BMKG Segera Ganti Alat Peringatan Dini Tsunami di Banten Yang Rusak

Serang (28/11/2019), Satubanten.com – Cuaca ekstrim yang melanda Kota Serang menyebabkan beberapa alat peringatan dini Tsunami mengalami kerusakan. Hal ini dikonfirmasi oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas 1 Serang, Fachkrurazi.

“Jadi ketika kejadian memang kita dipanggil ke BPBD dan ada beberapa alat kita di sana. Yang pertama itu DVB atau Digital Video Broadcast. Pertama yang dilaporkan mengalami kerusakan itu DVB dan kita sudah sampaikan ke pusat karena memang itu wewenangnya di pusat, kami di sini hanya pengawasan saja, pusat yang nanti mengambil tindakan. Sedangkan mengenai TEWS itu kerusakannya baru ketahuan waktu uji coba kemarin,” kata Fachkrurazi.

Menurut keterangan Fachkrurazi, uji coba alat peringatan dini Tsunami atau Tsunami Early Warning System (TEWS) memang dilakukan secara rutin. Uji coba dilakukan serentak di seluruh Indonesia setiap bulan di tanggal 26 pada pukul 10.00 WIB. Waktu uji coba ini berdasarkan pada waktu terjadinya Tsunami Aceh yakni pada tanggal 26 Desember 2004.

Dalam sistem peringatan dini Tsunami, TEWS mengambil peran sebagai corong penyiar atau alarm peringatan. Sedangkan DVB merupakan sistem yang menyebarkan informasi kejadian gempa. Melalui alat detector gempa yang ditanam di berbagai titik, data pusat gempa masuk ke sistem DVB dan disiarkan secara visual. Jika gempa tersebut berpotensi Tsunami, maka TEWS yang mengambil peran untuk memberikan peringatan berupa sirine peringatan dini.

BACA JUGA : Alat Pendeteksi Tsunami Milik Banten Rusak, Warga Pesisir Pantai Diminta Waspada

Fachkrurazi mengatakan bahwa, walaupun DVB di BPBD mengalami kerusakan, masyarakat tidak perlu khawatir karena sistem DVB tidak hanya ada di BPBD namun ada juga di BMKG. Sehingga proses penyiaran gempa yang berpotensi Tsunami masih bisa dibackup dengan DVB yang ada di BMKG Kelas 1 Serang.

“Alat-alat ini sebenarnya kan hanya warning atau peringatan saja. Sedangkan alat-alat pendeteksi gempa semuanya itu masih tetap aktif semua. Jadi ketika ada DVB yang disana rusak, kita masih bisa membantu disini, tidak ada masalah itu. Hanya, mungkin nanti ketika potensi Tsunami, sirine peringatannya tidak bisa dibunyikan. Tapi peringatan tetap bisa pakai jalur-jalur komunikasi yang lain, itu masih berfungsi,” imbuhnya.

BMKG Kelas 1 Serang, menurut Fachkrurazi memang tidak mempunyai kewenangan dan anggaran untuk melakukan perbaikan. Namun demikian, pihaknya telah melaporkan hal tersebut ke pusat. Tindakan penanganan dan penggantian, terutama untuk perangkat DVB yang rusak akan dilakukan di awal tahun 2020.

“Untuk kerusakan sirine memang karena petir, jadi bukan rusak karena tidak dipelihara. Untuk DVB itu akan diganti di awal tahun 2020 karena itu sudah tidak mungkin diperbaiki. Hanya untuk sirine sepertinya karena itu membutuhkan biaya yang cukup besar maka nanti eksekusinya di tahun 2020,” kata Fachkrurazi.

Meskipun sirine sistem peringatan dini Tsunami mengalami kerusakan, Fachkrurazi menghimbau pada masyarakat agar tetap peduli dan respect terhadap segala kemungkinan. Kemampuan membaca alam dan kewaspadaan untuk melakukan evakuasi harus tetap ditumbuhkan dalam diri masyarakat. Agar dampak kejadian semacam Tsunami dapat diminalisir.

“Jadi masyarakat itu harus kita didik bagaimana misalnya, ada Tsunami jangan nunggu ada sirine dulu, tapi harus sudah siap dan tanggap dengan tanda-tanda alam. Juga siap melakukan evakuasi diri, dan dididik untuk tahu kemana arah-arah evakuasi, misalnya. Nah hal-hal inilah yang menjadi ranahnya BPBD. Jadi edukasi kepada masyarakat harus kita perkuat, dan masyarakat juga harus peduli terhadap alat-alat yang ada. Jangan sampai alat-alat itu rusak karena baterainya dicuri misalnya,” pungkasnya. (IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...