Anggota Komisi I DPR RI Sebut Warga Kita Belum Bisa Bangga Jadi Petani

Serang (11/11) Satubanten.com – Sebagai Negara agraris, warga Negara Indonesia seharusnya bisa mengembangkan pola hidup sebagai petani dengan baik. Namun hingga saat ini, rasa bangga menjadi petani belum tertanam dalam jiwa masyarakat. Hal ini menurut Anggota Komisi I DPR RI, sebagai hasil dari kurangnya tingkat kesejahteraan petani masyarakat Indonesia.
“Petani kita itu sampai saat ini belum bisa bangga menjadi petani, belum seperti di Kanada atau Belanda atau di negara lain. Kalau di sana petani itu rumahnya besar-besar, itu karena pertanian bisa memberikan kesejahteraan bagi warganya. Di sini belum bisa begitu, belum apa-apa pupuk mahal, udah panen harga anjlok karna serbuan beras impor,” tutur Jazuli.
Pernyataan tersebut diutarakan saat memberikan materi dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional I Wilayah Jakarta dan Banten, Minggu (11/11) di Balroom Hotel Ledian, Kota Serang. Seminar dengan tema “Mewujudkan Kemandirian dan Kesejahteraan Petani-Nelayan Melalui Dukungan dan Akses Permodalan” tersebut dihadiri oleh Gapoktan dan Nelayan seluruh Keabupaten Serang.
Dalam lanjutan materi seminarnya Jazuli menyebutkan bahwa efek ketidaksejahteraan tersebut berimbas pada pemenuhan modal pertanian. Jika harga panen anjlok dan petani tidak bisa memenuhi ongkos pupuk, bibit dan pengolahan serta pemeliharaan maka lama kelamaan warga akan kekurangan modal. Dan akhirnya dengan terpaksa mereka akan menjual tanah pertanian miliknya kepada pemilik modal untuk dapat memenuhi kekurangan tersebut.
“Saat para petani sudah tidak mampu lagi memenuhi kekurangan modal dalam pertanian tersebut maka masyarakat terpaksa menjual sawah mereka. Yang awalnya statusnya adalah petani, pada saat lahan dijual namun dia tetap menggarap sawah tersebut, maka statusnya berganti dari petani menjadi buruh tani,” imbuhnya.
Hal tersebut juga diamini oleh Deputi Direktur Informasi, Dokumentasi dan Edukasi serta Perlindungan OJK Kantor Regional I Purnama Jaya. Menurutnya, hal semacam itu bisa terjadi Karena mindset para petani Indonesia masih sebagai arus produksi, bukan sebagai investor. Hal ini penting karena aktivitas pertanian sejatinya juga merupakan aktivitas investasi pada produk pertanian.
“Selama ini kita tahu bahwa petani kita juga belum sepenuhnya menerapkan pertanian sebagai suatu kegiatan investasi. Jika mindsetnya sudah berubah, baru nanti fokus pembinaan juga akan lebih terkontrol. Salah satunya yaitu melalui penyaluran di masing-masing Gapoktan di daerahnya,” ujar Purnama Jaya.
Namun memang meurutnya hal ini tidak bisa tercapai jika tidak ada kerja sama yang baik antara pemangku kebijakan, petani dan pihak perbankan dalam hal ini adalah OJK. Sinergi antar elemen tersebutlah yang mampu menjadikan kesejahteraan petani meningkat dan akhirnya para petani Indonesia bisa kembali membanggakan diri atas pertaniaanny. (IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...