7 Program Utama Kemenkes Percepatan Penurunan Kematian Ibu Hamil

CILEGON (23/12/14), Satubanten.cm – Dalam Program percepatan penurunan kematian ibu, Kementrian kesehatan telah menetapkan Program untuk melakukan intervensi melalui Penetapan Rencana Aksi Nasional (RAN) penurunan angka kematian ibu dengan tiga strategi yaitu peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu, peningkatan peran pemerintah daerah dan swasta dalam upaya kesehatan ibu, dan pemberdayaan keluarga dan masyarakat.

Dari tiga strategi tersebut dalam implementasinya dituangkan dalam 7 program utama, diantaranya penjaminan kompetensi bidan, ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan mampu pertolongan persalinan sesuai standar, penjaminan seluruh RS kab/kota mampu Ponek sesuai standar, terlaksananya rujukan efektif pada kasus komplikasi, dukungan Pemda terhadap regulasi yang dapat mendukung secara efektif pelaksanaan program, peningkatan kemitraan dengan lintas sektor dan swasta, dan meningkatkan pemahaman dan pelaksanaan P4K di masyarakat.

“Implementasi strategi tersebut telah dipetakan dalam lima tahapan dalam kurun waktu lima tahun dengan ditetapkannya 9 provinsi sebagai provinsi fokus yaitu Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Lampung, DKI, Jakarta, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, dan Sulses, 64 kab/kota dan 470 puskesmas,” demikian dijelaskan perwakilan Direktorat Jendral Bina Gizi dan KIA dari Kemenkes RI dr Rizkyana Sukandi Putra, dalam sambutannya pada acara Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Pemkot Cilegon dengan Fasilitas Pelayanan Kesehatan tentang Rujukan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal, di Aula DPRD Cilegon, Selasa (23/12).

Dalam kesempatan itu ia mengatakan, hasil survei demografi dan kesehatan indonesia tahun 2012 menunjukan AKI di indonesia masih cukup tinggi, yaitu sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Cakupan penanganan komplikasi obstetrik sebesar 63,92 % memperlihatkan belum optimalnya upaya yang telah dilakukan, hal ini merupakan salah satu kendala lambatnya penurunan AKI dan AKB, khususnya dalam kecepatan penyediaan pelayana kesehatan dalam mengakses pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neobatal.

Secara absolut kata dr Rizkyana, berdasarkan laporan rutin yang dihimpun Direktorat Bina Kesehatan Ibu dari daerah pada 2013, jumlah ibu yang meninggal karena kehamilan, persalinan, dan nifas pada 2013 sebanyak 5.019 kasus sedangkan jumlah bayi yang meninggal di indonesia tahun 2012 mencapai 160.681 kasus.

Lebih lanjut dikatakannya, penyebab langsung kematian ibu sebagian besar disebabkan oleh hipertensi dalam kehamilan 32 %, komplikasi puerperium 31% dan perdarahan post partum 20,3% (SP 2010), berdasarkan analisis lanjut sensus penduduk 2010, penyebab tidak langsung kematian ibu terjadi pada perempuan yang terlalu muda untuk hamil, ada juga yang terlalu tua, jarak kehamilan yang terlalu berdekatan, serta kehamilan yang terlalu sering.

“Sijariemas yang dikembangkan dalam program EMAS sangat diharapkan dapat membantu mempercepat penurunan kematian ibu dan bayi. Sijariemas yang terintegrasi dengan metoda van guard dalam pelaksanaannya harus merujuk pada regionalisasi sistem rujukan yang telah ditetapkan Kemenkes (BUKR), sehingga penguatan yang dilakukan di rumah sakit tetap terfokus dan terintegrasi dengan pendekatan yang telah dilakukan Kemenkes.” Jelasnya.

Ia mengakui, kematian maternal dan neonatal masih saja terjadi, faktor kecepatan dan kesiapan fasilitas kesehatan rujukan sangat berpengaruh. Untuk itu, diperlukan adanya pedoman rujukan. Saat ini, kemajuan teknologi khususnya di bidang informasi semakin berkembang, sehingga dapat mendukung mempercepat kesiapan rujukan yang dapat mencegah keterlambatan penanganan. Sehubungan hal itu, dibutuhkan sebuah sistem informasi jejaring rujukan untuk memperkuat mekanisme komunikasi, kolaborasi, dan pertukaran informasi baik di tingkat masyarakat maupun di tingkat fasilitas sebagai contoh dengan dibentuknya sistem jejaring rujukan sijariemas.

“Selain hal tersebut faktor keterlambatan juga berpengaruh, yakni terlambat mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan, dan terlambat mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan. Fenomena baru yang dilihat yaitu terjadi pergeseran tempat kematian ibu dan bayi dari sebelumnya terjadi di rumah bergeser kerumah sakit, hal tersebut dapat terjadi karena belum optimalnya mekanisme merujukan pasien,” ungkapnya.(B14/Qn)

You might also like
Comments
Loading...