Antara Liga Eropa dan Tahajjud

Oleh:

Suhandi, S.ST, MM

OPINI – Sepakbola merupakan salah satu olah raga yang memiliki penggemar paling banyak di dunia. Sebagian tidak hanya menggemari tapi juga fanatik terhadap tim sepakbola suatu negara atau klub. Piala Dunia, yang merupakan turnamen termegah dan paling bergengsi, menarik total 3,57 miliar penonton pada tahun 2018, yang berarti lebih dari setengah populasi global berusia empat tahun ke atas. Ada yang menonton langsung ke stadion dan mereka yang hanya menyaksikan siaran langsung melalui media televisi, nonton bareng layar lebar maupun streaming.

Sekarang ini sedang berlangsung 2 (dua) kompetisi besar di Benua Eropa dan Amerika. Kemeriahan kompetisi sepak bola tingkat Europa tidak hanya dirasakan oleh penduduk Benua Eropa saja. Seluruh dunia terutama pencinta olah raga sepakbola ikut menikmati perhelatan akbar ini melalu media televisi. Sejak 12 Juni hingga final 12 Juli 2021, pecinta sepakbola di Indonesia telah siap untuk menonton seluruh pertandingan walaupun harus rela begadang hingga pukul 4 pagi. Kemudian, hampir berbarengan dengan Liga Europa, mulai 14 Juni hingga 11 Juli 2021 berlangsung juga Copa America. Bedanya, Copa Amerika ditonton oleh pencinta sepakbola di Indonesia pukul 04.00 dan 07.00 WIB.

Bangun malam untuk dunia atau akhirat?
Persiapan untuk menyaksikan idolanya bertanding dilakukan dengan matang. Mulai dari ketersediaan kopi, rokok, cemilan atau alarm bangun tidur apabila tidur terlebih dahulu. Pertandingan yang biasanya dimulai pukul 23.00 atau sebelas malam dan pukul 02.00 dinihari dibela habis-habisan agar bisa menonton. Mereka puas apabila menyaksikan utuh setiap pertandingan dan pastinya menjadi modal yang kuat untuk diperbincangkan esok harinya oleh teman-teman sejawat atau sesama pencita sepakbola.

Kesulitan untuk bangun malam sering dirasakan oleh setiap muslim, tapi entah kenapa banyak orang yang dipermudah bangun malam atau begadang hanya untuk menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola. Memang pekerjaan yang menuju akhirat selalu tidak luput dari godaan syaithon dan urusan dunia didukung oleh syaithon. Manusia seakan-akan diperbudak dunia sehingga dilelahkan dan disibukkan dengannya, siang malam. Bangun malam pun karena target dunia.

Kegilaan menonton sepakbola seharusnya bisa menjadi modal bagi kita untuk dapat semakin dekat kepada Allah SWT. Waktu tayang tengah malam atau dinihari bisa diikuti dengan melaksanakan shalat malam atau Shalat Tahajjud. Waktu dinihari hingga menjelang shubuh bisa juga dimanfaatkan untuk melakukan santap sahur jika ingin melaksanakan puasa sunnah senin kamis, Yaumul Bidh atau puasa sunnah lainnya.

Alangkan indahnya apabila Shalat Tahajjud menjadi target nomor satu pada saat bangun malam. Menonton siaran langsung sepakbola hanya sebagai bonus setelah tujuan utama terlaksana. Jangan sebaliknya, Shalat Tahajjud dinomorduakan. Yang penting adalah menyediakan waktu khusus pada sepertiga malam terakhir untuk beribadah kepada Allah SWT. Dengan begitu shalat malam yang dilakukan akan lebih khusyu’.
Keistimewaan Shalat Tahajjud

Allah SWT menyediakan waktu 24 jam bagi manusia untuk beraktivitas. Sebagian untuk mengurus urusan dunia dan sebagian untuk urusan akhirat. Urusan duniapun asal diniatkan untuk ibadah, InsyaAllah akan mendaptkan pahala. Beberapa waktu diistimewakan oleh Allah untuk manusia mendekat kepadaNya. Salah satunya adalah waktu antara dinihari hingga pagi hari. Jika manusia belum pernah membiasakan beribadah pada waktu itu maka menonton bola dinihari menjadi momentum yang tepat untuk memulainya.

Kita tahu betapa istimewanya Shalat Tahajjud di Mata Allah SWT. Allah berfirman dalam QS. Al Israa ayat 79 yang artinya: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah Shalat Tahajjud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”

Pada waktu Shalat Tahajjud inilah waktu yang mustajab untuk memanjat permohonan, doa dan harapan kepada Sang Pencipta Alam. Shalat sunnah yang ditunaikan di keheningan malam itu, mengantarkan orang yang menunaikannya menjadi lebih dekat dengan Allah. Jika hamba yang dekat dengan Sang Penciptanya maka tidak ada halangan untuk terkabulnya doa. Orang yang rindu Tahajjud adalah orang yang mempunyai kadar keikhlasan lebih. Ia rela untuk menghentikan kelelapan tidurnya dan bersimpuh pada Khaliknya. Al Qur’an memuji mereka dengan menyebutnya sebagai orang-orang yang menjauhkan lambungnya dari tempat peraduannya.

Setelah menonton siaran langsung sepakbola dan Shalat Tahajjud maka sebaiknya jangan tidur karena khawatir Shalat Subuhnya terlewat. Gunakan waktu menjelang subuh untuk beristighfar, dzikir ataupun membaca Al Qur’an. Saat itu juga sangat tepat untuk belajar, menghafal pelajaran ataupun menghafal Al Qur’an.

Saat menonton siaran langsung sepakbola atau waktu sebelum subuh bisa digunakan untuk bersantap sahur jika ingin melaksanakan puasa sunnah. Puasa sunnah sangat dianjurkan untuk dilakukan oleh seluruh umat Islam. Salah satu hikmah dari menjalankan puasa sunnah yakni melatih kesabaran serta menumbuhkan rasa empati terhadap orang yang kelaparan. Berpuasa juga baik untuk kesehatan.

Jangan tinggalkan Shalat Subuh
Saat Adzan Subuh berkumandang maka kita harus segera bergegas berangkat ke masjid. Banyak sekali keutamaan yang didapat di waktu subuh. Rasulullah SAW mendoakan umatnya yang bergegas dalam melaksanakan Shalat Subuh, sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits, ”Ya Allah berkahilah umatku selama mereka senang bangun Subuh.” (HR Tirmizi, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah). Diriwayatkan Muslim dari Utsman bin Affan ra berkata; Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa yang Shalat Isya berjamaah maka seakan-akan dia telah shalat setengah malam. Dan barangsiapa Shalat Subuh berjamaah, maka seakan-akan dia telah melaksanakan shalat malam satu malam penuh.” (Hadits Riwayat Muslim).

QS. Al Israa ayat 78 menyebutkan bahwa shalat Subuh disaksikan malaikat. “Laksanakanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula sholat) Subuh. Sungguh, sholat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”

Allah SWT telah mengistemewakan waktu subuh. Shalat Subuh berjamaah di masjid disaksikan oleh malaikat dan tentu saja pahalanya berlipat-lipat. Namun, banyak umat Islam yang mengabaikan Shalat Subuh apalagi berjamaah di masjid. Alasan yang sering terdengar adalah susah untuk bangun pada saat adzan subuh berkumandang. Atau manusia lebih memilih untuk tetap tidur walaupun sempat bangun pada waktu subuh. Tingkat keimanan seorang muslim memang diatas segala-galanya. apapun kondisinya, jika iman kuat dihati maka Shalat Subuh berjamaah di masjid akan selalu dilakukan.

Jika memungkinkan, setelah Shalat Subuh selesai lakukan I’tikaf. Itikaf di masjid bisa berdzikir, membaca atau menghafal Al Qur’an atau kegiatan lain dalam rangka ibadah. Kegiatan ibadah ini bisa kita lakukan sampai masuknya waktu syuruq. Waktu syuruq atau thulu’ul syamsi adalah ketika terbitnya matahari sampai kira-kira naik seukuran tombak. Berlangsung 15 menit dari waktu matahari terbit. Pada saat waktu masuk waktu syuruq laksanakan shalat Sunnah Isyraq dua rakaat.

Rangkaian ibadah dari Shalat Subuh berjamah, itikaf dan Shalat Isyraq diterangkan dalam hadits berikut:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu, Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang melaksanakan Sholat Subuh secara berjamaah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan sholat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umrah.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi no. 586, Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Begitu istimewanya waktu sepertiga malam terakhir hingga pagi hari. Jangan hanya kita manfaatkan waktu itu hanya untuk sekedar kesenangan belaka. Tidak ada yang melarang manusia untuk menikmati kehidupan dunia, namun jangan lupakan akhirat. Alangkah hebatnya, jika banyak penggemar sepakbola memanfaatkan bangun malamnya tidak hanya untuk memuaskan hobbynya saja tapi juga untuk melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

Jangan tertipu urusan dunia
Allah SWT telah mengingatkan untuk tidak terpedaya dengan kehidupan dunia. Jika tertipu dengan dunia, sia-sialah waktunya, terluput dari berbagai amal shalih. Dihabiskan waktu dunia, siang dan malam, hanya untuk mengumpulkan harta dan bersenang-senang saja. Sementara itu, Orang-orang yang menyibukkan dunia dengan sesuatu yang akan bermanfaat untuknya kelak di sisi Allah Ta’ala, mereka adalah orang-orang yang beruntung, baik di dunia dan di akhirat. Dia beruntung di dunia karena menyibukkan diri dalam amal kebaikan. Demikian pula, dia beruntung di akhirat karena telah membekali diri dengan berbagai amal shalih. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran,“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu.” (QS. Luqman [31]: 33)

Hendaklah manusia memanfaatkan berbagai fasilitas dan perhiasan dunia ini untuk memperbaiki amal ibadahnya. Sehingga bermanfaat untuk dirinya, baik untuk kehidupan saat ini, atau kehidupan di masa mendatang. Semoga kita semua, menjadi insan yang lebih baik, untuk urusan dunia maupun akhirat. Mudah-mudahan seluruh pencinta sepakbola di Tanah Air bisa memanfaatkan bangun malamnya untuk mendekat kepada Allah SWT dan berlanjut pada hari-hari berikutnya. Aamiin. (***)

You might also like
Comments
Loading...