Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

Tanpa Gelar Di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2018, PBSI Evaluasi Total Hadapi Asian Games

Nanjing (07/08/2018) Satubenten.com – Indonesia gagal memenuhi target satu gelar di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2018. PBSI pun meminta maaf atas kegagalan ini.

Target PBSI untuk meraih satu gelar di Kejuaraan Dunia Bulutangkis BWF 2018 meleset setelah tak satupun wakil Indonesia yang melaju ke babak final Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2018. Satu satunya wakil tersisa di babak semifinal Greysia Polii/Apriyani Rahayu harus kandas.

Pertandingan semifinal di Youth Olympic Sports Complex, Nanjing, China, Sabtu (4/8), Greysia/Apriyani hanya membawa satu mendali perunggu setelah dikalahkan ganda putri Jepang Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara 12-21, 21-23.

Sementara, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideno yang menjadi andalan Tunggal Putra Indoneaia untuk meraih gelar justru terhenti di perempatfinal. Pasangan ganda putra nomor satu dunia itu disingkirkan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang) dengan skor 19-21, 18-21. 

“Hasil ini memang tidak sesuai dengan target kami yaitu satu gelar juara. Saya sebagai Kabid Binpres dan manajer tim minta maaf kepada masyarakat Indonesia karena belum bisa memberikan hasil terbaik,” kata Susy Susanti ya\ng kini menjabat sebagai Ketua Pembinaan dan Prestasi PBSI

“Kami tentunya sedih dan kecewa dengan hasil ini, tetapi kita harus bangkit dan bekerja keras lagi untuk pertandingan di Kejuaraan lainnya, terutama Asian Games yang sudah di depan mata,” imbuhnya.

Hasil di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2018 menjadi sinyal yang kurang baik bagi Indonesia jelang menghadapi Asian Games 2018 yang tinggal hitungan hari.

Susy pun memberikan catatan khusus untuk ganda putri dan Kevin/Marcus.”Saya melihat progres di sektor ganda putri dari segi teknik permainan. Hanya sayang masih kurang di power, fisik, dan ketahanan dan kesabaran dalam melawan pasangan Jepang. Semoga di Asian Games bisa memberikan hasil yang lebih baik lagi,” kata Susy.

“Lawan sudah mempelajari permainan cepat mereka, saatnya Kevin/Marcus memperbaiki permainnanya dan harus fokus mengatur irama permainan sejak awal dan berusaha agar pola permainan mereka tidak terbaca oleh lawan, tidak boleh lengah dan cepat puas,” tambah Susy.

Legenda bulutangkis Indonesia, Christian Hadinata, menilai hasil di Nanjing telah melahirkan sisi positif dan negatif. 

Sisi negatifnya, Tim harus pulang tanpa gelar, sebab target satu gelar yang dicanangkan tidak tercapai. 

“Target satu gelar di kejuaraan dunia meleset. Hal ini tentu menganggu konsentrasi pemain yang akan bertanding di Asian Games. meski begitu, Christian Hadinata melihat masih ada sisi positif yang bisa dipetik Kevin/Markus dkk. 

Tekanan tinggi didapatkan di kejuaraan dunia yang berasal dari Asia, seperti Kento Momota (tunggal putra) atau Li Junhui/Liu Yuchen (ganda putra). Pasalnya, mereka akan kembali dipertemukan di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang (18 Agustus-2 September).

Menurut Christian Hadinata, meski menang di Nanjing, para pemenang akan mendapatkan tekanan tinggi agar kembali bisa menang dari Kevin/Markus dkk. Sebagai mantan pemain, Chris juga pernah merasakan tekanan tinggi setelah menjadi juara. 

“Tekanan bagi para pemenang untuk ajang berikutnya sangat tinggi, karena mereka pasti dituntut untuk mengalahkan pesaingnya lagi di turnamen berikutnya. motivasi positif untuk para pemain Indonesia, yaitu mereka harus bisa membalas kekalahan dari lawan-lawannya, dan tugas pelatih untuk memotivasi pemainnya”, tutur Christian Hadinata. (SBS02/BAM)

You might also like
Comments
Loading...