Cara Sederhana Melawan Hegemoni Minimarket Dengan Gerakan BDWT

 

Rabu, 26 September 2018

London Euromonitor Internasional mencatat Indomaret ,grup Indomarco Prismatama menjadi retail dengan penjualan terbanyak dengan pendapatan senilai US$ 4,89 miliar atau setara Rp 72,96 triliun selama tahun 2017. Warung keontong hanya membukukan Rp 12 – 24 juta pertahun. Di Wanayasa, seorang pria menggagas gerakan Belanja Di Warung Tetangga (BDWT) untuk mengatasi hegemoni minimarket tersebut.

Satubanten.com – Liska dan pasangannya baru menikah sekira pertengahan Tahun 2018. Sudah barang tentu jika dua orang menikah, pasti akan saling berbagi kebiasaan dan ide-ide dalam menjalani hidup. Begitu pula Liska, sekira sebulan setelah menikah ia membagikan satu pengalaman unik dan menarik yang ia ceritakan melalui akun media sosialnya.

“Setelah menikah aku sudah mulai memulai lagi kebiasaan berbelanja di warung – warung dekat rumah. Pak suami juga setuju untuk mulai membeli barang – barang yang sekiranya tersedia di warung dan menunda untuk membeli di toko-toko semacam minimarket. Awalnya memang agak susah konsisten tapi lama-lama juga terbiasa kok,” tuturnya melalui whatsapp storynya.

Tentu bukan tidak sengaja, Liska dan suaminya menerapkan pola belanja semacam itu. Ada latar belakang yang kuat dan sikap keperpihakan dalam laku belanja seperti yang Liska dan suaminya terapkan. Yakni keberpihakan kepada ekonomi masyarakat daripada ekonomi korporasi. Gerakan semacam ini kita kenal dengan Gerakan Belanja Di Warung Tetangga (BDWT).

Dalam laporannya, The Jakarta Post merilis data bahwa Indomaret yang merupakan salah satu minimarket di Indonesia, menjadi retail dengan penjualan terbaik selama tahun 2017. Dalam laporan tersebut, menurut hasil riset dari London Euromonitor Internasional, Indomaret yang merupakan grup Indomarco Prismatama mengantongi pendapatan senilai US$ 4,89 miliar atau setara Rp 72,96 triliun selama tahun 2017.

Angka tersebut mengalahkan salah satu kompetitornya yakni Alfamart milik Sumber Alfaria Trijaya yang hanya membukukan pendapatan senilai US$ 3,97 miliar atau setara Rp 59,23 triliun. Dengan kepemilikan 15.533 outlet di seluruh Indonesia, Indomart tentu unggul dibandingkan Alfamart yang hanya mempunyai outlet sebanyak 13.991 di seluruh Indonesia. Namun yang menjadi perhatian masyarakat adalah keuntungan yang dibukukan kedua ritel tersebut rupanya lari kepada pihak perseorangan dan cenderung menjadi pesaing serius bagi warung – warung kecil milik masyarakat.

Warung Bapak Sahuri misalnya. Warung kelontong yang menjual berbagai macam barang kebutuhan sehari-hari di kota Cilegon tersebut bisa mengantongi pendapatan sebulan Rp 1,5 – 2 juta. Itupun dengan jam buka toko hampir sehari semalam, dari jam 8 pagi hingga jam 3 pagi. Jika diakumulasi pendapatan pertahun warung pak Sahuri hanya sekitar Rp 18 – 24 juta pertahun.

“Kalau disini saya sama keluarga mah ya segitu insyaallah masih cukup untuk keluarga. Kalau misalnya kurang-kurang apa-apa misalnya buat dirumah kan bisa ambil juga dari warung, jadi ya aman,” tutur Sahuri.

Pendapatan warungnya tentu jauh dengan pendapatan rata-rata outlet Indomaret. Jika dihitung berdasarkan laporan London Euromonitor Internasional, maka pendapatan perbulan per outlet Indomaret mencapai Rp 389 juta. Pendapatan satu warung kelontong hanya sekitar 6,1% dibandingkan pendapatan satu outlet indomaret. Dalam hitungan kasar semacam ini, jaraknya terlihat sangat jauh.

Hal inilah yang kemudian mengusik, Ikhsan Firmansyah, salah seorang pedagang dan pemilik taman baca di Wanayasa, Purwakarta menggagas gerakan Belanja di Warung Tetangga (BDWT). Gerakan ini muncul sekitar tahun 2016, dan meluas hingga ke pelosok Cilegon, yakni pada keluarga Liska.

Bagi Liska dan suaminya maupun Ikhsan tentu menjadi penting untuk kembali menggelorakan gerakan BDWT tersebut. Karena perekomnomian selalu bergerak dari tingkat terbawah usaha kecil yang dilakukan masyarakat. Seburuk apapun hasil kajian tentang hegemoni minimarket dalam tatakelola perekonomian masyarakat, tentu akan sangat sulit menumbangkannya. Oleh karena itu, gerakan sesederhana Belanja Di Warung Tetangga ini menjadi titik tolak pembelaan kepada ekonomi rakyat sekaligus simbol perlawanan terhadap hegemoni pasar modal yang menggerus masyarakat di semua lini kehidupan.

Ditulis oleh : Imam B. Carito

Diedit oleh : SBS032

*Baca tulisan lain Imam B. Carito atau artikel lain tentang Gerakan Belanja Di Warung Tetangga (BDWT).

You might also like
Comments
Loading...