CIA Dituding Berada Dibalik Teror Charlie Hebdo

Paris (14/1/2014), SatuBanten – Serangan brutal ke kantor majalah satir Charlie Hebdo, Rabu (7/1), dikabarkan merupakan operasi dari Badan Intelejen AS (CIA).

Peneliti independen dan penulis asal California, Soraya Sepahpour Ulrich, mengatakan seluruh insiden Paris termasuk penembakan di kantor Charlie Hebdo, penembakan polisi dan penyanderaan di supermarket Yahudi menjadi teka-teki, dan kita harus menemukan koneksi antara satu dan lain peristiwa.

Menurut Ulrich, banyak yang meragukan insiden Paris. “Banyak pula yang berpikir ini operasi bendera palsu,” ujarnya. “Kita harus menghubungankan insiden ini dengan underwear bomb yang gagal. Itu operasi bendera palsu yang dilakukan CIA.”

Dikutip dari Associated Press (AP) memberitakan bahwa Mohammed al-Kibsi, peneliti dan wartawan asal Yaman mengaku bertemu salah satu dari Kouachi Bersaudara, penyerang kantor Charlie Hebdo, sebelum peristiwa.

Kepada Al-Kibsi, salah satu dari Kouachi mengatakan tinggal bersama orang Nigeria yang berada di belakang komplotan underwear bomb yang gagal lima tahun lalu.

“Kami juga telah diberi tahu beberapa media mainstream bahwa Al Kibsi mewawancari salah satu dari Kouachi,” ujar Ulrich dalam wawancara dengan PressTV.

Umar Farouk Abdul Mutallab divonis bersalah karena mencoba meledakan pesawat Northwest Airlines Flight 253 rute dalam perjalanan Detroit ke Amsterdam.

“Ketika kabar salah satu dari Kouachi bertemu perencana underwear bomb, pers melupakan satu hal, yaitu informasi soal underwear bomb,” ujar Ulrich. “Tahun 2012 terungkap bahwa underwear bomb adalah operasi yang dilakukan CIA dan Arab Saudi.”

Mei 2012, masih menurut Associated Press, pejabat AS dan Yaman juga mengatakan underwear bomb adalah operasi rahasia intelejen Arab Saudi dan CIA. Kedua organisasi itu memberikan bom non-logam tipe baru, yang bertujuan melewati pengamanan di bandara.

Said dan Cherif Kouachi, penyerang dan pembantai di kantor Charlie Hebdo, terdesak di sebuah kompleks pabrik Dammartin-en-goele dan ditembak aparat keamanan Prancis.

“Setelah itu kita harus memahami siapa yang harus menjadi terduga dalam kasus ini,” ujar Ulrich. “Semua orang tidak mengatakan yang sebenarnya. Yang ada adalah kebohongan, dan kita harus menelusuri kembali ke CIA.”  (Ahmad/INL/B01)

You might also like
Comments
Loading...