Dukung Negara Berhemat Hingga 71% Dengan GPN

Senin, 17 September 2018

Dengan sistem lama, Rp 25 miliar transaksi dilakukan di luar negeri dengan rata-rata biaya transaksi 1,2 hinga 2,2 persen. Dengan sistem GPN nilai transaksi yang diproses di luar negeri hanya Rp 7,25 miliar saja. Negara berhemat biaya transaksi hingga Rp 11,7 miliar per bulan dengan sistem GPN dan berarti juga turut menghemat cadangan devisa negara Indonesia.

Satubanten.com – Festival GPN yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Perwakilan Banten pada Sabtu (15/9) di Alun-alun Kota Cilegon merupakan titik tolak pendorong masyarakat untuk mengubah kartu ATM nya dari yang versi lama ke versi GPN. Selain keuntungan kemudahan dan efisiensi biaya saat bertransaksi, dengan menggunakan sistem GPN, masyarakat juga telah meningkatkan support nasionalisme kepada NKRI. Karena dengan menggunakan GPN uang yang semula diproses di luar negeri kini cukup diolah di dalam negeri saja. Hal ini diterangkan oleh salah pembicara dari BI, Erry P. Suryanto dalam sesi Ngobrol Santai (Ngobras) tentang GPN.

Kepala Divisi Sistem Pembayaran Bank Indonesia Perwakilan Banten tersebut mengatakan bahwa setiap hari, ada uang yang diproses ke luar negeri melalui transasksi sistem lawas jumlahnya mencapai Rp. 25 miliar. Sedangkan ketika telah menggunakan sistem GPN angka tersebut bisa ditekan signifikan hingga kurang dari Rp 10 Miliar per hari.

“Jadi kalau 25 miliar itu dikali aja kalau biaya per transaksinya 1,2 samapi 2,2 persen. Sekarang menjadi 7,25 miliar jadi sudah terjadi penurunan yang sangat signifikan,” ungkapnya.

Dengan adanya penurunan nilai transaksi per hari, secara otomatis nilai pembayarannya juga akan berkurang. Selama ini, Rp 25 miliar perhari tersebut selalu diproses di luar negeri dan biaya pembayarannya tentu menggunakan cadangan devisa negara. Jika setiap hari nilai transaksinya mencapai Rp 25 miliar maka dengan asumsi biaya sebesar 2,2%, setidaknya dalam sebulan negara menghabiskan Rp 15,5 miliar devisa negara untuk pembayaran transaksi saja.

Hal ini tentu berbeda jauh setelah sistem pembayaran GPN diterapkan. Pembayaran yang diproses di luar jumlahnya sudah semakin mengecil, hanya Rp7,25 miliar. Ini berarti terjadi penghematan hingga Rp17,75 miliar atau setara 71% dari nilai transaksi sebelum menggunakan GPN. Biaya yang bisa dihemat negara setelah menggunakan GPN Rp. 11,7 miliar per bulan. Semakin banyak masyarakat yang menggunakan GPN tentu penghematan yang akan terjadi semakin besar.

“Hingga saat ini kita bisa menghemat Rp 17,75 miliar perhari, itu yang bisa kita hemat dalam kondisi rata – rata transaksi Rp 25 miliar perhari dengan jumlah transaksi 224 ribu. Tapi hingga saat ini jumlah transaksinya semakin naik dari 224 ribu sekarang sudah mencapai 24 juta transaksi, bayangkan kalau 24 juta transaksi itu kita proses di luar, berapa uang yang akan kita bayarkan dan itu tentu berpengaruh terhadap devisa kita juga,” lanjutnya.

Oleh karena itulah BI terus mendorong para nasabah agar segera menukar kartunya dengan kartu GPN agar transaski perbankan semakin menguntungkan bagi negara. Di tengah kondisi devisa negara yang semakin merosot, sistem GPN ini tentu menjadi harapan baru bagi Indonesia. BI mencatat hingga akhir Agustus 2018 cadangan devisa negara Indonesia turun US$ 400 juta, dari semula US$ 118,3 miliar menjadi US$ 117,9 miliar. Sejak 3 bulan terakhir penurunan devisa negara Indonesia tercatat turun US$ 1-2 miliar.

Untuk menanggulangi hal tersebut, BI terus merangsang masyarakat untuk turut serta menghemat dan menjaga kestabilan ekonomi negara melalui penggunaan sistem GPN. BI mencatat hingga Mei 2018 kartu GPN sudah tercetak sebanyak 937.000 dan kartu yang sudah terdistribusi 497.000. Targetnya hingga akhir 2018, 30 persen dari total komitmen kartu National Standard Indonesian Chip Card Specification (NSICCS) berlogo nasional bisa selesai.

Ditulis oleh : Imam B. Carito

Diedit oleh : SBS032

*Baca tulisan lain Imam B. Carito atau artikel lain tentang Gerbang Pembayaran Nasional (GPN).

 

You might also like
Comments
Loading...