Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

Dolar Menguat Pengrajin Tahu Menjerit

43

Serang, (13/09/2018) Satubanten.com – Sejumlah pengrajin tahu dan tempe di Kota Serang mengeluhkan tingginya harga kedelai, akibat dari melemahnya rupiah. Seperti yang diketahui saat ini kalau rupiah sedang mengalami pelemahan hingga tembus Rp 15.100 per dolar AS (Amerika Serikat). Dengan tingginya harga kedelai mereka pun menyiasatinya dengan mengurangi ukuran tahu dan tempe.

Salah satunya Tatang Santana salah satu pengrajin tahu di Jalan Samaun Bakri Lingkungan Domba Tegal, Rt 03 rw 05 Kel Lopang Kec Serang Kota Serang Banten Kota Serang mengakui jika dirinya mengurangi angka produksi dan ukuran tahu buatannya. “Karena dolar lagi naik dan bahan baku kedelai kami dari import otomatis harganya pun jadi naik. Karena naik, jadi kami mengurangi produksi dan sedikit memperkecil ukuran tahu,” katanya Tatang merupakan pengawas Koperasi Produsen Tahu Tempe dan Oncom Sumber Rezki Barokah Provinsi Banten.

Di kampung tersebut juga hanya ada dua pengrajin tahu tradisional yang masih menggunakan tehknik bungkus. Salah satunya Tatang dan satu orang tetangganya. Tatang biasa menjual tahu bungkus dengan harga Rp 1.000 per buahnya dan dalam satu hari bisa memproduksi sebanyak 2.000 buah. Namun karena harga kedelai yang cukup mahal dirinya mengurangi angka produksi hingga separuhnya, yaitu 1.000 sampai 1.300 buah perharinya.

Dampak dari melemahnya rupiah tersebut sangat dirasakan oleh pengrajin tahu dan tempe. Pasalnya mereka menggunakan bahan baku dari kacang kedelai import, yang tentunya akan memakan biaya angkut dan ongkos pengirimannya.

Selain itu, salah satu pemilik pabrik tempe rumahan Sarjani, juga mengatakan hal yang sama. “Kasian pengrajin tahu dan tempe disini, karena kami menggunakan kacang kedelai impor. Selain jasa angkut, ongkos kirim pun meningkat. Jadi kan dari bahan bakunya sendiri terasa cukup berat,” ucapnya.

Dia juga meminta kepada pemerintah, khususnya Dinas Perdagangan Industri dan Koperasi (Disperdaginkop) serta Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) untuk bisa menjaga kestabilan harga kedelai.

“Jadi sebenarnya, kami sangat butuh perhatian dan tindakan dari pemerintah atas dampak dari melemahnya rupiah. Dan kami berharap pemerintah bisa menjaga kestabilan harga kedelai agar para pengrajin bisa tetap memproduksi dan terus menjalani usahanya,” ujarnya.

Sebelumnya harga kedelai berada di angka Rp 6.200 sampai 6.300 per kilogram, dan kini naik menjadi Rp 6.700 per kilogram. “Memang harganya hanya naik beberapa ratus rupiah saja, tapi kalau kita pembelian banyak, sangat terasa,” kata Sarjani yang merupakan anggota Koperasi Produsen Tahu Tempe dan Oncom Sumber Rezki Barokah Provinsi Banten.

Dia juga menjelaskan bukannya para pengrajin tidak mau menggunakan produk lokal. Akan tetapi, kedelai lokal tidak bisa memenuhi permintaan pasar “Untuk kualitas dan harga sebenernya lebih bagus dan lebih murah lokal. Tapi ya itu, kendalanya di persediaan, jadi kita kalo pas butuh gak bisa memenuhi permintaan,” ucapnya. (SBS/029)

You might also like
Comments
Loading...