Hidup Tak Semudah Seperti Menyeduh Segelas Teh

Kawan saya ada yang setiap hari memaki kerumunan warga di pasar saat ini. Ada pula yang setiap hari marah di wall FB karena warga masih keluar rumah wira wiri kesana kemari.

Ada juga kawan saya yang mengumpat kalau Covid adalah konspirasi dan ada juga kawan yang mengatakan bahwa ini kerjaan China dan Amerika dalam melancarkan perang dagang.

Dibalik semua itu, roda kehidupan harus terus berputar. Minggu kemarin kawan saya yang seorang pilot harus menerima kenyataan diputuskan hubungan kerjanya karena maskapai tempatnya mencari nafkah sudah dua bulan tidak lagi mengudara.
Ada pula kawan saya seorang jurnalis yang pasrah ketika perusahaannya sudah mulai melakukan pemangkasan karyawan dan ia bersama puluhan rekan lainnya harus siap dirumahkan.

Pagi tadi kawan saya pegawai pabrik di Cilegon harus menerima kenyataan kalau gaji mereka dipangkas 50% dan masuk kerjanya 3 hari masuk dan 3 hari libur.
Ini sekelumit imbas Corona yang menggila dan belum diketahui apakah pandemi akan segera berakhir. Beberapa warga mulai putus asa hingga menuduh tenaga medis ada apa-apanya.

Jangan dulu panik. Untuk skala Asean jumlah positif covid Indonesia kejar-kejaran dengan Singapura, namun yang menjadi menyedihkan adalah fasilitas kesehatan kita jauh dibawah Singapura sehingga kita kejar-kejaran angka kematiannya dengan Filipina, sebuah negara yg tidak punya stadion sepak bola standar olimpiade, sehingga beberapa event olah raga skala besar kerap kali batal di negara Ninoy Aquino tersebut.

Minggu ini, Cilegon dan Kabupaten Serang rada panik karena karena angka positif Covid melonjak tapi statement kepala daerahnya sepiiii. Lah apa yg mau diomongin, pengetahuan Covid dan perlengkapan APD aja masih jauh dari kebutuhan minimum.
Selayaknya… kita bisa memahami mereka yang harus keluar rumah adalah mereka yang tidak ingin mati kelaparan. Lah jatah dana sosial saja tidak mampir ke rumah mereka. Kadang kita tidak bisa memahami pola pikir rakyat +62 yang harus berjibaku untuk sekedar bertahan hidup.

Seorang kawan saya yang memiliki kios di Pasar Rau sampai bercerita minggu kemarin tidak ada sama sekali pelanggan yang membeli di kiosnya dan selama seminggu ia menghadapi kenyataan seperti itu. Ada pula kawan pemilik kedai kopi kecil-kecilan yang harus menerima kenyataan kalau saat ini jumlah kunjungan ke kedai kopi drop drastis.

Seandainya semua warga adalah ASN yang tetap digaji walau kerja dari rumah, tentu kita happy saja. Tapi realitanya, uang sepuluh ribu saja saat ini begitu sulitnya karena pandemi sudah menggila karena berita lebih menakutkan dari virus itu sendiri.

Kita hanya bisa bermanggut-manggut melihat uang ratusan milyar dari APBD di tiap kabupaten/kota serta provinsi dibalik kenyataan jika masih banyak warga yang kesulitan walau untuk sekedar mwncocokkan data orang miskin di kantor pemerintah yang tidak pernah selesai, padahal pelajaran statistik dan para sarjananya menyebar di provinsi ini.

Ya wes… memang betul kata pepatah, Hidup itu seperti secangkir teh, bagaimana rasanya, tergantung bagaimana kita meraciknya.

Serang, 15 Juni 2020

You might also like
Comments
Loading...