Diantara Etika dan Profesi dalam Perspektif Akuntansi “Dilema Profesi Akuntan”

Satubanten.com – Pada dasarnya masih menjadi suatu pertentangan diantara para ahli, kapankah profesi akuntan itu mulai ada didunia?….. Pada sekitar abad ke 15 telah ada kegiatan yang dilakukan oleh pihak ketiga dari perusahaan untuk melakukan pemeriksaan atas pembukuan yang dilaporkan oleh pengelola usaha kepada pemilik, atas dasar itulah maka ada sebagian para ahli yang menyatakan bahwa profesi akuntan itu muncul pada abad ke 15.

Perusahaan pasti membutuhkan seorang akuntan sebagai pihak yang dipercaya dalam memeriksa kelayakan atau kebenaran laporan keuangan yang telah dibuat oleh pengelola usaha, apalagi jika operasional perusahaannya sudah besar agar tidak ada kekhawatiran akan hal tersebut. Lain hal nya jika operasional usahanya masih kecil biasanya masih saling percaya.

Perusahaan pada umumnya dimiliki oleh para pemilik modal kemudian menyerahkan modal tersebut kepada pihak lain untuk melakukan pengelolaan usahanya, hasilnya nanti akan dibagi antara pemilik dengan pengelola.Oleh karena itu sangat membutuhkan pihak independen dalam melakukan pengawasan atau pemeriksaan laporan keuangannya.

Namun dari pada itu, seorang akuntan sebagai pihak independen juga harus bisa menjunjung tinggi profesionalitasnya dengan selalu menjunjung tinggi etika diatas profesi. Masih hangat diingatan kita dalam kasus Jiwasraya yaitu adanya gagal bayar polis nasabah, menurut berita dalam Hukum online dalam kasus itu dianggap bahwa seorang auditor tidak mampu dalam mengungkapkan kondisi sebenarnya, ditambahlagi adanya laporan keuangan teraudit nya itu dimanipulasi atau window dressing yang seolah olah perusahaan itu tampak sehat.

Menurut Ketua IAPI Tarko Sunaryo, menanggapi bahwa sebetulnya akuntan publik yang menangani nya itu telah bertindak sesuai dengan standar, yaitu dalam laporannya ditahun 2017 itu akuntan publik memberikan opini dengan modifikasi. Senada dengan pengamat ekonomi dan pajak Yustinus Prastowo, bahwa Auditor itu adalah bukan pihak yang membuat laporan keuangan, seharusnya direksi lah yang bertanggung jawab.

Setiap orang itu punya kecenderungan untuk melakukan hal yang negatif, oleh karena itu negara perlu membuat aturan yang komprehensif dan ada keseimbangan antara akuntan publik dengan perusahaan. Seperti yang disampaikan oleh ketua IAPI Tarkosunaryo, ketika ditanya oleh wartawan bahwa negara perlu memiliki UU tentang sistem dan tata kelola laporan keuangan yang komprehensif, agar tidak hanya akuntan yang dibebankan dengan banyak peraturan, namun perusahaan yang mendapatkan opini akuntan dengan bebas bisa menindak lanjuti untuk keuntunganya dan tidak dikenakan sanksi bila tidak menjalankan.

Apapun pendapat dari para ahli atas semua kasus, sebenarnya bermuara dari etika. Banyak kasus terjadi tidak hanya dimasalah keuangan, itu bisa saja terjadi dikasus hukum lain, seorang profesional akan selalu dihadapkan pada situasi yang dilematis, karena adanya kontrak yang mengharuskan menjaga privasi para klien. Etika hakikat nya itu berperan diatas profesi, namun dalam prakteknya selalu terkalahkan atau dibawah profesi.

Akuntansi merupakan seni dalam membuat laporan keuangan agar bisa dipahami oleh penggunanya, bisa dibandingkan dengan periode sebelumnya sehingga bisa menjadi evaluasi perusahaan dimasa yang akan datang, oleh karena itu wajib hukumnya menyajikan dengan akuntabel, benar dan bisa dipercaya. (Sbs11/
Wardokhi
Mahasiswa Magister Akuntansi Universitas Pamulang)

You might also like
Comments
Loading...