Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

Mobil Listrik Tiongkok vs Indonesia, Beda Nasib dan Peruntungan Saja

111

Selasa, 4 September 2018

Jika Tiongkok punya Geely, Indonesia punya Selo. Keduanya punya potensi yang sama hanya berbeda nasib dan dukungan pemerintahnya. Geely kini Berjaya, sedangkan Selo dan kawan-kawannya masih menunggu payung hukum untuk dapat turun ke jalan raya.

Gelaran Asian Games 2018 sudah usai, cerita harum keberhasilan penyelenggaraan Asian Games menjadi warna tersendiri. Polesan teknologi tentu tak bisa lepas dari guliran cerita sukses pelaksanaan Asian Games tersebut. Salah satu yang paling disorot adalah penggunaan berbagai kendaraan canggih dari yang berbahan hydrogen hingga mobil bertenaga listrik. Adalah Bluebird, perusahaan taksi yang kabarnya turut menyediakan armada mobil bertenaga listrik untuk para peserta Asian Games 2018.

Mobil listrik sebetulnya bukan wacana baru di Indonesia. Ketika dunia sedang gencar merancang berbagai inovasi mobil listrik, Indonesia sebetulnya sudah ikut memproduksi mobil listrik ini. Namun rupanya daya dukung pemerintah baik dari segi regulasi maupun pemasaran belum begitu baik sehingga mobil listrik hasil karya anak bangsa belum bisa kita nikmati kecanggihannya.

Berbeda dengan produsen mobil listrik Geely asal Tiongkok. Geely produsen asal Hangzhou, Provinsi Zhejiang, dekat Shanghai memiliki nasib yang lebih baik. Hal ini diungkapkan oleh Dahlan Iskan, salah satu mantan Menteri BUMN yang sejak dulu getol mendukung dan mendorong produksi mobil listrik Indonesia.

“Nasib Li Shufu (pemilik Geely) memang baik. Lahir di Tiongkok. Memulai usaha mobilnya di sana. Yang pejabat pemerintahnya tidak menghina kemampuan anak bangsanya,” ungkapnya.

Baca JugaInilah Bus Listrik Nasional Karya Anak Bangsa, Harganya Mulai Rp 1,2 Miliar

Di awal karirnya membuat mobil listrik, desain yang dibuat Li Shufu menurut Dahlan amat sangat sederhana. Mirip seperti Carry dan dibuat di bengkel biasa, bukan di pabrik sebagaimana mobil dibuat pada umumnya. Namun dengan produk sederhana dan apa adanya tersebut, dengan dukungan pemerintah, Li Shufu mampu mengembangkan Geely. Hingga akhirnya mampu bersaing memasuki pasar manca negara.

“Saya jadi ingat Dasep Ahmadi, yang membuat mobil listrik pertama. Atau Ricky Elson, yang membuat jenis lainnya. Mobil yang dibuat Dasep itu, yang hijau itu, yang pernah saya coba itu, jauh lebih baik. Dari mobil pertama yang  dibuat Geely. Bedanya, Geely dapat izin masuk pasar. Dengan kualitas apa adanya itu, pemerintahnya mendukung,” begitu tutur Dahlan Iskan dalam catatan DI’s Ways.

Dalam 20 tahun saja, Gelly sekarang sudah menjadi pemain besar di kancah otomotif, mobil listrik. Dari produsen biasa, Geely mulai mengakuisisi saham Mercedez Benz dan memegang saham perorangan terbesar di Mercy yakni 12%. Geely juga telah membeli merk mobil Lotus dari Inggris dan  Volvo, milik Ford. Terakhir Geely juga mengakuisisi saham Proton, produsen mobil asal Malaysia dengan kepemilikan hingga 49,9 %. Kelak yang akan dibidik menjadi pasar tentu saja Indonesia.

Bagaimana nasib mobil listrik Indonesia?

Selo, salah satu mobil listrik produksi asli Indonesia, yang dibuat oleh Ricky Elson dan timnya memang sempat tersandung oleh regulasi. Bahkan melalui proses hukum, mobil tersebut pernah diperkarakan. Namun pada bulan Oktober 2017 lalu, Ricky dan Dahlan Iskan selaku pembimbing telah bertemu langsung dengan presiden Joko Widodo. Hasilnya adalah Peraturan Presiden (Perpres) yang akan dimunculkan pada tahun 2018.

Dalam hal ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga turut memberikan rekomendasi kepada Presiden Jokowi pada 6 April 2018 lalu  terkait payung hukum mobil listrik. KPK dalam hal ini sesuai mandat pasal 6 huruf e yang dijelaskan pada pasal 14 UU No. 30 tahun 2002, menekankan Indonesia harus mempunyai kendaraaan bermotor listrik bermerek nasional sebagai wujud kemandirian bangsa. Hal tersebut juga perlu dibarengi dengan dukungan dari pemerintah antara lain dukungan pendanaan riset, penyesuaian skema pajak dan tarif bea masuk, penyederhanaan regulasi dan kebijakan dan dukungan pemasaran produk.

Baca Juga : Kota Paris Melarang Mobil Diesel Pada Tahun 2020

Sementara itu pembahasan draft peraturan terkait mobil listrik hingga saat ini sudah sampai pada tahap harmonisasi antar kementerian. Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kemenperin, Putu Juli Ardika mengatakan, lamanya penyelesaian draft ini lantaran banyak masukan atau rekomendasi yang belum dibahas.

“Harmonisasi baru mulai satu minggu sebelum Lebaran. Itu rapat di Kantor Menko Maritim. Sekarang tahapannya kita sudah mendapatkan masukan semua. Minggu depan kita bisa diskusi di level eselon 1, setelah itu menyampaikan ke Pak Menteri (Perindustrian) dan dikirim ke Menko Maritim untuk dibahas bersama,” jelasnya.

Hingga kini belum ada keterangan kapan pastinya Perpres yang menjadi payung hukum mobil listrik tersebut akan dirilis. Namun pemerintah telah memprediksikan bahwa era mobil listrik akan booming di tahun 2040-an. Oleh karena itu pemerintah menghimbau kepada pelaku usaha untuk mempersiapkan diri agar tidak kalah dari asing. Hal ini juga akan dibarengi oleh komitmen pemerintah dalam mengembangkan sumber daya lokal dalam pengembangan kendaraan listrik dan hemat energi.

 

*Baca tulisan lain dari Imam B. Carito atau artikel lain terkait topik Mobil Listrik.

You might also like
Comments
Loading...