Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

Banten Lama Potret Kejayaan Masa Lampau

Serang, (10/08/2018) Satubanten.com – Banten Lama bukan sekedar obyek wisata peninggalan sejarah, tetapi di situs purbakala itu wisatawan bisa melihat, menyaksikan dan belajar tentang bagaimana heroiknya Sultan Banten menentang kolonial Belanda pada abad XVI hingga abad XIX. Akibat perseteruan yang memuncak, akhirnya keraton Surosowan dihancurkan Belanda dibawah pimpinan Gubernur Jenderal Daendels.

Kisah perseteruan Kesultanan Banten dengan Kompeni, Belanda dimulai sejak armada kapal dagang Belanda dibawah pimpinan Cornelis de Houtman mendarat di Banten tahun 1596. Karena kedatangan Belanda ingin menguasai dan monopoli perdagangan rempah-rempah, maka Sultan Banten menolak bekerja sama. Akibat melakukan perompakan di Teluk Banten, Cornelis de Houtman bersama rombongannya sempat ditahan hampir sebulan lamanya. Kemudian dilepas kembali setelah membayar denda sebesar  45.000 gulden kepada Sultan Banten.

Baru setelah ekspedisi kedua ke Banten dipimpin Jacob van Neck yang dibantu van Waerwijk dan van Heemskerck tanggal 28 Oktober 1598, Belanda berhasil mendapatkan rempah-rempah untuk dibawa pulang dan dijual di Eropa.

Dari daerah ini sejarah mencatat Republik Indonesia dijajah Belanda selama tiga setengah abad lamanya. Sejarah juga mencatat dari 21 Sultan Banten yang memerintah, di antaranya memiliki kisah heroik menentang Kompeni di Banten. Namun berkat tipu daya penjajah berkulit putih itu dengan cara devide et empera, maka Kesultanan Bantenpun runtuh pada tahun 1813.

Sultan Ageng Tirtayasa

Abul Fathi Abdul Fatah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sultan Ageng Tirtayasa (1640-1651) termasuk salah satu Sultan Banten yang gigih menentang VOC, asosiasi dagang Belanda yang datang ke Banten. Namun berkat kepandaian diplomasi bangsa kulit putih dengan para penguasa di nusantara, akhirnya pendatang dari daratan Eropa itu mampu menguasai jual-beli rempah-rempah di nusantara.

Sultan Ageng Tirtayasa sebagai musuh besar Kompeni pada masa itu berhasil pula dihancurkan lewat putera mahkotanya Sultan Haji. Belanda membantu Sultan Haji naik tahta dengan menggunakan segala tipu daya dan kekuatan militer. Akibatnya terjadi perang saudara antara ayah dengan anak.

Kisah Sultan Muhammad Syifa Zainul Arifin yang memerintah dari tahun 1690 sampai tahun 1733 juga tak kalah menarik. Sultan ke-10 ini dalam melaksanakan pemerintahannya selalu dirongrong oleh permaesurinya Ratu Syarifah Fatimah. Ternyata wanita keturunan Arab yang cantik jelita itu adalah mata-mata Kompeni yang sengaja diciptakan Belanda untuk menghancurkan Kesultanan Banten dari dalam.

Sultan Muhammad Syafiudin sebagai Sultan Banten ke-20 yang ditangkap Kompeni lalu diasingkan ke Surabaya merupakan akhir dari perlawanan Kesultanan Banten terhadap Belanda. Sultan yang gagah berani itu tak gentar diultimatum agar mau bekerja sama membangun pangkalan militer di Ujung Kulon dan jalan pos Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 km.

Saat Philip Pieter Du Puy, perwira militer yang diutus Gubernur Jenderal Daendels ke keraton Surosowan untuk memberi peringatan, justru utusan itu dibunuh di depan istana dan kepalanya dipenggal oleh Mangkubumi Wargadiraja. Mendengar laporan utusan yang dikirim Daendels ke Surosowan sambil membawa kepala perwira militer yang dipenggal, Daendels marah dan hari itu juga Keraton Surosowan dibumi hangusan.

Rupanya tanpa diketahui musuh, Daendels bersama kekuatan militernya menunggu diperbatasan. Begitu mendengar utusannya gagal menggertak Sultan Syafiudin, penyeranganpun langsung dilaksanakan pada hari itu juga.

Kisah-kisah patriotisme seperti ini patut menjadi suri tauladan bagi generasi muda dan situs peninggalan purbakala Banten Lama harus dipelihara dengan baik agar menjadi bahan renungan para wisatawan yang berkunjung ke Banten. (SBS/029)

You might also like
Comments
Loading...