Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

Sekjen IMORI : Edy Rachmayadi Harus Mundur Dari Ketum PSSI

105

Jakarta, (08/09/2018) satubanten.com – Setelah menjalani cuti selama kampanye pemilihan Gubernur Sumatera Utara, Ketua Umum PSSI periode 2016-2020 kembali ke lingkungan PSSI dan menjalankan kembali amanahnya.

Namun dengan terpilihnya menjadi gubernur Sumatera Utara, mantap Pangkostrad tersebut terus-menerus mendapatkan desakan dan cibiran dari masyarakat serta netizen untuk mundur sebagai ketua PSSI dan fokus dengan amanah barunya sebagai Gubernur Sumatera Utara.

Tak salah jika sudah banyak petisi yang bermunculan yang menuntut Edy untuk melepas jabatan sebagai ketua umum PSSI. Apalagi dengan posisi gubernur sekarang, selain posisinya sangat rentan terkontaminasi dengan politik, Badan Sepakbola Internasional (FIFA) juga melarang kepala organisasi sepak bola di suatu Negara untuk merangkap jabatan.

Desakan pun semakin besar dengan adanya banyak petisi di media sosial serta melalui petisi online change.org yang sudah di tanda tangani, hingga pukul 10.30 tanggal 29 Juli 2018 ditanda tangani 57.256 orang. Sekertaris Jendral Ikatan Mahasiswa Olahraga Indonesia (Sekjen IMORI) berpendapat sangat banyak hal yang bertentangan dengan posisi Edy Rahmayadi saat ini dengan bagaimana maju tidaknya sepakbola Indonesia.

“Saya berharap bapak Edy selaku Ketua Umum PSSI agar mundur dari jabatannya, dan fokus untuk mengurus Sumatera Utara yang merupakan tanggung jawab yang tidak bisa diduakan agar kesejahteraan bisa hadir bagi masyarakat Sumatera Utara. Demikian pula PSSI dan Sepakbola Tanah air akan lebih teratur dan lebih berkembang jika kepala utamanya dapat hadir 24 jam membenahi sepak bola Indonesia,“ ujar Fadly, Jum’at (7/9).

Kemudian, ada pula yang menjadi kendala utama tentang regulasi yang melarang kepala daerah rangkap jabatan sebagai pengurus PSSI. Larangan ini diatur dalam Surat Edaran Mendagri Nomor 800/148/sj 2012 tanggal 17 Januari 2012 tentang Larangan Perangkapan Jabatan Kepala Daerah dan/atau Wakil Kepala Daerah pada Kepengurusan KONI,PSSI, Klub Sepakbola Profesional dan amatir, serta Jabatan Publik dan Jabatan Struktural.

“Sangat tidak wajar jika lembaga seperti PSSI yang memiliki ekspektasi publik yang sangat besar menjadi kendaraan politik saja, atau hanya dijadikan bemper ketika menjabat sebagai Gubernur Sumut nantinya. Harusnya setelah terkena Sanksi dari FIFA, kita mestinya banyak belajar dan berbenah dan focus untuk memperbaiki sistem sepakbola Indonesia, dan membersihkan sepakbola dari praktik-praktik mafia sepakbola di Indonesia,“ sambung Fadly yang merupakan mahasiswa S2 Universitas Negeri Jakarta itu.

Fadly pun berpesan agar PSSI segera mencari pengganti melalui kongres atau Munas Luar Biasa. Hingga, PSSI dapat segera berbenah dan siap menatap event akbar Timnas yang sudah di depan mata.

“Aspirasi saya juga merupakan aspirasi banyak masyarakat penikmat dan pecinta sepakbola agar PSSI segera Munaslub dan mencari sosok yang betul-betul peduli dan dapat memajukan sepakbola Indonesia. Indonesia tidak kekurangan sosok pemimpin dalam sepakbola kok. Para mantan pemain Timnas pun sangat faham dan saya yakin dapat memberikan energy baru bagi sepakbola Indonesia,“ pungkasnya. (sbs028)

You might also like
Comments
Loading...