9 Oktober 1967, Che Guevara Dihukum Mati

SatuBanten – Aneka peristiwa penting dan bersejarah terjadi pada 9 Oktober. Beragam kisah yang pernah terjadi di belahan dunia terdokumentasikan secara lengkap di jagad maya. Salah satunya adalah peristiwa eksekusi mati seorang gerilyawan asal Argentina, Ernesto Che Guevara.

Ernesto “Che” Guevara lahir di Rosario, Argentina, 14 Juni 1928 dan meninggal di Bolivia, 9 Oktober 1967 pada umur 39 tahun. Ia adalah seorang pejuang revolusi, dokter, penulis, pemimpin gerilyawan, diplomat, dan pakar teori militer asal Argentina yang berhaluan Marxis. Sebagai salah satu tokoh utama dalam Revolusi Kuba, wajahnya telah menjadi simbol perlawanan dalam gerakan kontra-kebudayaan dan dalam budaya populer.

Che Guevara, merupakan tokoh revolusi Marxist asal Argentina. Namanya sangat dikenal ketika membantu Fidel Castro melancarkan Revolusi Kuba pada 1956-1959, serta komandan gerilya di Amerika Selatan. Dia menjadi radikal setelah berkeliling seluruh Amerika Latin, dan menyaksikan sendiri kelaparan, kemiskinan, dan penyakit.

Guevara yang lahir pada 14 Juni 1928 di Rosario, Argentina, dan merupakan anak dari pasangan Ernesto Guevara Lynch dan Celia de la Serna y Llosa. Sejak kecil, Ernestito atau Ernesto Kecil, dibesarkan dengan perspektif akan politik sayap kiri dari keluarganya. Ernesto Senior diketahui merupakan pendukung kaum Republikan saat masa Perang Saudara Spanyol, dan sering mengundang veteran ke rumah.

Guevara menunjukkan ketertarikan akan kesusastraan. Antara lain puisi dari Pablo Neruda, Antonio Machado, maupun Walt Whitman. Karena rumah Keluarga Guevara memiliki lebih dari 3.000 buah buku, maka dia menjadi pembaca yang antusias sekaligus menyerap ide-ide baru. Guevara sangat tertarik dengan buku Karl Marx, Albert Camus, Jawaharlal Nehru, Vladimir Lenin, hingga Friedrich Engels.

Beranjak dewasa, Guevara tertarik pada penulis Amerika Latin seperti Horacio Quiroga, Ciro Alegria, Jorge Icaza, maupun Miguel Asturias. Semua ide, konsep, filosofi, maupun definisi dari para penulis yang dianggapnya menarik bakal dicatat dalam buku diarinya.

Pada 1948, Guevara masuk Universitas Buenos Aires untuk belajar kedokteran. Namun, keinginannya mengarungi dunia membuatnya cuti kuliah. Perjalanan pertamanya dimulai pada 1950. Guevara mengarungi 4.500 kilometer menyusuri utara Argentina berbekal sepeda kayuh yang dipasangi motor kecil. Guevara kemudian melakukan perjalanan kedua di Desember 1951. Kali ini, dia bersama seorang teman bernama Alberto Granado mengendarai motor. Mereka berdua berkendara selama sembilan bulan sejauh 8.000 kilometer menyusuri seluruh jalan di kawasan Amerika Selatan. Dari Argentina, Guevara dan Granado menyusuri Chile, Peru, Kolombia, Venezuela, sebelum berpisah untuk menuju Miami, Amerika Serikat (AS).

Pengalamannya serta ideologi Marxisme–Leninisme yang ia anut membuatnya meyakini bahwa keterbelakangan dan kebergantungan negara-negara Dunia Ketiga merupakan dampak dari imperialisme, neokolonialisme, dan kapitalisme monopoli, dan ia berkeyakinan bahwa hal ini hanya dapat dirombak oleh internasionalisme proletarian dan revolusi dunia.

Dari Miami, Che kembali ke Argentina menumpang pesawat. Seluruh perjalanan tersebut dia abadikan di jurnal yang kelak bernama The Motorcycle Diaries: Notes on a Latin American Journey. Di akhir perjalanannya, Guevara meyakini bahwa Amerika Latin bukanlah negara berbeda-beda, melainkan satu entitas yang membutuhkan strategis pembebasan skala besar.

Selama petualangannya, dia melihat sendiri kemiskinan, kelaparan, ditambah ketidakmampuan merawat anak karena tak ada biaya. Semua pengalaman tersebut menggerakan hati Guevara untuk “menolong orang-orang tersebut”. Dia lalu menamatkan pendidikan dokternya pada 1953. Namun, dia memilih untuk tidak menolong orang melalui dunia kedokteran. Melainkan masuk ke dalam arena konflik bersenjata.

Pada 1953, Guevara pergi ke Guatemala di mana Jacobo Arbenz sedang menggelorakan kampanye melakukan revolusi sosial di sana. Guevara, yang saat itu memilih nama pendek Che, menyaksikan AS melalui Badan Intelijen Pusat (CIA) menggulingkan Arbenz melalui kudeta. Dari situ, Guevara menyimpulkan bahwa AS bakal selalu melibas pemerintahan sayap kiri progresif. Dia berencana membawa sosialisme, dan menjadi Marxist.

Pertemuan dengan Castro Bersaudara dan Revolusi Kuba Dari Guatemala Guevara pindah ke Meksiko pada 21 September 1954. Di sana, dia sempat bekerja sebagai dokter maupun jurnalis bagi Latina News Agency. Di ibu kota Mexico City, dia bertemu dengan Fidel dan Raul Castro yang tengah menyiapkan Pergerakan 26 Juli untuk menggulingkan diktator Kuba Fulgencio Batista.

Guevara bergabung, dan mereka berusaha menyusup dengan menggunakan kapal penjelajah tua, Granma, dan mendarat di Oriente pada 2 Desember 1956. Namun, kedatangan mereka telah tercium oleh pasukan Batista. Dari 82 orang yang menyusup, hanya 22 orang yang berhasil selamat termasuk Guevara. Saat diserang, Guevara memilih menanggalkan perlengkapan medisnya, dan mengambil kotak amunisi yang kelak mengubah hidupnya.

Dalam keadaan terluka, rombongan yang selamat itu berhasil meraih Sierra Maestra di mana mereka memutuskan menjadi gerilyawan pertama. Pelan-pelan, operasi gerilya yang dilancarkan Castro bersaudara mulai mendapatkan simpati dari rakyat. Mereka berhasil merekrut anggota baru, mendapat bahan makanan, hingga amunisi. Pada awalnya, Guevara merupakan dokter pasukan. Namun, dia juga mulai mengasah kemahiran menggunakan senjata, dan kemudian menjadi salah satu sekutu utama Castro.

Ketika akhirnya Castro meraih kemenangan dan memasuki Havana 8 Januari 1959, Guevara didapuk menjadi komandan Penjara La Cabana. Selama lima bulan, dia mendapat tugas untuk mengawasi pelaksanaan “keadilan revolusioner” terhadap sisa-sisa pasukan Batista, maupun para pengkhianat. Dilaporkan, ketika menjadi komandan di La Cabana, Guevara mengeksekusi mati antara 55 hingga 105 simpatisan Batista. Setelah itu, Guevara menjadi presiden bank nasional dan menteri industri yang membantu Kuba menjadi negara komunis.

Di awal 1960-an, Guevara bertindak sebagai Duta Besar Kuba. Berkeliling dunia untuk mencoba berhubungan dengan negara lain, termasuk Uni Soviet. Dia menjadi sosok kunci ketika terjadi Insiden Teluk Babi antara 17-19 April 1961, dan Krisis Rudal Kuba antara 16-28 Oktober 1962. Pada 1964, dia mendapat kesempatan berpidato di forum PBB di mana dia mengecam kebijakan luar negeri AS dan politik apartheid Afrika Selatan.

Pada 1965, Guevara mengundurkan diri dari jabatannya, dan pergi ke Afrika untuk menawarkan pengetahuan dan pengalamannya sebagai gerilyawan di Kongo yang tengah menghadapi Pemberontakan Simba. Presiden Aljazair Ahmed Ben Bella saat itu berkata, Guevara berpikir Afrika adalah mata rantai terlemah imperialisme, dan punya potensi revolusi yang bagus. Oleh Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser yang berkawan baik dengan Guevara, dia dinasihati agar tidak ikut campur dalam politik di Kongo. Meski mendapat peringatan, Guevara tetap pergi.

Menggunakan nama Ramon Benitez, dia memimpin operasi berbekal dukungan dari Simba. Bersama 12 orang Kuba lainya, Guevara sampai pada 24 April 1965, dan awalnya bergabung dengan pasukan Laurent-Desire Kabila. Namun, dia mengalami kesulitan karena pasukan di bawah pimpinan Kabila kurang disiplin, sehingga memutuskan untuk meninggalkannya. Saat itu, oposisi mulai melancarkan balasan melalui tentara bayaran yang dipimpin Mike Hoare, dan didukung CIA serta orang Kuba anti-Castro. Mereka berhasil melacak Guevara yang sedang bermarkas di desa Fizi dekat Danau Tanganyika, di kawasan tenggara Kongo. Pasukan yang disokong CIA itu berhasil menyadap komunikasi Guevara, dan memutus jalur perbekalan bagi pergerakannya.

Guevara pun mengalami kekalahan pada 20 November 1965. Enam bulan berikutnya, di bersembunyi di Dar es Salaam dan Prague, Republik Ceko. Saat itu Prague, dia bertemu mantan Presiden Argentina Juan Peron yang berkata kalau apa yang dilakukan Guevara di Kongo adalah bunuh diri. Peron lalu mengenang bahwa Guevara adalah sosok yang masih belum dewasa. “Namun, saya senang dia berhasil membuat Yankee, julukan untuk AS, itu sakit kepala,” katanya.

Tertangkap di Bolivia dan Dihukum Mati 3 November 1966, Guevara sampai di La Paz, Kolombia, melalui penerbangan dari Montevideo, Uruguay, menggunakan nama samaran Adolfo Mena Gonzalez. Dari La Paz, Guevara menuju kawasan Nancahuazu untuk memimpin pasukan gerilya berkekuatan 50 orang yang menamakan diri sebagai Pasukan Pembebasan Nasional Bolivia (ELN). Awal 1967, ELN yang mempunyai modal kemampuan meraih kesuksesan dengan menumbangkan pasukan pemerintah di kawasan pegunungan Camiri.

Awalnya pemerintah Bolivia melihat pasukan Guevara sangat besar. Namun pada Agustus 1967, mereka berhasil mengalahkan dua kelompok gerilyawan. Pada saat itu, La Paz mulai melancarkan perburuan terhadap Guevara, dan mendapat bantuan dari pejabat Divisi Khusus CIA di Bolivia, Felix Rodriguez. 7 Oktober 1967, seorang informan memberi tahu Pasukan Khusus Bolivia bahwa Guevara dan pengikutnya bermarkas di Jurang Yuro. 8 Oktober 1967 pagi, Bolivia mengerahkan dua batalion untuk mengepung tempat itu, dan memaksa gerilyawan maupun Guevara menyerah.

Guevara diikat dan dibawa ke sebuah sekolah di desa La Higuera malam harinya. Tertembak di betis kanan, dia menolak berbicara dengan penyidik Bolivia. 9 Oktober 1967 dalam usia 39 tahun, Guevara tewas dieksekusi oleh pasukan Bolivia di bawah instruksi Presiden Rene Barrientos. (SBS01)

You might also like
Comments
Loading...