Banten Girang Writer and Culture Festival Resmi Dibuka

Serang (5/11/2018),Satubanten.com – Laboratotium Banten Girang resmi membuka acara seminar nasional Banten Girang Writer and Culture Festival (BGWCF), Senin (5/11) di Situs Sejarah dan Budaya  Banten Girang Desa Sempu, Kota Serang. Puhun Adat Baduy, Kasepuhan Banten Girang, UPT Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Mahasiswa, Pegiat Seni dan budaya serta seluruh unsur masyarakat sekitar Banten Girang turut hadir dalam pembukaan tersebut.

Seminar Nasional BGWCF ini diselenggarakan Lab. Banten Girang atas dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) melalui dana hibah Fasilitasi Komunitas Kesejarahan dari Direktorat Jenderal Kebudayaan. Tema yang diangkat adalah “Sejarah Alternatif Banten Girang, Baduy dan Tionghoa Banten”.

Melalui seminar tersebut, masyarakat dapat menggali alternatif pembacaan sejarah lain tentang Banten dari masa sebelum era Islam datang. Hal ini dituturkan oleh ketua Laboratorium Banten Girang, Aliun, saat memberikan sambutannya. Menurutnya selama ini sejarah Banten hanya disorot melalui masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin hingga Sultan Ageng Tirtayasa saja, padahal Banten sudah eksis sejak sebelum masa tersebut.

“Melalui acara ini diharapkan peserta mampu menggali wacana sejarah alternatif Banten dari arus utama pembacaan sejarah dan kebudayaan seperti yang sudah sering kita dengar selama ini,” tuturnya.

Baca Juga : Jeritan Masyarakat Sempu Kota Serang

Acara seminar nasional BGWCF akan berlangsung selama 3 hari berturut-turut dengan materi yang berbeda setiap harinya. Pada hari pertama, seminar akan terfokus pada sejarah Banten Girang baik menurut pembacaan masyarakat setempat, melalui teks sejarah maupun melalui bukti arkeologis. Sedangkan di hari kedua akan terfokus pada sejarah Tionghoa Banten, dan di hari ketiga fokus pada pembicaraan tentang sejarah Baduy.

Menurut Aliun, seminar ini juga penting karena menyangkut sejarah awal mula eksistensi Sunda sebagai entitas, budaya dan suku. Bukti paling otentik yang dapat dinalar adalah keberadaan Selat Sunda yang ada persis di sebelah Banten.

“Sebelum adanya Banten, kita punya sejarah yang lain yaitu sejarah tentang Sunda yang hampir terlupakan bahwa Sunda itu ada di kita, ada di sini, ada di Banten Girang ini,” imbuhnya.

Pembukaan acara Seminar Nasional BGWCF ini juga dimeriahkan oleh penampilan grup musik Kebon Sora yang membawakan perpaduan musik modern dan musik tradisonal. Selain itu, penampilan pembacaan puisi dari Presiden Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (GAKSA), Rois Reinaldi juga turut memeriahkan acara. Untuk menjangkau khalayak yang luas, panitia seminar tidak membatasi peserta. Siapapun dan dari manapun bisa hadir mengikuti seminar tersebut untuk bersama-sama menggali sejarah tentang Banten. (IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...