Diduga Terlilit Utang, PT. KS Terancam Restrukturisasi Ribuan Pegawai

Cilegon (20/06/2019), Satubanten.com – Perusahaan Baja berplat merah PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk terancam merumahkan 1.300 karyawannya sebagai dampak atas restrukturisasi. Hal ini diketahu dari surat edaran (SE) denga nomor 73/Dir.SDM-KS/2019 bertanggal 29 Maret 2019 untuk para General Manager PT. Krakatau Steel. Menurut Senior Manager External Communication PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Vicky Muhammad Rosyad, mengatakan bahwa restrukturisasi ini sesuai dengan Rencana Jangka Panjang (RJPP) 2018-2022.

“Saya tidak tahu kapan, ada yang bilang Juni, Juli dan tahun depan. Saya tidak tahu pasti. Karena memang kan sekarang di PT KS dalam kondisi berat. Bisa dibilang level down,” kata Vicky, dikutip dari Bantennews, Rabu (20/06).

Melalui surat tersebut dapat diketahui bahwa PT. Krakatau Steel akan merestrukturisasi 30% dari total 4.453 karyawan organik PT. KS Induk. Karyawan organik ini hingga sekarang bekerja di di 6.264 posisi di PT KS.Berdasarkan RJPP PT. KS tahun 2018-2022, target produktifitas karyawan atau Key Performance Indicator (KPI) yakni US$ 667 ribu per karyawan atau setara dengan 4.352 posisi.

Dengan demikian, ada sekitar 1.300 karyawan organik yang akan terkena dampak restrukturisasi agar sesuai dengan RJPP tersebut. Restrukturisasi ini nantinya akan menjadi tanggung jawab GM di masing-masing unit kerja dan bekerja sama dengan GM Human Capital Management. Namun demikian, Vicky menjelaskan bahwa upaya restrukturisasi ini sesuai dengan semangat perbaikan dan menyehatkan keuangan PT KS.

“Ini bagian dari upaya mmenyehatkan perusahaan. Mengingat piutang PT. KS memang tinggi,” imbunya.

Terkait utang tersebut, Direktur Utama PT. Krakatau Steel, Silmy Karim mengungkapkan bahwa Juni ini restrukturisasi utang PT. KS ditargetkan selesai. Hal ini menurutnya telah mendapat persetujuan dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal ini diketahui karena beberapa kreditur perbankan Krakatau Steel saat ini juga tengah menyiapkan strategi restrukturisasi.

Silmy menjelaskan bahwa hutang bank Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) yakni Bank BRI, Mandiri dan Bank BNI saat ini sudah di tangan. Hanya untuk bakn swasta masih berjalan dan sejauh ini belum ada kendala.

“Sekarang sedang finalisasi dengan swasta nasional maupun asing. Ini soal kepentingan nasional dalam hal industri baja. Ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan antara peran pemerintah, perbankan dan juga industri,” kata Silmy, dikutip dari Kontan, Senin (17/06/2019).

Kreditur menyarankan kepada manajemen agar mengikutsertakan konsultan internasional demi kelancaran proses restrukturisasi. Untuk itu emiten berkode saham KRAS ini bekerjasama dengan McKinsey dan juga KPMG dalam upaya merapikan bisnis. Selain itu KRAS berencana melakukan spin-off atau pemisahan anak perusahaan. Perusahaan yang siap melakukan spin-off antara lain bisnis iron still making, long product, hot strip mill dan rolling mill.

Anak usaha dan cucu usaha juga sedang restrukturisasi. Yang sejenis kita kumpulkan dan dihubungkan. Ini untuk menekan birokrasi internal agar meniadakan satu dua layer di dalam struktur,” pungkasnya. (IBC/SBS032)

 

 

You might also like
Comments
Loading...