Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

Menjadi Guru Multitalent di Era Revolusi Industri 4.0

Guru menjadi sosok pendidik bagi muridnya di sekolah. Tren perkembangan industri 4.0 memicu guru untuk akrab dengan teknologi. Dibutuhkan kemampuan guru yang multitalent untuk mendidik murid yang juga multitalent.

Pendidik adalah salah satu profesi yang banyak digandrungi masyarakat belakang ini. Guru, ya salah satu dan umumnya, pendidik itu diidentikkan dengan guru, padahal profesi pendidik tidak hanya guru. Melainkan dosen, konselor, pamong belajar, tutor, instruktur, dan masih banyak lagi menurut UU No. 20 Pasal 1 Tahun 2003. Guru dan dosen itu sekadar istilah penggunaan yang ditujukan untuk tenaga pendidik yang bekerja di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi. Dalam UU RI No. 14 Tahun 2005 disebutkan bahwa guru adalah seseorang yang berkemampuan untuk mendidik, yang berarti mampu mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi peserta didik mulai dari usia dini hingga menengah. Oleh karena itu, suatu hal yang wajar apabila kita tidak asing dengan sosok ”guru”, karena sejak kecil kita telah mengenal pendidikan melalui guru.

Berbicara mengenai guru, di atas sudah disebutkan bahwa seorang guru harus mampu mendidik, tidak hanya mengajarkan pengetahuan yang dimilikinya, dan seorang guru juga harus mampu menanamkan sikap yang baik kepada muridnya karena sesuai singkatan guru itu sendiri yakni “digugu dan ditiru”. Berat memang tantangannya menjadi seorang guru. Apalagi jika melihat potret pendidikan di Indonesia saat ini, yang menyudutkan pendidikan di Indonesia itu belum memuaskan, apakah hal tersebut disebabkan oleh kurangnya tenaga pendidik guru di Indonesia? Justru tidak, lalu mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Untuk menjawab permasalahan di atas, baiknya kita teliti lagi kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Kondisi di mana peran guru yang belum maksimal dalam hal mendidik muridnya. Entah itu dikarenakan banyaknya guru yang belum memahami betul apa peran guru dan bagaimana seharusnya menjadi guru, atau muridnyalah yang sulit dididik dan dibina lantaran banyak faktor internal murid maupun faktor eksternal murid itu sendiri. Dan mungkin juga pendidikan di Indonesia belum maksimal karena sistem pendidikannya ada yang salah, misalnya banyaknya tuntutan dalam K- 13 yang padahal belum bisa diterapkan di semua penjuru sekolah di Indonesia. Nah dari sekian banyak masalah yang sudah disebutkan, lalu bagaimana solusinya?

Sementara itu, melihat kaitannya dengan kondisi saat ini yaitu sering orang menyebutkan “era globalisasi”, “era revolusi 4.0”, apakah ada hubungannya? Tentu ada. Revolusi sebagai suatu perubahan yang memberikan tanda nyata dan memiliki jejak dalam hidup manusia. Salah satu bentuk perubahan yang nyata yakni globalisasi. Di era globalisasi ini muncullah revolusi industri yang diawali dengan industri 1.0 menciptakan perkembangan iptek melalui kemunculan mesin uap pada abad ke-18. Industri 2.0 ditandai dengan terciptanya pembangkit listrik yang memacu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang dan lainnya yang mengubah wadah dunia secara signifikan.

Industri 3.0 ditandai dengan munculnya teknologi komputer, internet, dan digital yang mengubah dunia industri beserta budaya dan habit generasi saat itu. Dan kini, kita ada di era revolusi industri 4.0 ditandai dengan kemunculan komputer super, kecerdasan buatan atau intelegensi artifisial. Di era yang semakin canggih ini, pendidikanpun harus lebih canggih. Maka tak hanya revolusi industri 4.0, melainkan revolusi edukasi 4.0.

Tantangan revolusi 4.0 ini dari perspektif pendidikan yaitu adanya perubahan perilaku masyarakat khususnya peserta didik dalam konteks pembelajaran, perubahan strategi  dan  metode  pengajaran,  dan  perubahan  proses  pembelajaran. Dengan  adanya  tantangan pendidikan di era revolusi 4.0 inilah akan membuat masalah-masalah baru jika kita tidak mampu menguasai era 4.0 ini.

Sehingga, kembali ke permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia, dengan melihat kondisi saat ini, di era revolusi 4.0 ini, seorang guru harus bisa menguasai tantangan era revolusi 4.0. Dalam hal ini, guru selain mendidik dan mengayomi murid-muridnya, ia juga harus bisa mengendalikan teknologi-teknologi yang ada untuk kepentingan pendidikan demi menyelaraskan ilmu pengetahuan dan teknologi di era ini. Tentunya dapat dikatakan, guru harus “multitalent”, serba bisa dalam kondisi apapun. Karena di era ini, teknologi menjadi habit semua kalangan manusia, termasuk murid-murid. Guru yang gaptek, tentunya menjadi PR bagi pendidikan di era revolusi ini. Guru harus mampu melahirkan murid yang kreatif, inovatif, kritis, dan problem solver, serta mampu beradaptasi dan berkolaborasi. Oleh karenanya, jika murid saja sudah “multitalent”, maka berlaku lebih bagi guru itu sendiri. Dengan begitu, sedikit demi sedikit akan  membantu menyelesaikan permasalahan pendidikan di Indonesia.

 

Indah Badi’ah – Merupakan Mahasiswa yang sedang menyelesaikan pedidikan S1 Prodi Pendidikan Matematika di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

You might also like
Comments
Loading...