BP KAMMI Kota Cilegon Kunjungi Kabid Kominfo Tegaskan Peranan Wanita di Masyarakat

Cilegon (12/12/2018), Satubanten.com – Bidang Perempuan (BP) Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PD KAMMI) Kota Cilegon kembali menggelar diskusi terkait isu perempuan, Rabu (12/12) di Kantor Dinas Kominfo Kota Cilegon. Kali ini, BP PD KAMMI Kota Cilegon menyambangi Kabid Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Dinas Kominfo Kota Cilegon, Hj. Atikoh, S.Ag, M.Si.

Isu viralnya petisi “Hentikan Iklan BLACKPINK” yang diunggah oleh salah satu tokoh muslimah Maimon Herawati menjadi pembuka diskusi tersebut. Menurut Atikoh, KPI seharusnya meninjau ulang terkait konten-konten yang akan ditayangkan.

“Seharusnya KPI bisa bekerja dengan baik pada saat sebelum akan ditayangkan. Bukan malah jadi tidak konsisten dengan adanya petisi tersebut. Contohnya misalnya pada kasus Tiktok kemarin, sudah dihapus tapi kemudian muncul kembali. KPI juga seperti vakum saat ini, karena bisa kita nilai sendiri dari konten-konten yang ada di TV saat ini,” tutur Atikoh.

Dasar Agama menurutnya juga menjadi hal yang penting ditanamkan di rumah, sehingga anak-anak mampu menyaring sendiri mana tontonan yang baik dan yang tidak baik. Hal ini dianggap penting karena di era keterbukaan informasi, generasi milenial cenderung menganggap konten tersebut merupakan hal biasa.

Isu lain yang menjadi topik pebicaraan dalam diskusi tersebut yaitu isu gender. Menurut Atikoh kesetaraan gender memang sesuai sepanjang pada taraf pelaksanaan hak, kewajiban, peranan dan fungsi. Bukan seperti pemahaman kaum feminis yang mengacu pada ‘pemikiran barat’ dan terlalu liberal.

“Setara bukan berarti sama, karena secara fisik dan fitrah jelas berbeda. Dalam Islam perempuan sangat dihargai, laki-laki dan perempuan dianggap sama dalam hal menuntut ilmu dan kewajiban keduanya untuk bertakwa kepada Allah,” imbuhnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Bidang Perempuan (BP) KAMMI Kota Cilegon, Athia Hasna Nurhanifah. Menurutnya kesetaraan gender adalah tentang peran dan fungsi. Tetapi ada batasan-batasan di dalamnya, ada hak dan kewajiban yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.

“Tidak menjadi feminis bukan berarti tidak memuliakan perempuan. Karena pada hakikatnya, perempuan sudah dimuliakan oleh agama yang merupakan landasan hidup masyarakat,” tutur Hasna.

Atikoh dalam diskusi tersebut juga berpesan kepada segenap perempuan agar selalu sadar dan tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan. Dirinya juga memberikan pesan bahwa laki-laki tidak boleh terlalu otoriter dan semena-mena terhadap perempuan, melainkan harus menjadi pemimpin bagi perempuan.

“Wanita itu adalah tiang negara, meskipun wanita karir tetapi harus tetap ingat kodratnya. Namun demikian, wanita juga harus tetap bersemangat meraih kesuksesan dunia akhirat. Jadilah ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anak,” pungkas Atikoh. (IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...