Dinar dan Dirham : Dapatkah Menjadi Solusi Krisis Ekonomi Indonesia?

Serang (07/07/2019) SatuBanten. News – Krisis ekonomi yang melanda negara kawasan Asia terutama Indonesia terus berlanjut dari tahun ke tahun. Meskipun Indonesia dianggap sebagai salah satu negara penggerak ekonomi kawasan Asia Tenggara, namun belum ada tanda-tanda bahwa krisis di Indonesia ini akan pulih. Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia ini berawal dari krisis nilai tukar mata uang, yaitu semakin kuatnya mata uang asing khususnya Dollar terhadap mata uang domestik yaitu Rupiah. 

 

Akibatnya harga-harga meningkat secara berlipat karena struktur ekonomi Indonesia didominasi impor, terutama bahan-bahan pangan, sehingga tingkat suku bunga meroket bahkan mencapai 90%, yang mengakibatkan tingkat pengangguran semakin besar, inflasi meninggi dan dunia usaha macet. Sehingga banyak orang bertanya-tanya mengapa sebuah perekonomian harus terpuruk hanya karena nilai mata uang yang berubah.

 

Hal ini membuat sebagian orang merasa geram dengan keadaan ekonomi seperti ini, dan menimbulkan opini untuk mengganti sistem perekonomian dunia dengan menyandarkan mata uang dunia kepada emas (Dinar dan Dirham). Karena menarik untuk diperhatikan bahwa selama mata uang disandarkan kepada emas, selama itu pula mata uang relatif stabil dan kemungkinan mengalami krisis sangatlah kecil.

 

Ini terbukti pernah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW yang menggunakan mata uang emas (Dinar) dan perak (Dirham) dalam berniaga, yang mana pada masa itu tidak pernah terjadi krisis ekonomi seperti sekarang ini. Sistem ini berlanjut sampai dengan Dinasti Utsmaniyyah yang runtuh pada tahun 1923 sampai pada akhirnya para imperialis membuat tipu daya melalui imperialisasi ekonomi dan kekayaan, mereka menggunakan uang sebagai salah satu sarana imperialisasi dan merubah sistem uang emas ke sistem uang fiat.

 

Penggunaan Dinar dan Dirham merupakan suatu solusi atas perekonomian Indonesia bahkan dunia yang menggunakan sistem fiat. Penggunaan sistem uang fiat menimbulkan ketidakstabilan perekonomian dunia saat ini yang berimbas juga terhadap perekonomian di Indonesia, untuk mengatasi hal itu dibutuhkan mata uang yang stabil yaitu Dinar dan Dirham.

Konsep Uang dalam Perspektif Ekonomi Islam dan Konvensional

Konsep uang dalam ekonomi Islam berbeda dengan konsep dalam ekonomi konvensional. Dalam konsep ekonomi Islam, uang adalah uang, uang bukan kapital. Sedangkan dalam ekonomi konvensional tidak jelas apa definisi uang yang sesungguhnya. Dan dalam ekonomi Islam dikenal dengan istilah capital is private goods (harta milik pribadi) sedangkan money is public goods (uang milik umum). Uang yang ketika mengalir disebut public goods, lalu mengendap kedalam kepemilikan seseorang, uang tersebut menjadi milik pribadi (private goods).

 

Konsep ekonomi Islam atau bisa kita sebut konsep dinar dan dirham ini menurut penulis dapat memperbaiki krisisnya perekonomian Indonesia bahkan dunia karena memiliki beberapa keuntungan dibanding menggunakan sistem uang fiat, keuntungannya yaitu:

 

1. Daya beli masyarakat menjadi sangat kuat dan terus menguat. Karena jika menggunakan Dinar dan Dirham harga-harga akan tetap bahkan turun tiap tahunnya akan tetapi jika menggunakan rupiah harga-harga justru selalu naik terkena inflasi. Kita ambil contoh seperti ini, tahun 2000 harga semen adalah Rp. 20.000/zak, 1 Dinar emas (waktu itu Rp. 400.000) dan dengan 1 Dinar bisa mendapat 20 zak semen. Hari ini harga semen adalah Rp. 70.000 naik 350%. Tapi dengan Dinar emas, hari ini 1 Dinar (Rp. 2.1 juta) dan dengan Dinar emas bisa mendapat 30 zak semen. Jadi harga semen justru turun 50%.

 

2. Masyarakat tidak tergantung pada kondisi perekonomian nasional maupun internasional. Segala gonjang-ganjing, krisis finansial, dan sebagainya, tidak mempengaruhi kondisi masyarakat pemakai Dinar dan Dirham, karena Dinar dan Dirham ini adalah aset riil uang kertas dan sistem finansial dunia saat ini, berupa surat utang.

 

3. Umat Islam khususnya dapat menjalankan ketetapan syari’at Islam dengan benar, misalnya membayar zakat, membayar mahar, menetapkan diyat dan hudud, utang piutang dan jual beli, dan lain sebagainya. Keuntungan lainnya menurut Hafiz Majdi, Dodik Siswantoro dan J.A Brovosky (Stable and Just Global Monetary System, 2002) penggunaan Dinar yang dilakukan kedua negara dalam perdagangan bilateral akan menyebabkan penyesuaian otomatis terhadap neraca pembayaran kedua negara tersebut.

Contoh sederhananya adalah ketika salah satu negara mengekspor barang ke negara lainnya, maka negara tersebut akan memiliki lebih banyak Dinar dan persediaan barang akan lebih sedikit. Hal ini akan menyebabkan terangkatnya harga barang karena ekspor dan dengan tingkat harga yang lebih tinggi. (RR/SBS31)

 

Penulis : Erin Rahmatini Aminah, Mahasiswi PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SMH Banten

You might also like
Comments
Loading...