Dampak Era Globalisasi Pada Dunia Pendidikan

Oleh:

Dede Safira

Jurusan Pendidikan Agama Islam – Universitas Sultan Maulana Hasanudin Banten


OPINI – Global barasal dari kata globalization. Globe secara bahasa berarti dunia, dan lobal artinya mendunia, sedangkan lization artinya proses. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), globalisasi berarti proses masuknya ke ruang lingkup dunia. Jadi kata globalisasi dapat diartikan sebagai suatu upaya atau proses yang berdampak pada aspek kehidupan secara men-dunia.

Kehadiran globalisasi menuntut perubahan yang mendasar bagi setiap individu. Kita harus menjadikan perubahan itu sebagai tantangan bukan acaman. Dalam menjawab tantangan globalisasi maka dibutuhkan sumber daya manusia yang berkarakter handal dan berdaya saing tinggi.

Dilihat dari ilmu antropologi, sebagaimana Rogers, Burdge, Korsc-hing dan Donner Meyer (1988:437) nyatakan bahwa pendidikan sebagai proses trasmisi budaya mengacu kepada setiap bentuk pembelajaran budaya (cultural learning) yang berfungsi sebagai transmisi pengetahuan, mobilitas sosial, pembentukan jati diri dan kreasi pengetahuan.

Untuk mewujudkannya maka disinilah peran pendidikan sangat di perlukan untuk menampilkan diri sebagai bagian dari tantangan globalisasi tersebut. Pendidikan ditantang untuk mengahasilkan para lulusan yang handal dan berdaya saing tinggi, bukan justru sebaliknya mandul dalam menghadapi berbagai kemajuan dan dinamika globalisasi tersebut.

Disisi lain pengaruh pendidikan yang mengembangkan kemampuan untuk solidaritas tinggi, bersabar, berjiwa kepemimpinan, hormat kepada prang tua, guru, memelihara lingkungan kini justru semakin melemah.

Sementara itu, kemajuan teknologi dan pertumbuhan eko-nomi yang terjadi juga akan melahirkan generasi yang disiplin, tekun, dan kompetitif. Namun demikian, kompetisi tersebut juga berdampak pada aspek budaya dan nilai-nilai masyarakat kita yang akhirnya akan melahirkan generasi yang “kaya dalam materi tetapi miskin dalam rohani”, khususnya di kalangan remaja dan pelajar.

Kemerosotan wibawa orang tua, guru, dan ditambah tergerusnya nilai-nilai sosial yang ada telah melemahkan sendi-sendi kehidupan sosial yang berperan penting dalam pengembangkan potensi peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia di tengah perkembangan teknologi informasi dan media sosial yang masif dan eksesif.

Hal ini akan membawa budaya liberal, yang jauh berbeda dengan nilai-nilai budaya luhur kita dan nilai-nilai agama. Akibatnya, pergaulan bebas, perilaku menyimpang, serta praktik-praktik dekadensi moral (akhlak) lainnya tumbuh dan berkembang dengan cepat dan merusak generasi bangsa kita. Tidak ada cara efektif untuk mengatasi hal tersebut, kecuali dengan menanamkan nilai-nilai agama.

Ini semua membutuhkan peran aktif semua pihak: guru, orang tua, lingkungan pendidikan, lingkungan sosial, dan pergaulan. Dan negara atau pemerintah wajib memfasilitasinya dengan mendukung, mempromosikan, dan menunjukkan keseriusan dalam menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan berne-gara yang nasionalis, religius, berintegritas, mandiri, bergotong-royong berdasarkan Pancasila. (***)

You might also like
Comments
Loading...