Aspirasi Rakyat dan Terpercaya

Mundurnya Demokrasi di Kabupaten Lebak, KUMALA Berikan Catatan!

307

Mundurnya Demokrasi di Kabupaten Lebak, KUMALA Berikan Catatan !
Penulis : Ridwan Anggara
Ketua KUMALA Perwakilan Serang

Perhelatan Pilkada serentak 27 Juni 2018 telah usai terselenggara, pada momentum tersebut beberapa wilayah telah terpilih pemimpin daerahnya dari hasil hitung cepat Quick Count.

Melihat pilkada kabupaten lebak, terdapat satu pasangan calon yaitu petahana H. Iti oktavia jayabata – Ade Sumardi melawan kota kosong. Dari hasil perolehan suara sementara hitung cepat Quich Count pasangan Petahana unggul 76,98 % Suara dari kolom kosong 23,02 % Suara dengan angka Partisipasi 66,07 %.

Dengan angka tersebut tentu menjadi tamparan keras terhadap pesta demokrasi di kabupaten lebak, beberapa persoalan yang ada perlu menjadi pembahasan bersama.

Melihat dari angkat partisipasi pemilih yang minim pasti ada beberapa indikasi permasalahan yang ada. Dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten lebak sebagai pihak penyelenggaran perlu bertanggung jawab guna mengevaluasi kinerjanya.

Kumala Perwakilan Serang dalam kajiannya melihat dinamika perhelatan pilkada kabupaten lebak, mendapatkan beberapa catatan buruk yang perlu diperbaiki.

Dengan persoalan yang ada bahwa hanya munculnya satu calon pada pilkada lebak, mengindikasikan bahwa sistem perkaderan parpol di kabupaten lebak gagal, dengan koalisi gemuk membuat 11 partai politik mendukung petahana.

Pilkada serentak yang telah tiga kali diselenggarakan dengan mengacu pada 20 % kursi ambang batas guna mencalonkan kepada daerah melalui jalur parpol dengan ini akan membuat peluang lebih besar munculnya satu calon pada pilkada selanjutnya. permasalahan tersebut memperbesar kinerja pada pramatisme partai politik untuk melakukan tindakan transaksional pada bursa pencalonan kepala daerah.

Dengan hanya ada satu pasangan calon pada pertarungan pesta demokrasi sangat berdampak pada minimnya pengguna hak pilih untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) sehingaa masyarakat terkesan mengabaikan pemilihan kepala daerah karna tidak menyajikan pilihan yang dapat memberikan pendidikan politik untuk rakyat. (RR/SBS31)

You might also like
Comments
Loading...