Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

Melawan Golput di Kampus Tercinta

Serang (06/12/2018) SatuBanten – Dikutip dari tirto.id yang ditulis oleh Fandy Hutari pada tanggal 20 Agustus 2018 mengatakan bahwa saat ini salah satu permasalahan yang terjadi di perpolitikan Indonesia, terhadap pasangan calon presiden dan calon wakil presiden untuk Pilpres 2019 sudah diumumkan, muncul sejumlah ungkapan kekecewaan. Alasannya, mereka tidak cocok dengan dua pasang capres dan cawapres yang akan bertarung di arena Pilpres 2019. Kekecewaan itu beberapa di antaranya memicu kembali gagasan mengenai golput. Melihat dari permasalahan yang sedang terjadi di pilpres tahun ini, Membuat hati saya tergugah untuk menuliskan opini ini karena bila disangkutpautkan dengan permasalahan antara pilpres dan pemilu di kampus, ternyata tidak jauh berbeda. Perilaku golput ini sendiri disebabkan oleh orientasi perilaku para pemilih. Salah satunya adalah sikap apatis, yaitu tidak adanya minat terhadap persoalan politik mahasiswa karena dianggap politik kampus merupakan politik praktis. Hal ini yang dapat mengacu pada pandangan mahasiswa terhadap politik kampus atau memandang aktivitas politik sebagai sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan jurusan yang mereka ambil, serta menganggap bahwa paham atau tidaknya mereka terhadap politik kampus tidak akan berdampak pada proses kelulusan mereka. 

Oleh karena itu ada atau tidaknya gerakan mahasiswa golput, tidak akan membawa dampak besar terhadap proses pemilihan presma dan wapresma karena memilih atau tidak merupakan bagian dari hak setiap mahasiswa. Padahal, pemilu ini merupakan bagian dari pesta demokrasi kampus yang seharusnya dilaksanakan dengan kegembiraan. Namanya juga pesta, artinya tidak ada yang harus ditegangkan, dikhawatirkan, diperdebatkan atau malah jadi bahan permusuhan antar mahasiswa. Seharusnya kita sebagai mahasiswa yang katanya manusia intelektual dapat berfikir cerdas dan lebih open minded terhadap apapun informasi yang kita terima, kritis dalam memilah dan memilih berita mana yang hoax dan fakta, tidak mudah terpengaruh oleh gerakan baru yang nyatanya tidak jarang menilai sesuatu dengan tidak objektif hanya karena faktor egosentrisme tinggi membuat mahasiswa menjadi tidak dapat berfikir dan bertindak dengan tidak rasional. Salah satunya yang diihat hanya dari latar belakang para kandidat diusung oleh organisasi A misalkan, membuat mereka tidak suka dan akhirnya muncul gerakan baru untuk tidak memilih. Pada tanggal (29/11) saya mengikuti diskusi public yang pembicaranya adalah bapak Prof. Dr. Lili Romli, M.Si. mengatakan bahwa dalam memilih terdapat 2 golongan yang pertama adalah pemilih tradisional dimana mereka yang memilih hanya dengan melihat dari organisasi pengusung, dan orang-orang dibelakangnya. Sedangkan yang kedua adalah pemilih yang rasional yaitu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan kualitas, kapasitas dan integritas dari setiap pasangan calon.

Maka dari itu jika kita mahasiswa cerdas dan paham betul bagaimana seharusnya kita memilih tentunya tidak akan lagi melihat atau bahkan malah mempermasalahkan latar belakang organisasi dari tiap-tiap pasangan, apalagi sampai harus membuat sebuah gerakkan untuk tidak memilih. Karena sudah jelas bahwa memilih atau tidaknya itu hak setiap mahasiswa, apakah pantas seseorang yang katanya berilmu, berpendidikan menjatuhkan dan menjelek-jelekan organisasi lain? Dengan belbagai macam alasan, yang seharusnya tidak dikritik jadi dikritisi, mahasiswa itu memang harus kritis tapi perlu juga kita melihat tempat dan objek apa yang kita kritisi jangan sampai kritisnya kita hanya menjadi bualan semata. Walaupun pada kenyataanya politik itu memang jahat dan kotor, karena tak jarang sering menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Namun, beda halnya dengan yang dilakukan oleh salah satu organisasi eksternal di kampus seperti Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), menurut isu-isu yang beredar bahwa KAMMI adalah organisasi gila jabatan, dan gila kekuasaan. Tapi, tidak dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan itu, KAMMI lebih kepada melakukan belbagai cara artinya mengerahkan segala kemampuannya untuk mencapai satu tujuan tertentu yaitu menebarkan kebaikkan dengan mengatasnamakan ini bagian dari strategi berlomba-lomba dalam memajukan kampus tercinta. Saya rasa jika organisasi lain ingin menjadi seperti KAMMI, tentu strategi pergerakan KAMMI perlu dicontoh untuk diterapkan oleh mereka, jangan malah menjelek-jelekkan dan menfitnah KAMMI. Seharusnya bila ingin membawa-bawa organisasi eksternal tentu bukan hanya KAMMI yang dibahas, analisis juga tentang strategi dari organisasi eksternal lainnya seperti HMI, PMII, IMM dll. Lihat bagaimana hegemoni PMII atau HMI di kampus UIN Jakarta, mereka juga sama turun temurun menguasai kampus, lantas jika memang seperti itu kenapa hanya KAMMI yang disudutkan, seakan-akan malah menunjukan secara gamblang alasan utama mereka hanya karena faktor ketidaksukaan bukan karena menindaklanjuti kebhatilan yang ada. Ini sama saja dengan tindakan diskriminasi terhadap organisasi KAMMI.

Dinamika perpolitikan kampus tahun ini saya rasa memang cukup menarik bila kita kaji walau sedikit konyol, bahkan lucu bila melihat gerakan mereka yang katanya peka terhadap keganjalan yang ada. Tapi, bila dilihat dari sudut pandang lain konflik dan persaingan yang kerapkali muncul dikalangan mahasiswa membuat sebuah cara pendewasaan mahasiswa dalam berpolitik. Walaupun perpolitikan antara kampus dan Negara tidak terlalu sama, namun cara mahasiswa dalam berperan didalamnya dapat membawa pengaruh kedepannya setelah mahasiswa menjadi pascasarjana, dimana ketika sejak dini kita terbiasa melakukan prilaku apatis dengan kata lain golput atau tidak mau memilih hanya karena para calon presma dan wapresma dari organisasi yang mereka tidak suka, tentunya akan menjadi satu kebiasaan yang dinilai kurang tepat dalam menyikapi sebuah tantangan perpolitikan ketika di masyarakat nantinya. Mahasiswa merupakan agen perubahan untuk bangsa Indonesia kita tercinta, kampus adalah miniatur Negara, cerminan perpolitikan dalam suatu Negara tentunya tidak lepas dari perpolitikan di kampus, karena tak jarang politikus berkelas di Indonesia berawal dari aktif dalam perpolitikan kampus ketika menjadi mahasiswa. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...