6 Hal yang Harus Dipantau Orangtua Saat Anak Isoman

Kesehatan, Satubanten.com- Anak yang positif Covid-19 namun tidak bergejala, atau bergejala ringan bisa melakukan isolasi mandiri di rumah dengan pemantauan orang tua. Tapi ada beberapa hal yang mesti diperhatikan orang tua saat mengasuh anak positif Covid-19, berikut di antaranya.

Selain setiap orang di rumah serta anak harus disiplin protokol kesehatan saat isolasi mandiri, orang tua atau orang dewasa di rumah harus lebih memperhatikan anak yang positif Covid-19.

Baik ibu atau ayah harus sama-sama lebih waspada dengan keadaan anak. Orang tua memantau perkembangan kondisi fisiknya agar segera diketahui jika terjadi perburukan.

“Orang tua harus melakukan pemantauan pada anak agar jika terjadi perburukan bisa segera diketahui dan segera ke rumah sakit untuk mendapat penanganan medis,” kata dokter spesialis anak konsultan di RSUP Persahabatan, Fauzi Mahfuzh dalam webinar ‘Panduan Isolasi Mandiri pada Ibu Hamil, Bayi, dan Anak’, Jumat (15/7).

Pemantauan itu juga harus dicatat untuk dilaporkan kepada petugas medis. Catatan tersebut akan membantu mempercepat penanganan petugas medis bila anak mengalami perburukan.

Berikut hal yang harus dipantau orang tua ketika anak isoman.

1. Ukur suhu tubuh

Orang tua atau orang dewasa lainnya di rumah harus mengukur suhu tubuh anak minimal dua kali sehari pada pagi dan sore.
Suhu tubuh anak normalnya berada di angka 35-36 derajat celcius. Jika demam anak di atas 37,8 derajat celcius, maka anak bisa diberikan paracetamol atau obat sesuai petunjuk dokter.

2. Laju napas

Ukur laju napas anak setiap kali melakukan pemeriksaan suhu tubuh. Mengukur laju napas juga bisa dilakukan ketika anak mengeluhkan sesak napas atau ketika orang tua melihat anak bernapas tidak normal.

Fauzi mengatakan, normalnya anak 1-5 tahun bernapas tidak lebih banyak dari 40 kali per menit. Jika dalam satu menit anak usia ini bernapas lebih dari 40 kali, maka kemungkinan anak mengalami sesak napas dan harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

Anak di atas 5 tahun normalnya bernapas 30 kali per menit, lebih dari ini maka orang tua harus waspada. Kemudian pada bayi usia lebih dari dua bulan, segera bawa ke fasilitas kesehatan ketika laju napas lebih dari 60 kali per menit.

3. Ukur saturasi oksigen

Fauzi mengatakan sebaiknya orang yang melakukan isolasi mandiri memiliki pulse oximeter untuk mengukur saturasi oksigen.

Pengukuran saturasi oksigen dilakukan juga pada pagi dan sore hari. Idealnya saturasi oksigen anak di angka 95 persen. Jika kurang dari 93 persen, maka anak harus segera dibawa ke rumah sakit.

4. Perhatikan asupan makanan anak

Kemungkinan anak akan sulit makan sehingga asupannya berkurang. Orang tua bisa memantau seberapa banyak anak makan, makanan apa saja yang dimakan lalu mencatatnya.

Catatan makanan anak akan membantu orang tua dan petugas medis menentukan asupan apa yang kemungkinan berkurang, makanan apa yang sebaiknya ditambahkan, dan perlukah suplemen untuk membantu anak cepat sehat.

“Catatan asupan makanan ini nanti akan berguna ketika berkonsultasi dengan dokter, baik langsung atau dengan telemedicine,” kata Fauzi.

5. Mencatat aktivitas anak

Mencatat aktivitas anak juga sama pentingnya dengan mencatat asupan makanan anak. Ketika isolasi mandiri, anak mungkin mengalami lemas karena gejala klinis atau gangguan psikologis karena tak bisa bermain.

Ketika anak menunjukkan gejala lemas, kurang aktif, maka konsultasikan dengan petugas medis. Mungkin anak memerlukan suplemen tambahan atau dukungan psikologis.

6. Mencatat gejala yang timbul

Pasien Covid-19 isolasi mandiri memang berarti tidak bergejala atau minim gejala. Namun tidak menutup kemungkinan gejala bisa timbul atau mengalami perburukan saat isolasi mandiri.

Maka dari itu, orang tua harus mencatat gejala yang dialami anak setiap harinya. Jika terlihat ada perburukan atau penambahan gejala, maka anak harus mendapat penanganan medis.

“Semua catatan ini nanti akan dikomunikasikan dengan petugas medis, terutama bila ada kondisi di luar nilai normal, maka orang tua bisa segera tahu dan petugas medis diharapkan bisa lebih cepat memberikan penanganan,” tutur Fauzi. (SBS/009)

You might also like
Comments
Loading...