DKBP3A Kabupaten Serang Fokus Pulihkan Mental Korban Skandal Guru SMP di Cikeusal

Serang (27/06/2019), Satubanten.com – Paska terungkapnya skandal kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh 3 orang guru pada 3 orang siswinya kini telah ditangani oleh pihak berwajib. Sanksi juga juga sudah dijatuhkan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Serang kepada para pelaku. Hanya upaya pemulihan mental korban yang perlu dimaksimalkan. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBP3A), H. Tarkul Wasyit, S.IP., M.Si, Kamis (27/06) di Kantor DKBP3A Kabupaten Serang.

“Kalau untuk kasus tersebut sebetulnya sudah kita tangani. Yang pertama ketika lapor kan masih ke kita itu P2TP2A karena masih satu mitra dengan kita itu. Kemudian juga aspek pendampingan dan pemulihan mental itu sudah kita lakukan,” kata Tarkul.

BACA JUGA : Faktor Internal Dominasi Sebab Gagalnya Advokasi Kasus Pelecehan Seksual

Tarkul juga menambahkan bahwa kasus yang menimpa 3 orang siswi ini tetap harus mendapatkan pembelaan karena status mereka sebagai anak. Meskipun ada dugaan unsur suka sama suka dalam kasus tersebut, itu tidak menjadikan pelaku menjadi kebal hukum dan tidak dapat diproses. Perlindungan dan pembelaan harus tetap dilakukan kepada para korban sesuai amanat Undang – Undang yakni UU No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

“Bagaimana konsteksnya dalam masalah ini, yang pertama kita kan punya Undang-Undang Nomer 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak. Sekarang yang namanya anak adalah sejak dalam kandungan sampai dia umur 18 tahun. Pertanyaan saya usia SMP itu masuk kategori anak atau orang tua? Kalau anak berarti harus kita lindungi, itu sesuai dengan regulasinya, terlepas itu dia suka sama suka atau tidak,” imbuhnya.

BACA JUGA : Hingga Akhir Tahun 7 Kasus Pelecehan Perempuan dan Anak Tidak Terselesaikan

Sementara itu memnurut penuturan Iin Abdillah selaku Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Perempuan dan Anak, pihak keluarga korban sempat kaget ketika pertama kali mengetahui kasus tersebut. Hingga saat ini menurut Iin korban juga masih trauma dengan kejadian yang menimpa dirinya. Namun Ia tetap berusaha meyakinkan kepada korban maupun keluarga korban agar tetap maju menjalani proses.

“Pada dasarnya awalnya orang tuanya syok, dengan kondisi anaknya. Tapi ya mau tidak mau harus tetap dihadapi dan dijalani. Pastinya kan nanti akan ada panggilan dari kepolisian dan dari kejaksaan untuk menjadi saksi. Jadi kondisinya memang si anak masih trauma dengan kejadian yang menimpanya tapi dengan kejadian ini kita ambil hikmahnya itu bisa terungkap semuanya,” tuturnya.

Pelaku pelecehan seksual terhadap 3 siswi SMP yakni DO, DL, dan LA ini adalah gurunya sendiri yakni DD, AP, dan ON. Ketiga guru ini masing-masing adalah PNS, Guru Honorer dan Staff Bidang Kesiswaan. Korban melaporkan kejadian tersebut setelah salah satu korban positif hamil. Terkait kondisi tersebut Iin berharap korban bisa kembali melanjutkan sekolahnya setelah melahirkan.

BACA JUGA : Kadis DKBP3A Kabupaten Serang Terapkan 4 Pendekatan Untuk Perkuat Keluarga

Lebih lanjut Tarkul menegaskan bahwa kasus semacam ini bisa saja terjadi lantaran berbagai sebab. Oleh karena itu, perlu adanya sinergi dan kewaspadaan dalam menanggulangi problematika remaja tersebut. Dalam hal ini DKBP3A mencoba merumuskannya dalam 4 pendekatan untuk memebentuk keluarga yang berkualitas.

“Dalam hal ini Dinas kita bersama dengan pemerintah Kabupaten Serang telah mengambil langkah antara lain dengan membuat peraturan daerah tentang ketahanan keluarga, kemudian juga menerapkan 4 pendekatan keluarga berkualitas. Intinya adalah kita harus meningkatkan kewaspadaan lingkungan, yakni lingkungan keluarga, kemudian lingkungan pendidikan dan yang terakhir lingkungan masyarakat kita juga harus waspada. Waspadalah..waspadalah,” pungkasnya. (IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...