Darurat Kemanusiaan Selandia Baru

Darurat Kemanusiaan Selandia Baru
Oleh : Muhammad Furqon, Ketua Umum KAMMI Daerah Serang Banten

OPINI (20/03/2019) SatuBanten.News -Beberapa waktu lalu kita dikejutkan, dunia digegerkan dengan sebuah peristiwa yang begitu memilukan. Jama’ah masjid A-Nur dan Masjid Linwood di Selandia Baru di tembaki secara membabi buta oleh seorang tak berperi kemanusiaan, Brendon Terrant namanya. Tak kurang dari 50 orang meninggal, serta 50 orangnya lagi luka-luka termasuk 2 orang WNI yang juga menjadi korban.

Seperti dilansir Tribunnews mengatakan Pengamat Teroris, Yanuardi Syukur yang juga alumni Unhas mengatakan, apa yang terjadi di Selandia Baru adalah teroris yang dilakukan oleh seorang penganut supremasi kulit putih atas kulit berwarna.

Bukan hanya penembakan secara massal saja, yang lebih membuat miris ialah aksi teror tersebut disiarkan langsung oleh pelaku di jejaring sosial facebook mililknya. Tentu tragedi ini membuat siapa saja geram dan mengutuk keras aksi biadab penembakkan tersebut. Bagaimana mungkin, masjid yang harusnya menjadi tempat teraman dan ternyaman bagi umat muslim untuk beribadah, ini malah sebaliknya.

Menjadi tempat hilangnya nyawa-nyawa tak berdosa akibat ulah sang teroris yang memiliki resistensi kepada islam. Harusnya disini pemerintah setempat mampu memberikan rasa aman bagi pemeluk agama manapun untuk bisa menjalankan aktivitas ibadahnya. Tragedi ini membalikkan semua tuduhan-tuduhan barat bahwa islam bukanlah agama teroris. Dan kita meyakini bahwa tidak ada agama apapun tidak mengamini paham terorisme.

Tak lama berselang pasca peristiwa tersebut negeri kita juga digegerkan dengan peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di negeri kita, tepatnya di Sibolga, Sumatra Utara. Lebih dari ratusan rumah hancur akibat ledakan bom tersebut. Dari kedua tragedi tersebut sudah sepatutnya kita umat manusia menyampaikan rasa iba dan belasungkawa kepada korban.

Pada dasarnya aksi teror bukan hanya membunuh nyawa, tapi juga membunuh kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang sepertinya masih belum sepenuhnya menyelesaikan permasalahan terorisme ini. Untuk itu, bagi seluruh masyarakat Indonesia kasus seperti ini bukan hanya memandang dari segi keagamaannya saja, pun terdapat sisi lain yang bisa kita ambil yaitu perikemanusiaan.

Dimana, tentunya kita tahu bahwasannya tidak ada agama satupun yang mengajarkan penganutnya untuk saling membunuh, mencela dan membenci. Kita, sebagai manusia harus saling mencinta dan mengasihi tidak memandang bulu. Kepekaan kita sebagai sesama manusia sedang diuji, masihkah kita diam ketika ada sebagian saudara kita yang sedang menderita? (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...