Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

Tradisi Undun-Undunan Tetap Langgeng di Kampung Legon Asem

Serang (04/12), Satubanten.com – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan budaya modern, Kampung Legon Asem, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Bojonegara masih mempertahankan tradisi Undun-undunan. leluhur banten. Desa yang berada di atas pegunungan tersebut konsisten melakukan tradisi hasil akulturasi agama hindu dan islam ini.

Jahidi selaku tokoh masyarakat sekaligus Ketua DKM Masjid Al-Mu’min Kampung Legon Asem mengatakan, tradisi atau adat Undun-undunan ini merupakan selamatan sekaligus syukuran bagi anak bayi yang berusia enam bulan hingga dua tahun.

“Dalam Undun-undunan ini, anak yang ikut tradisi tersebut dibacakan sholawat nabi sambil diiringi tabuhan alat musik rebana atau rudat Yang merupakan musik khas akulturasi Islam di Banten,” tutur Jahidi, Minggu (02/12).

Adat Undun-undunan hadir seiring dengan masuknya agama islam sekitar 1.700 Masehi. Tradisi ini kemudian menjadi adat yang tetap dipertahankan warga karena dinilai positif dalam mendekatkan anak kepada tuhan.

“Adat undun-undunan asli bojonegara ini diperkirakan sudah ada sekitar sejak agama Hindu dan Buda hadir di Indonesia,” imbuhnya.

Dalam tradisi ini, anak bayi laki-laki atau perempuan yang dipegang seorang ustad atau kasepuhan kampung terlebih dahulu akan diajak berputar-putar atau berkeliling dan juga diajak menaiki rangka masjid dan rumah yang terbuat dari pohon tebu.

Pohon tebu ini dijadikan sebagai simbol atau sarana orang tua pertama kali mengenalkan anak bayi berjalan di atas tanah. Selain itu, undun-undun ini juga ditujukan sebagai sebuah harapan bagi setiap orang tua agar saat anak yang tumbuh dewasa kelak lebih dekat mengenal tuhan dengan cara mendekati masjid.

“Tebu ini dibikin bentuk langgar dan masjid itu bar supaya tujuannya kalau (bayi) perempuan kan bisa masuk langgar dan beribadah dan kalau laki-laki bisa masuk ke masjid supaya sholat Jum’at begitu. Jadi dekat dengan Tuhan,” imbuhnya.

Jahidi juga mengatakan bahwa dulu tradisi Undun-undunan ini dilakukan kapan saja selagi ada bayi yang akan diundun-undunkan. Namun sekarang menyesuaikan dan dilakukan setiap Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai ajang peringatan Maulid Nabi.

“Sekarang dilakukan setiap Maulid, supaya masyarakat juga kumpul dan tradisi ngising serta silaturahmi antar masyarakat tetap terjaga seperti itu,” pungkasnya. (IBC/SBS032)

You might also like
Comments
Loading...