Berbekal Ijazah SD, Sanadi Berjibaku Jadi Pemulung di Kota Besar (2)

Satubanten.com – Pendidikan menjadi salah satu sarana terpenting dalam menjalani hidup, dimana pendidikan berperan penting saat kita menentukan sikap dan salah satunya adalah untuk memperbaiki tatanan kehidupan yang lebih layak.

Program sekolah sembilan tahun yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia sepertinya belum berbanding lurus denga kondisi di lapangan terutama di pelosok desa.

Sunadi atau yang dikenal dengan Nardi, seorang pemuda kelahiran tahun 1989 asal Suwakan Kecamatan Bayah Lebak, harus puas hanya bisa menamatkan pendidikan hingga Sekolah Dasar (SD) karena ketiadaan biaya untuk lanjut ke jenjang berikutnya.

Nardi adalah anak ke 4 dari 5 saudara dari seorang ibu yang hanya bekerja sebagai pengumpul pasir sungai yang ditinggal mati suaminya.

Dari lima bersaudara, hanya Sanadi yang menempuh pendidikan tertinggi yakni sampai Sekolah Dasar. Hal ini dikarenakan himpitan ekonomi dan iming-iming gaji besar dikota membuat ia pada tahun 2001 memutuskan untuk ke kota mencari rezeki.

Dalam perantauanya di usia yang sangat belia, ia hanya bisa menjadi seorang pemulung di Kota Depok, dimana penghasilanya hanya 10 ribu sampai 30 ribu per hari.

Dalam kesehariannya ia mencari rongsokan dari pagi hingga petang bersama rekan satu kampungnya yang saat itu merantau ke Depok.

Merasa kurang dengan hasil yang didapat, Sanadi saat itu memutuskan untuk menjadi penjaja mainan keliling di sekolah-sekolah.

“Pada tahun 2004 saya pindah ke Tangerang dari Depok untuk berjualan mainan,” ucap Sanadi saat acara Morning Tea.

Tidak hanya menjadi penjual, Sanadi juga sempat memiliki karyawan untuk menjajakan mainan keliling.

“Pernah punya karyawan tapi gak lama karena nggak kuat bayar gajinya,” tambahnya.

Merasa tidak berhasil hidup di Kota Besar, Sanadi akhirnya kembali ke kampung halaman pada 2010.

“Waktu itu saya merasa malu untuk pulang, karena belum bisa bawa uang buat orang tua,” ujar Sanadi.

Akhirnya, saat di kampong, ia memutuskan masuk ke pekerjaan masuk ke galian lubang emas berharap bisa mendapatkan rezeki lebih dari sana.

“2010 saya pulang dan mulai masuk lobang cari emas, dan berharap bisa merubah nasib,” pungkasnya.

Namun, pekerjaan sebagai pencari emas di lubang tak juga berhasil karena harus main ‘kucing-kucingan’ dengan petugas serta aparat keamanan. Pada 2014, ia diajak oleh tetangganya untuk ikut serta bekerja di Relawan Kampung.

Saat ini Sanadi bekerja sebagai tukang batu di Relawan Kampung dan Heri sebagai juru las listrik.

Dirinya berpesan kepada anak muda dan siswa yang masih bersekolah, agar tetap melanjutkan pendidikan.

“Jangan lagi ada alasan untuk berhenti sekolah. Harus kuat menahan godaan kerja diwaktu muda dan harus tetap sekolah dulu,” pungkasnya.

Pendidikan yang diwajibkan 9 tahun oleh pemerintah ternyata tidak sepenuhnya berjalan, pola fikir masyarakat desa yang masih minim tentang pendidikan menjadi masalah besar yang harus dihadapi.(Bersambung)
(MHS/SBS)

You might also like
Comments
Loading...