yang terlihat padahal banyak kasus yang diam-diam tidak terselesaikan atau bahkan tidak dapat diungkap. Bahkan beberapa kasus yang diungkap, banyak yang selesai hingga akhir saat ditangani. Hal ini diungkapkan oleh ahli dosen ahli hukum sekaligus founder Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Untuk Keadilan (APIK) Banten, Lia Riesta Dewi.

“Beberapa kasus kita tangani hampir semuanya terselesaikan untuk kasus gugat cerai, tapi untuk pelecehan seksual itu banyak yang nggak selesai. Biasanya ya itu, korban tidak mau membawa kasus tersebut ke ranah hukum untuk diproses lebih lanjut. Kalaupun sudah maju ke ranah hukum, tiba-tiba dicabut dan lebih memilih damai,” tutur Lia saat mengisi sharing 16 Hari Anti Kekerasan Pada Perempuan, Kamis (09/12) di Padepokan Kupi.

Acara yang dinisiasi oleh Women March Serang dan Komunitas Mencuri Ilmu Dari Buku (MIDB) tersebut dihadiri puluhan pemuda dari Serang dan Cilegon. Selain LBH APIK, sesi sharing tersebut juga diisi oleh LBH Jaringan Advokasi Perempuan dan Anak (JAPA).

Baca Juga : Hingga Akhir Tahun 7 Kasus Pelecehan Perempuan dan Anak Tidak Terselesaikan

Secara nasional, Komnas Perempuan mencatat adanya peningkatan sebanyak  2.227 kasus kekerasan dan pelecehan pada anak dan perempuan. Hal tersebut tertuang dalam Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan tahun 2018. Kekerasan di ranah privat fisik mendominasi dengan jumlah sebanyak 41% (3.982 kasus). Di urutan kedua yaitu kekerasan seksual sebanyak 31% (2.979 kasus). Selanjutnya yaitu kekerasan psikis 15% (1.404 kasus), dan kekerasan ekonomi 13% (1.244 kasus).

Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Banten mencatat sejak Januari 2018, dari 30 kasus yang masuk sebanyak 53% merupakan kasus kekerasan seksual pada anak. Bahkan pada tahun 2017 lalu Komnas Perlindungan Anak Provinsi Banten juga menyebutkan bahwa Banten menempati urutan ke-9 dari 32 Provinsi di Indonesia dalam daftar pelecehan terhadap anak-anak.

“Dari sekian kasus kebanyakan tidak selesai karena tekanan, malu dan lain-lain. Seringnya korban pelaku pelecehan dan kekerasan seksual jika melapor ke kepolisian akan merasa dilecehkan 2 kali karena pertanyaan yang terkesan memojokkan pelaku. Oleh karena itu, jika terjadi pelecehan lebih baik korban melapor dulu ke kita sebelum melapor ke kepolisian,” pungkasnya. (IBC/SBS032)

 

You might also like
Comments
Loading...