Alat Pendeteksi Tsunami Milik Banten Rusak, Warga Pesisir Pantai Diminta Waspada

Serang (28/11/2019), Satubanten.com – Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Banten M. Juhriyadi mengatakan bahwa saat ini sistem peringatan dini bencana tsunami yang dimiliki Banten sedang rusak. Akibatnya, tiga sirine peringatan utama di pesisir Carita, Panimbang, dan Labuan tidak bisa berbunyi jika nantinya terjadi situasi bencana.

Kerusakan sistem Pusat Pengendalian Operasi dan Penanggulangan Bencana (Pusdalops) ini terjadi lantaran antena sistem tersebut rusak karena angin kencang dan petir yang melanda Kota Serang beberapa waktu lalu.

“Alat yang ada di Pusdalops menggunakan sistem jaringan satelit, antenanya tersambar petir. Jadi karena kerusakan ini, alat peringatan di Labuan, Panimbang itu nggak nyala,” ujar M. Juhriyadi, Rabu (27/11).

Untuk penanganan sementara, ia mengatakan telah berkoordinasi dengan warga yang ada di pesisir untuk memantau informasi bencana langsung di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). “Sudah saya hubungi, kalau ada informasi potensi tsunami dari BMKG atau melihat kondisi air laut yang mencurigakan agar (sirine peringatan tsunami) langsung dinyalakan secara manual,” ujarnya.

Ia juga sudah berkoordinasi dengan dewan masjid di sekitar pesisir pantai agar masjid yang ada di sekitar pantai bersiaga terhadap informsi bencana. Pengumuman bisa dilakukan melalui pengeras suara yang ada rumah ibadah tersebut dikatakannya bisa difungsikan warga saat adanya informasi bencana.

Kerusakan sistem peringatan tsunami ini, menurutnya, baru pertama kali terjadi dan telah dilaporkan ke BMKG pusat. Meski begitu, ia mengakui belum bisa mengatakan waktu selesainya perbaikan sistem ini.

“Sudah kita laporkan semua kerusakannya, hanya memang belum punya target kapan karena yang akan memperbaiki langsung dari BMKG pusat,” ujarnya.

Sementara itu, Rahmat (48) warga Carita mengatakan bahwa sebaiknya pemerintah segera memperbaiki alat pendeteksi tsunami agar warga tidak khawatir. “Tahun lalu juga saat ada tsunami, kami warga tidak mengetahui karena bencana tsunami di Selat Sunda berbeda dengan daerah lain karena bukan berasal dari gempa tapi dari longsoran Anak Krakatau,” ungkap Rahmat.

Setahun lalu, sebelum tsunami Selat Sunda melanda, Ketua Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Tiar Prasetya, mengatakan, bahwa alat pendeteksi tsunami (Buoy) di Perairan Selat Sunda mengaku bahwa alat pendeteksi tsunami yang ada di Selat Sunda sudah lama hilang hingga Tsunami pada Desember 2018 tidak terdeteksi lebih awal. (IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...