Fakta Menarik Golok Sulangkar Suku Baduy

Satubanten.com- Siapa yang tidak tahu Suku Baduy? Suku di pedalaman Banten, tepatnya di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten ini terkenal dengan kuatnya memegang teguh adat dan budaya. Mulai dari budaya turun temurun seperti Seba baduy hingga kebiasaan harian seperti tidak menggunakan alas kaki, serta alat-alat modern, dan kerap suku ini dijadikan ikon kelestarian alam, karena seperti pesan kearifan Suku Baduy, “Gunung nteu meunang dilebur. Lebak nteu meunang diruksak. Lojor nteu meunang dipotong. Pendek nteu meunang disambung”. Artinya, gunung tak boleh dihancurkan. Lembah tak boleh dirusak. Panjang tak boleh dipotong. Pendek tak boleh disambung.

Dengan segala kearifannya dan sifat tradisionalnya, Baduy juga memiliki berbagai kerajinan, seperti Golok Sulangkar. Golok Sulangkar Baduy merupakan golok khas dari Banten memiliki tampilan bilah yang khas dengan tekstur serat berlapis. Golok ini biasa digunakan dalam prosesi upacara adat juga dapat digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Berikut fakta menarik mengenai Golok Sulangkar Baduy :

1. Dibuat secara tradisional
Pandai besi Suku Baduy memiliki metode tersendiri dalam menempa golok, dengan tetap tidak melanggar adat tanpa menggunakan peralatan modern. Golok Sulangkar ditempa dalam bara api dari arang kayu yang dinyalakan dengan dibakar secara manual. Panas bara api dipertahankan dengan ditiupkan udara menggukan alat dari bambu dengan pompa yang berfungsi sebagai blower yang dikendalikan oleh satu orang operator, udara tersebut dialiri melalui pipa bambu yang masuk kedalam batu yang dilubangi menuju ruang pembakaran. Sampai bilah besi memerah, kemudian seorang pandai besi mengambilnya dan menempa bilah tersebut dengan dipukul menggunakan palu, terkadang pandai besi Suku Baduy bahkan tidak menggunakan sarung tangan saat mengambil bilah besi yang telah dibakar.

Penempaan golok tradisional oleh Suku Baduy. (foto : Ahmad)

2. Tekstur golok seperti Baja Damaskus
Golok Sulangkar memiliki tekstur bilah yang khas, seperti serat berlapis yang jika dibiarkan akan tampak terkorosi. Tekstur seperti ini mirip dengan teknologi Baja Damaskus yang terkenal ketika perang salib. Baja Damaskus memiliki lebih banyak serat berlapis, bahkan karena banyak lapisannya, seratnya lebih seperti pola air, berbeda dengan golok sulangkar yang biasanya hanya terdapat 10 sampai 30 lapisan serat. Tekstur seperti ini hanya didapati dengan teknologi penempaan khusus yang menggabungkan beberapa lapisan besi yang ditempa menjadi satu kesatuan sehingga memiliki karakter superplastis dan tidak pernah tumpul.

Tekstur khas Golok Sulangkar Baduy. (foto ; yusef)

3. Selalu dikaitkan dengan mistis
Golok Sulangkar Baduy dan beberapa golok khas di Banten seperti Golok Ciomas selalu dikaitkan dengan kisah mistis. Kemampuan daya binasa golok yang selalu dipakai para jawara melawan penjajah dikaitkan dengan mitos-mitos penempaan serta asal muasal bilah besi Golok Sulangkar. Asal nama Golok Sulangkar diambil dari Besi Sulangkar yaitu besi jenis pelat hitam yang sudah tua dan pernah dipergunakan oleh orang- orang zaman dulu atau bekas pakai. Karena menurut mitos yang beredar di Banten, konon besi- besi kuno menyimpan unsur mistis yang kuat sehingga ketika dijadikan golok, aura mistisnya masih ada. Besi sulangkar dapat diambil dari injakan, undakan, foot step delman atau sado yang sudah tua. Besi sulangkar juga dapat ditemukan pada bekas pelat mobil bekas, kikir bekas, bahkan ranjang besi bekas. (sbs05)

You might also like
Comments
Loading...