Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

Potret Keseharian Orang Baduy

Wisata, (07/10/2018) Satubanten.com – Orang Baduy mudah dikenali dari penampilannya yang sederhana, cukup dari pakaian yang mereka kenakan kita sudah tau dari mana mereka berasal. Pakaian dengan warna putih dan hitam merupakan warna abadi yang membedakan status sosial mereka. Seperti, suku Baduy yang mengenakan pakaian berwarna putih merupakan suku Baduy Dalam, dan pakaian hitam suku Baduy Luar.

Kaum pria Baduy Dalam yang disebut kejeroan biasa mengenakan kemeja putih yang disebut jamang, bersarung loreng hitam yang disebut samping aros dan ikat kepala warna putih yang disebut telekung. Dipinggangnya melilit sabuk putih dan pada pergelangan tangannya biasa mengenakan gelang kanteh yang terbuat dari benang kapas.

Gelang bagi kebanyakan suku tradisional dianggap sebagai penolak bala. Bentuknya bermacam-macam, ada yang terbuat dari logam, rotan dan akar pohon. Melekat di tangan hingga pemiliknya meninggal dunia.

Sedangkan pria Baduy Luar yang disebut penamping selalu mengenakan kemeja kampret dua rangkap. Warna putih di dalam dan warna hitam di luar. Bersarung poleng hideung dengan ikat pinggang adu mancung. Ikat kepalanya terbuat dari kain merong yang bermotif batik warna biru gelap yang disebut lomar.

Bila keluar rumah atau berpergian jauh selalu menyandang bedog, benda logam yang lazim disebut golok itu selalu terselip dipinggangnya. Dan tas koja atau jarog disangkutkan dibahunya yang bidang. Dalam tas rajutan hasil karya sendiri biasanya berisi pisau, sirih sepenginangan, menyan putih dan batu api. Kadang-kadang dalam tas berisi pula timbel kejo, nasi putih dengan sedikit garam sebagai bekal diperjalanan.

Kaum wanitanya tidak mengenal mede pakaian. Wanita Baduy Dalam sehari-hari hanya mengenakan samping hideung dan telanjang dada. Bila berpergian ke luar kampung atau ke pasar mengenakan kebaya hitam yang disebut jamang dugan tanpa perhiasan ditubuhnya.

Berbeda dengan wanita Baduy Luar yang telah berpikiran lebih maju. Mereka telah terbiasa mengenakan kudung soet songket, kebaya hitam, sabuk bodas dan bersarung kacang herang. Memakai sedikit perhiasan yang terbuat dari logam perak atau baja putih, seperti gelang, cincin, kalung dan anting-anting.

Anak-anak mereka berpakaian seperti orang tuanya. Anak lelaki mencontoh bapaknya dan yang perempuan meniru ibunya. Seluruh busana yang dikenakan warga Baduy Dalam adalah hasil tenunan sendiri. Tetapi busana yang dipakai Baduy Luar sebagian besar dibeli dari Pasar Tanah Abang dan Pal Merah, Jakarta.

Pakaian yang menempel di badan biasanya dibiarkan sampai kotor dan lusuh. Setelah itu dicuci atau diganti dengan yang baru. Mencuci pakaian di sungai atau di pancuran tanpa menggunakan sabun. Bagi masyarakat Baduy  tabu menggunakan benda pembersih serupa itu.
Pakaian yang bersih tidak disimpan dalam lemari, tetapi cukup disimpan dalam kopernya orang Baduy yang disebut kopek, terbuat dari kerangka bambu dengan lapisan daun nira kering.

Kaum wanita maupun prianya pada umumnya memelihara rambut panjang. Untuk memelihara rambut itu butuh sisir. Tetapi sisir yang digunakan bukan hasil produksi pabrik, melainkan buatan sendiri yang terbuat dari kayu atau bambu. Sisir itu kadang-kadang diberi warna kemerah-merahan yang diolesi daun pacar. (SBS/029)

You might also like
Comments
Loading...