Bermain dan Belajar di Museum Banten Bersama Sanggar Wuni Kreasi

Hari masih pagi saat kami sampai di Museum Negeri Banten, Serang. Rasanya hampir sekitar 45 menit kami menempuh perjalanan dari Kota Cilegon. Tidak mudah, karena sepagi ini saja kami sudah harus menembus asap bercampur debu dari Monster Transformer yang sudah lalu Lalang. Itu adalah sejenis truk besar yang mengangkut pasir atau tanah yang dikeruk dari bumi Kota Cilegon.

Beruntung Museum Negeri Banten menjamu kami dengan udara segar pepohonan yang asri. Masih jam tujuh lebih lima belas menit, petugas kebersihan juga masih menyapu halaman Museum. Daun kering kecoklatan yang berserakan, kini disulapnya rapih seketika. Museum yang berupa bangunan besar peninggalan Belanda itu, dulunya pernah dijadikan kantor Gubernur Banten.

Kini Kami disini hendak menghadiri undangan dari Dinas Pendidikan Provinsi Banten tepatnya UPTD Museum Negeri Banten. Acara yang bertajuk Belajar Bersama di Museum ini berlangsung dari tanggal 30 hingga 31 Juli 2019. Ratusan pelajar SD, SMP dan SMA dari berbagai Kabupaten dan Kota di Banten ikut serta dalam acara ini. Para pelajar ini lalu diajarkan mewarnai gerabah, seni melipat kertas origami dan  menggambar layang-layang.

Kak Aman, selaku pendongeng dari Sanggar Wuni Kreasi kebagian mengisi acara pertama sebelum menggambar layang-layang. Ia mendongeng di hadapan anak-anak SMP. Disaat bersamaan, kelompok anak SMA melukis gerabah yang berada di taman Museum. Sementara anak SMP melakukan kegiatan lain di teras belakang Museum.

Sebagai pendongeng, Kak Aman tak buru-buru mendongeng. Ia bermain ice breaking dengan peserta terlebih dahulu. Saat permainan dilontarkan, alunan backsound piano yang dimainkan salah satu murid SMP menemani. Rasanya kami seolah sedang berada dalam acara seminar motivasi.

Dalam permainan ini peserta membuat kelompok dengan teman yang berbeda sekolah. Para peserta yang memang belum saling mengenal itupun riuh seketika. Kak Aman yang tanggap dengan kondisi itu lalu membuat permainan.

“Kakak akan bercerita, kalau dalam cerita itu kakak sebut angka dua, tiga, empat dan seterusnya berarti kalian harus berkumpul sesuai dengan angka yang kakak sebutkan. Dengan catatan gak boleh memilih teman satu sekolah. Misalnya, di sebuah gubuk terdapat 4 orang petani, berarti kalian berkumpul?” Kak Aman berhenti memotong ceritanya.

“Empaaat oraang,” saut para peserta.

“Oke cyakeeep,” balas Kak Aman.

Sinar matahari mulai menanjak di teras Museum. Semakin lama semakin menyengat. Sementara, para  guru yang mendampingi duduk di deretan teras berwarna abu tua sambil memperhatikan kegiatan.

Kak Aman mulai bercerita bahwa ada anak bernama Alan. Ia adalah seorang anak kecil yang baru masuk sekolah. Adik kak Aman ini gemar bermain games. Karena sudah mulai kecanduan, Alan sulit diajak berkomunikasi. Ia hanya berfokus pada gadget. Mamahnya sering marah-marah.

“Alan, main hape aja yah, sini mamah ambil kamu yaaa,” kata mamahnya dengan kesal.

Mendengar mamahnya marah, Alan langsung ke kamar. Melihat hal itu, Kak Aman berputar otak. Aman lalu mempunyai ide mengajak Alan ke Museum.

“Alan, ikut kakak yuk ke Museum,” bisik Kak Aman. Meski dengan berat hati, Alan akhirnya ikut ke Museum tersebut.

Sesampainya di lokasi, Alan bengong lantaran baru pertama berkunjung ke tempat ini. Ia terpengarah dan tertarik pada satu benda, yaitu patung badak.

“Hoi, jangan bengong, ayo masuk,” tegur kak Aman.

“Kak, ini patung apa?” tanyanya.

“Oh, ini namanya badak bercula satu, hidupnya di Ujung Kulon di Taman Nasional. Nah, ini patungnya,” Kak Aman menrangkan.

“Oh gitu, gede juga ya, item lagi patungnya,” gumam Alan sambil ngekus-ngelus patung badak.

Alan, pelan-pelan masuk ke dalam. Ia menyusuri benda demi benda. Ia tertarik dalam satu koleksi, yaitu hologram badak. Terdapati keterangan audio visual ia sambil memperhatikan gerakan badak yang terpampang di ruangan kecil berukuran duapuluh kali dupuluh sentimeter.

Ia amati satu persatu benda per benda. Dalam amatan tersebut, ia melihat pintu terbuka yang dalamnya berisi tembok warna-warni. ‘Ruangan Anak’ tulis di dinding dekat pintu. Alan langsung masuk ruangan.  “Alan, itu sandalnya dilepas, ada tulisan di depan pintunya” bisik Kak Aman dari belakang. “Hehee, ngggak keliatan Kak”

Alan asyik bermain, senyum sumringah terpancar dari wajahnya. Disekelilingnya, terdapat anak-anak lainnya. Tak banyak, hanya sekitar sepuluh orang. Alan memainkan bola kecil warna warni,sambil berlari mengijak rumput sintetis berwarna hijau tua.

Peserta belajar bersama di museum sibuk mendengarkan, suasana begitu teduh, angin semriwing begitu terasa menyentuh kulit. Alunan backsound piano itu masih merdu bak romantisme Annelis dan Minke.

Di sudut barisan, pria tua hendak maju kedepan. Ia adalah penyuka layang-layang, kali ini bergantian dengan kak Aman. Ia memegang mic, sambil menceritakan sedikit soal layang-layang di Indonesia.

Layang petek berwarna putih dibagika, sekaligus cat air sebagai alat lukis. Setiap peserta mendapatkan satu persatu. Jam menunjukan di angka sepuluh lewat tiga puluh. Mereka mulai melukis dari dasar hingga warna sesuai dengan imajinasinya. (IBC/SBS032/RLS)

You might also like
Comments
Loading...