Akira Yoshino, Peraih Nobel Kimia yang Baru Menggunakan Ponsel Lima Tahun Lalu

Stockholm, SatuBanten (10/10/2019) – Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia menganugerahi penghargaan Nobel bidang Kimia kepada tiga peneliti yang telah mengembangkan baterai lithium-ion. Juri menilai penemuan baterai ini telah memberi manfaat besar bagi kehidupan umat manusia dan telah merevolusi kehidupan manusia sejak memasuki pasar pertama kali pada 1991.

ilmuwan asal Amerika Serikat John Goodenough, yang menjadi penerima penghargaan Nobel tertua karena usianya yang kini menginjak 97 tahun. Adapun dua ilmuwan lainnya yang menerima penghargaan Nobel Kimia 2019 yaitu, ilmuwan asal Inggris Stanley Whittingham dan ilmuwan asal Jepang Akira Yoshino.

Ketiga ilmuwan tersebut akan berbagi hadiah sebesar 9 juta kronor Swedia atau sekitar Rp12,9 miliar.

Namun tahukah kita bahwa Akira Yoshino, profesor dari Universitas Meijo Jepang ternyata baru 5 tahun terakhir ini memakai ponsel. “Benar saya baru lima tahun terakhir ini memakai ponsel karena tak mau diikat kebebasan saya,” papar Yoshino kepada pers di Jepang (09/10/2019).

Goodenough mempelajari bahan baterai di Universitas Oxford di Inggris. Dia menemukan bahwa baterai memiliki tegangan lebih tinggi dan bertahan lebih lama jika senyawa kimia yang disebut lithium cobalt oxide digunakan dalam elektrode positif.

Royal Swedish Academy of Sciences mengatakan Whittingham bekerja mengembangkan metode yang dapat mengarah pada teknologi energi yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil. Penelitiannya juga pada elektrode positif.

Pada tahun 1985, Yoshino menciptakan prototipe baterai lithium-ion menggunakan serat karbon di elektroda (anode) negatif. Yoshino menggunakan Graphite pada anode negatif sehingga secara keseluruhan batere Lithium Ion menjadi sangat kuat, stabil dan aman.

“Saya sama sekali tak menyangka bakal dapat Nobel. Lalu segera saya telpon isteri yang kaget bukan main setengah tak percaya,” ungkap Yoshino lagi.

Menurutnya baterai yang diciptakan bersama 2 orang Amerika itu sangat penting bagi penetrasi dan pengembangan ponsel, mobil listrik dan komputer.

Tanggal 10 Desember 2019 nanti di Stockholm, Yoshino akan menerima hadiah Nobel tgersebut bersama 2 orang rekan lainnya.

Yoshino adalah pemenang ke-27 Hadiah Nobel dari Jepang, setelah Tasuku Honjo tahun lalu, seorang profesor terkemuka di Universitas Kyoto yang memenangkan Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran. Yoshino yang ditempa dengan semangat dan perjuangan dari Osaka asalnya, lalu hijrah ke Tokyo dan mengenal upaya untuk semakin lebih maju lagi.

Yoshino (71), lahir di perfektur Osaka pada tahun 1948, lulus dari Universitas Kyoto, jurusan petrokimia dan menerima gelar master segera bergabung dengan Asahi Kasei tahun 1972 dan kini sebagai honorary fellow. Saat ini Yoshino juga menjabat sebagai profesor di Meijo University di Nagoya. (SBS01)

You might also like
Comments
Loading...